Beritakotakendari.com – Tari Lulo bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Lautan manusia tumpah ruah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Papalimba Kendari ketika delegasi dari 14 negara asyik joget lulo bareng warga. Aih, ngeri mi suasananya, suasana senam jantung bercampur haru, kamera menyala di semua sudut, dan sorak-sorai menggema sampai ke pinggir Teluk Kendari!
Warga Kota Lulo! Malam itu RTH Papalimba bukan lagi sekadar taman kota, tapi berubah jadi panggung dunia kecil. Delegasi mancanegara berbaur tanpa sekat, gandeng tangan bikin lingkaran lulo yang panjang sekali, deh, nda ada obatnya! Dari anak kecil sampai opa-oma, semua larut dalam irama khas Sulawesi Tenggara. Inimi yang dibilang diplomasi budaya level internasional, toh.
Tari Lulo di RTH Papalimba: Delegasi 14 Negara Turun Joget
Sobat Kendari, suasana di RTH Papalimba sejak sore sudah terasa beda ji. Petugas keamanan siaga, lampu panggung dipasang warna-warni, dan stan UMKM kuliner lokal mulai mengeluarkan aroma menggoda. Begitu matahari tenggelam, pengunjung makin padat sampai mirip lautan manusia, Kassian yang datang telat, susah cari tempat berdiri nyaman.
Begitu irama Tari Lulo mulai diputar, delegasi 14 negara langsung diarahkan panitia ke tengah lapangan. Awalnya mereka masih canggung mi, tapi begitu instruktur lulo dari panitia kasih contoh gerakan mundur-maju-samping, langsung cair suasananya. Weh, menyala abangku! Sepatu pantofel, sneakers, sampai sandal gunung semua kompak hentak di lantai paving RTH Papalimba.
Perwakilan dari beberapa negara tampak senyum-senyum lebar, ada yang sampai teriak kecil karena kagum lihat warga bisa joget lama tanpa lelah. Wartawan dari berbagai media lokal dan nasional berkumpul di sisi panggung, rebutan sudut terbaik untuk mengabadikan momen langka ini. Tenang saja, aman ji itu acara, pengamanan berlapis dari Satpol PP dan aparat kepolisian mengitari area.
Baca Juga: MTQ Nasional di Kendari dan Gaung Budaya Lulo
Makna Tari Lulo: Bukan Sekadar Joget Biasa, Bosku!
Saudara-saudaraku, banyak delegasi luar negeri tadi malam sempat tanya di lokasi, “Apa makna Tari Lulo sebenarnya?” Di sinimi tugas kita jelaskan, toh. Lulo bukan cuma joget ramai-ramai. Lulo itu simbol kebersamaan, persatuan, dan keterbukaan orang Sulawesi Tenggara menyambut tamu dari mana saja.
Gerakannya sederhana, semua orang bisa ikut, tidak pandang jabatan, warna kulit, ataupun bahasa. Di RTH Papalimba malam itu, pejabat, tamu asing, pelajar, dan pedagang kaki lima, semua menyatu dalam satu lingkaran. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, bangga sekali jadi warga Kendari.
Beberapa delegasi terlihat serius memperhatikan langkah demi langkah, takut salah mi katanya. Tapi instruktur lulo cuma ketawa kecil dan bilang, “Santai ji, ikut alur ritme, kalau salah pun nda apa-apa.” Dan betul, lama-lama gerakannya makin kompak, rapi, bahkan ada yang sudah bisa variasi putar lingkaran tanpa disuruh.
Baca Juga: Denyut Malam di Kawasan Wisata Kendari Bay
Tari Lulo sebagai Ikon Pariwisata Kendari
Astaga, kalau momen seperti ini dimanfaatkan maksimal, pariwisata Kendari bisa melesat kencang, Bosku. Selama acara, panitia juga menyelipkan informasi singkat tentang sejarah dan ragam Tari Lulo, mulai dari lulo tradisional sampai modifikasi kekinian yang sering dibawakan di event besar seperti MTQ, HUT Kota, sampai festival tahunan.
Delegasi asing tampak antusias memotret kostum penari, ornamen dekorasi panggung, dan spanduk bertuliskan slogan-slogan pariwisata. Beberapa bahkan mewawancarai penari lokal, tanya-tanya soal filosofi gerakan dan musik pengiring. Informasi seperti ini biasanya akan mereka bawa pulang, jadi cerita di negara masing-masing. Mantap djiwa kalau nanti Kendari dikenal dunia karena lulo, toh.
Suasana Lapangan: Senam Jantung tapi Tetap Tertib
Warga Kota Lulo, dari sisi keramaian, acara malam itu bisa dibilang situasi senam jantung. Kendaraan mengular di jalan sekitar Papalimba, klakson bersahutan, namun arus tetap diatur. Petugas Dishub mengarahkan pengendara untuk parkir sedikit menjauh dan lanjut jalan kaki menuju lokasi. Macet mi sedikit, tapi demi lihat delegasi 14 negara joget lulo, orang rela ji.
Di dalam area RTH, panitia membagi zona: area VVIP dekat panggung, area umum di tengah lapangan, dan area UMKM di sisi luar. Lapak-lapak jualan sinonggi, sate pokea, es pisang ijo, dan kopi lokal Kendari laris manis. Udara malam bercampur aroma makanan, suara musik, dan teriakan gembira. Anak-anak kecil berlarian sambil menirukan gerakan lulo, Kassian ada juga yang tersandung karena terlalu semangat.
Baca Juga: Revitalisasi Pasar Baru Kendari dan Dampaknya ke UMKM
Respons Pemkot Kendari: Budaya Lokal Naik Kelas
Pihak Pemerintah Kota Kendari yang hadir di lokasi menyampaikan harapan besar agar momen ini tidak berhenti sebagai tontonan sesaat. Menurut mereka, Tari Lulo harus dipaketkan secara serius dalam agenda wisata resmi kota. Bukan cuma dinikmati saat event internasional saja, tapi juga jadi atraksi rutin buat wisatawan yang datang ke Kendari.
Beberapa pejabat tampak berbincang santai di sisi panggung, membahas kemungkinan penambahan fasilitas di RTH Papalimba, seperti area khusus pertunjukan budaya dan penerangan yang lebih artistik. “Tunggu pi, kita akan kemas lagi lebih baik, supaya setiap tamu yang datang ke Kendari bisa punya pengalaman joget lulo yang berkesan,” begitu kira-kira garis besar pembicaraan yang terdengar di lapangan.
Mata Dunia Menoleh: Dari Kendari untuk Mancanegara
Sobat Kendari, jangan remehkan mi momen seperti ini. Dokumentasi foto dan video dari acara Tari Lulo bersama delegasi 14 negara malam itu sudah beredar di media sosial dan grup-grup WhatsApp. Setiap unggahan yang menandai “Kendari” dan “Sulawesi Tenggara” adalah promosi gratis ke luar sana.
Kalau terus dijaga konsistensi dan kualitas acaranya, bukan mustahil Kendari jadi tujuan wajib untuk wisata budaya. Tinggal dipoles sedikit soal akses, jadwal event, dan promosi lintas negara. Yang jelas, malam di RTH Papalimba itu sudah membuktikan: lulo bukan sekadar tarian, tapi bahasa universal yang bisa dipahami semua bangsa.
Aih, warga Kota Lulo, bangga toh kita? Dari tanah sendiri, budaya sendiri, bisa bikin tamu dari 14 negara tertawa, berkeringat, dan jatuh cinta. Tinggal kita jaga pi, rawat pi, dan kembangkan pi, supaya generasi berikutnya masih bisa bilang dengan dada tegak: “Inimi Tari Lulo, tarian kebanggaan Kendari yang mendunia.”






Average Rating