Beranda / Peristiwa / Tradisi Masiara: 5 Fakta Geger Silaturahmi Lebaran

Tradisi Masiara: 5 Fakta Geger Silaturahmi Lebaran

Suasana Tradisi Masiara Lebaran di Kendari dengan warga bersilaturahmi
0 0
Read Time:4 Minute, 25 Second

Beritakotakendari.comTradisi Masiara bikin geger rindu Lebaran satu Kota Kendari, Bosku! Dari lorong-lorong Pohara sampai pesisir Teluk Kendari, Warga Kota Lulo berbondong-bondong keliling rumah keluarga, tetangga, sampai imam kampung untuk saling maaf-maafan. Suasana ini, aih, betul-betul lautan manusia yang sopan, rapi, tapi heboh ji nuansanya, seolah seluruh kota berubah jadi panggung silaturahmi akbar setiap Hari Raya Idulfitri.

Tradisi Masiara di Kendari: Silaturahmi Lebaran yang Bikin Haru

Sobat Kendari, di sini istilahnya bukan sekadar “bertamu” biasa. Orang Kendari bilangnya masiara, yaitu tradisi keliling rumah keluarga, kerabat, tetangga, bahkan tokoh masyarakat seusai salat Id. Astaga, kalau sudah H+1 Lebaran, jalan-jalan lingkungan itu seperti karnaval mini, mi. Anak-anak pakai baju baru menyala, orang tua rapi dengan pakaian terbaik, bau opor, kapparia, sampai ketupat menyerbu hidung kiri kanan.

Secara budaya, masiara ini bukan hanya formalitas. Di sinilah momen face to face Warga Kota Lulo saling menundukkan kepala, salaman, minta maaf, dan merajut ulang hubungan yang mungkin tahun-tahun kemarin sempat renggang. Aih, ngeri, kekuatan sosialnya. Sekali keliling kompleks, bisa putus satu daftar musuh lama, toh.

Biasanya urutan kunjungan cukup teratur: dimulai dari orang tua kandung, mertua, keluarga yang dituakan, lalu tetangga dekat, baru pi ke sahabat atau rekan kerja. Di sebagian wilayah pesisir dan kampung-kampung tua, rumah tokoh agama dan pemuka adat juga jadi tujuan wajib. Mantap djiwa, karena ini bukan hanya kunjungan, tapi penghormatan sosial.

Untuk Sobat Kendari yang tertarik sisi budayanya, tradisi ini sering disandingkan dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti pawai takbir dan zikir akbar. Baca Juga: Info MTQ dan Syiar Islam di Kota Kendari yang setiap tahun makin semarak, menyatu dengan atmosfer Lebaran yang penuh haru.

Tradisi Masiara Kendari: Dari Salam, Maaf, sampai Amplop Lebaran

Warga Kota Lulo!, detail teknisnya juga seru ji. Begitu tamu datang, tuan rumah menyambut di teras atau ruang tamu, jabat tangan sambil saling ucap “minal aidin wal faizin”. Banyak juga yang masih mempertahankan adat lokal: anak muda mencium tangan orang tua, menunduk sopan, dan kadang dipeluk erat sambil menetes air mata. Aih, kalau lihat langsung, senam jantung mi, haru bercampur bahagia.

Setelah itu barulah sesi “santap ringan” dimulai: kue-kue kering, bagea, wajik, sampai berbagai menu khas Sulawesi Tenggara. Di sebagian keluarga, masiara juga identik dengan tradisi berbagi rezeki: amplop Lebaran untuk anak-anak dan keponakan. Walau nilainya kadang tidak seberapa, simbolnya itu loh, deh, nda ada obatnya: kebersamaan dan kepedulian.

Menariknya, meski zaman sudah serba digital, tradisi masiara tidak tergantikan oleh pesan WhatsApp minta maaf. Orang Kendari percaya, kalau mau hubungan itu kuat, harus tatap muka langsung, baru pi bilang maaf. Di?, setuju toh? Banyak orang merelakan waktu berjam-jam keliling, bahkan berhari-hari, demi menuntaskan daftar kunjungan.

Dari sisi pergerakan kota, arus lalu lintas di hari Lebaran biasanya padat di kawasan pemukiman dan titik-titik strategis seperti seputaran Pasar Baru, Anduonohu, dan Mandonga. Baca Juga: Suasana Lebaran di Pasar Baru Kendari yang selalu penuh warga berburu oleh-oleh dan kebutuhan dapur sebelum dan sesudah hari H.

Atmosfer Tradisi Masiara: Lautan Warga Kota Lulo di Lorong-lorong

Bayangkan, Bosku: pagi hari seusai salat Id di lapangan atau masjid-masjid besar, warga menyebar kayak formasi pasukan silaturahmi. Di lorong-lorong sempit, antrean salam-salaman bisa mengular sampai teras rumah tetangga. Anak-anak berlari, sesekali teriak girang saat dapat amplop, sementara para ibu sibuk isi ulang teko sirup dan piring kue. Weh, menyala abangku suasananya!

Di kawasan pesisir Teluk Kendari, beberapa keluarga bahkan menjadikan momen masiara sebagai reuni akbar. Saudara dari luar daerah, dari Konawe, Kolaka, sampai Bau-Bau, biasanya pulang kampung dan berkumpul di rumah orang tua. Tradisi Masiara menjelma jadi jembatan perantauan: meski setahun sekali, ikatan keluarga terasa rapat kembali.

Tidak ketinggalan, peran RT/RW dan pemerintah kelurahan juga mulai inovatif. Ada yang menggabungkan masiara dengan halal bi halal tingkat lingkungan. Warga dikumpulkan di balai pertemuan atau lapangan kecil, lalu salam-salaman massal, diikuti doa bersama. Baca Juga: Program Silaturahmi Pemkot Kendari di Momen Lebaran yang sering menggandeng tokoh agama dan tokoh pemuda untuk memperkuat persatuan.

Tantangan Modern: Masiara di Era Waktu Sempit dan Kota Makin Sibuk

Saudara-saudaraku, di tengah kota yang makin sibuk, tradisi Masiara juga menghadapi tantangan. Banyak pekerja yang cutinya pendek, anak muda yang merantau, sampai jadwal mudik yang tidak selamanya pas dengan hari Lebaran. Tapi, warga Kendari pintar menyiasati: kalau tidak sempat di hari pertama, hari kedua atau ketiga Lebaran masih ramai ji kunjungan. Yang penting niat silaturahmi tidak putus.

Beberapa keluarga kini juga mulai memadukan masiara fisik dan digital. Video call ke kerabat di luar negeri, lalu begitu mereka pulang kampung di tahun berikutnya, sesi masiara dilanjutkan secara langsung. Jadi, tradisi ini fleksibel, tapi ruhnya tetap sama: saling maaf, saling rangkul, dan saling menguatkan.

Dari perspektif sosial, penguatan tradisi Masiara ini penting untuk kota yang terus berkembang seperti Kendari. Di tengah pembangunan infrastruktur, hadirnya pusat-pusat ekonomi baru, sampai geliat wisata religi dan budaya, masiara menjadi jangkar nilai yang menjaga warga tetap dekat, tidak tercerai-berai oleh kesibukan modern. Kassian kalau sampai tradisi seperti ini hilang; hilang satu, bisa retak banyak hubungan keluarga, toh.

Penutupnya, Sobat Kendari, selama masih ada suara tawa di ruang tamu, salam-salaman di teras rumah, dan kata maaf yang diucap dengan mata berkaca-kaca, Tradisi Masiara akan tetap hidup di jantung Kota Lulo. Tinggal kita jaga sama-sama, ajarkan ke anak cucu, dan rayakan tiap Lebaran dengan bangga. Mantap djiwa!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan