Beranda / Peristiwa / Wajib Belajar 13 Tahun: 5 Fakta Geger di Kendari

Wajib Belajar 13 Tahun: 5 Fakta Geger di Kendari

Sosialisasi Wajib Belajar 13 Tahun oleh Dikbud Kota Kendari
0 0
Read Time:4 Minute, 10 Second

Beritakotakendari.comWajib Belajar 13 Tahun bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Kendari, suasana pagi ini betul-betul macam rapat akbar darurat pendidikan, aih, lautan manusia! Guru, kepala sekolah, komite, sampai perwakilan orang tua tumplek blek dengar langsung sosialisasi program Wajib Belajar 13 Tahun yang resmi digeber Pemkot Kendari. Tenang ji, kita kupas tuntas semua di TKP, live dari Kota Lulo!

Wajib Belajar 13 Tahun di Kendari: Apa Sebenarnya yang Disosialisasi?

Sobat Kendari, inti sosialisasi ini simpel tapi dampaknya bisa besar sekali, toh. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari menjelaskan bahwa Wajib Belajar 13 Tahun artinya pemerintah kota mendorong anak-anak kita sekolah tuntas mulai dari PAUD/TK, SD, SMP, sampai SMA/SMK sederajat. Bukan cuma 9 tahun lagi, tapi ditarik sampai 13 tahun supaya tidak ada lagi generasi Kota Lulo yang putus sekolah di tengah jalan.

Dalam pemaparan resmi, pejabat Dikbud menjelaskan 5W+1H dengan gaya super formal, tapi di luar ruangan suasananya heboh sekali, Bosku. Beberapa guru bilang, “Berarti kerja tambah banyak mi ini, tapi demi anak-anak kita, gas terus ji.” Sementara perwakilan orang tua sempat bertanya keras, bagaimana dengan biaya, akses sekolah di pinggiran, dan anak yang terlanjur berhenti sekolah. Di sinilah Dikbud menegaskan, Pemkot tidak tinggal diam, akan ada skema bantuan dan pemetaan zona sekolah.

Baca Juga: Program Beasiswa Pemkot Kendari untuk Siswa Berprestasi

Dikbud Kota Kendari Turun Langsung: Situasi Mirip Rapat Darurat Pendidikan

Warga Kota Lulo, suasananya tadi betul-betul seperti rapat krisis, kassian kalau tidak hadir. Kursi sampai ditambah, pendingin ruangan kerja ekstra, dan mikrofon tidak berhenti berbunyi. Pejabat Dikbud Kota Kendari membeberkan data angka putus sekolah, angka partisipasi kasar, serta target 100 persen anak masuk sekolah minimal sampai jenjang SMA/SMK. Alarm bahaya pendidikan seakan dibunyikan nyaring di ruangan itu.

“Kita tidak mau lagi ada anak Kendari yang berhenti sekolah hanya karena ekonomi atau akses. Wajib Belajar 13 Tahun ini jadi pagar kuat untuk masa depan mereka,” kira-kira begitu poin besar yang disampaikan narasumber utama. Aih, kalau dengar begitu, hati orang tua mana yang tidak bergetar, di?

Baca Juga: Update Proyek Revitalisasi Kawasan Pendidikan di Pasar Baru

Dampak Wajib Belajar 13 Tahun untuk Orang Tua dan Sekolah

Buat orang tua, program Wajib Belajar 13 Tahun ini bukan cuma slogan di baliho mi, tapi langsung menyentuh kantong dan jadwal harian. Orang tua diingatkan untuk tidak lagi menganggap SMA/SMK itu pilihan kedua, tapi kewajiban moral dan sosial. Pemerintah kota menekankan akan mengupayakan keringanan biaya, dorongan beasiswa, hingga fasilitasi anak yang sempat berhenti sekolah agar bisa kembali masuk bangku pendidikan.

Bagi sekolah, terutama SMP dan SMA di Mandonga, Poasia, Puuwatu sampai Nambo, bersiap-siap mi. Akan ada penataan zonasi, penambahan ruang kelas bila diperlukan, serta peningkatan kualitas guru. “Kerja tambah berat, tapi mulia ji,” kata seorang kepala sekolah yang kami temui di luar aula, sambil tertawa kecil namun wajahnya serius sekali.

Strategi Dikbud Kendari: Dari Sosialisasi Massal ke Aksi Lapangan

Saudara-saudaraku, sosialisasi hari ini baru permulaan, toh. Dikbud menjelaskan mereka akan turun ke sekolah-sekolah, menyasar langsung orang tua di tingkat RT/RW, hingga menggandeng lurah dan camat. Konsepnya mirip operasi jemput bola: anak yang putus sekolah akan didata, dipanggil kembali, dan dicarikan jalur terbaik untuk lanjut pendidikan. Astaga, ini kalau jalan maksimal, menyala sekali ini program, Bosku!

Selain itu, ada rencana sinergi dengan program keagamaan dan sosial seperti kegiatan di masjid, gereja, dan majelis taklim, supaya informasi Wajib Belajar 13 Tahun ini menyebar sampai ke lorong-lorong sempit di kawasan padat penduduk. Baca Juga: Info Terbaru MTQ dan Peran Remaja Masjid di Kendari

Tantangan di Lapangan: Ekonomi Keluarga dan Akses Sekolah

Meski semangatnya membara, tantangan di lapangan tidak bisa dianggap enteng ji. Beberapa orang tua yang kami wawancarai mengeluhkan soal ongkos transport, seragam, dan buku. “Mau lanjutkan anak pi SMA, tapi ongkos ke sekolah saja sudah berat, kassian,” keluh seorang ibu dari kawasan pinggiran kota. Di sinilah pemerintah diminta benar-benar hadir, bukan sekadar sosialisasi di aula ber-AC.

Dikbud mengakui, ini pekerjaan maraton bukan sprint. Akan ada koordinasi dengan OPD lain, termasuk Dinas Sosial dan Bappeda, supaya program Wajib Belajar 13 Tahun tersambung dengan bantuan sosial dan perencanaan anggaran jangka panjang. Kalau tidak, takutnya cuma heboh di awal pi kemudian redup. Warga sudah tegas bilang, “Kami tunggu realisasinya, bukan kertas janji ji.”

Harapan Warga Kota Lulo: Jangan Cuma Manis di Spanduk

Warga Kota Lulo berharap, sosialisasi yang heboh ini berujung pada perubahan nyata. Animo guru dan kepala sekolah tampak tinggi, orang tua pun mulai paham bahwa 13 tahun sekolah itu investasi masa depan. Tinggal bagaimana Pemkot Kendari mengawal sampai tuntas. “Kalau bisa, generasi Kendari nanti tidak ada lagi buta huruf atau malu daftar kerja karena ijazah mentok di SD, di?” ujar seorang tokoh masyarakat yang hadir.

Di ujung acara, suasana sedikit mengharukan ketika pemateri menayangkan testimoni anak-anak yang terancam putus sekolah. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, tapi juga menyulut semangat. Kalau semua kompak—pemerintah, sekolah, orang tua, dan komunitas—Wajib Belajar 13 Tahun bukan mimpi lagi, tapi kenyataan di setiap lorong Kota Kendari. Mantap djiwa, kita kawal sama-sama mi!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan