Beritakotakendari.com – Profil Abdul Wahid bikin geger haru satu Kota Kendari mi, Bosku! Di tengah udara panas Kendari siang ini, reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara lagi berdiri di depan salah satu lembaga pendidikan tempat almarhum Abdul Wahid dulu mengajar, meliput langsung kisah totalitas seorang pendidik yang mendedikasikan diri sampai akhir hayat. Aih, suasana di sini campur-aduk: sedih, bangga, sekaligus membuat kita berpikir ulang soal arti pengabdian ji.
Profil Abdul Wahid: Pendidik Totalitas hingga Akhir Hayat
Sobat Kendari, dari penelusuran di lapangan dan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, sosok dalam Profil Abdul Wahid ini dikenal sebagai guru sekaligus penggerak pendidikan yang tidak setengah hati. Sejak muda, ia menapaki dunia pendidikan dengan idealisme yang menyala, weh menyala abangku, bukan main! Bukan hanya mengajar di kelas, tapi ikut membina, mendampingi, dan bahkan mengarahkan masa depan murid-muridnya sampai mereka sukses pi.
Beberapa rekan sejawat yang ditemui di sekitar lokasi mengaku, Abdul Wahid adalah tipe guru yang selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir. “Beliau itu kalau soal murid, tidak pernah hitung-hitungan waktu toh,” ujar salah satu guru senior yang matanya berkaca-kaca. Kassian, tapi sekaligus membanggakan ji, karena di tengah banyak tantangan dunia pendidikan, masih ada figur seperti ini.
Di lorong-lorong kelas yang sekarang terasa sepi, cerita tentang almarhum terus menggaung. Murid-muridnya mengenang dia sebagai sosok tegas tapi lembut, disiplin tapi penuh humor khas guru-guru zaman dulu. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, warga Kota Lulo. Pengabdian seperti ini bukan datang tiap hari, toh.
Dedikasi Abdul Wahid untuk Pendidikan di Kendari
Warga Kota Lulo!, kalau bicara dedikasi dalam Profil Abdul Wahid, itu sudah level senam jantung punya, karena konsistensinya luar biasa. Ia tidak hanya fokus mengajar, tapi juga ikut mendorong peningkatan kualitas pendidikan di lingkup sekolah dan komunitas. Mulai dari menginisiasi kegiatan belajar tambahan, membina kelompok belajar, sampai aktif memberi motivasi kepada orang tua agar lebih peduli pendidikan anak.
Di sebuah ruangan guru yang kini penuh karangan bunga duka, terdapat tumpukan buku dan catatan yang dahulu sering digunakan almarhum merancang materi belajar. Dari hasil pantauan, isi catatan-catatan itu bukan sekadar rencana pelajaran standar, tapi dipenuhi sketsa ide, metode kreatif, hingga kutipan motivasi untuk murid. Deh, nda ada obatnya semangat begini. “Beliau selalu bilang, pendidikan itu bukan cuma soal nilai di rapor, tapi soal menempa karakter,” cerita seorang mantan murid yang kini sudah jadi pegawai Pemkot.
Untuk menambah konteks, kebijakan pendidikan di Kendari sendiri lagi giat-giatnya mendorong kualitas guru dan sarana belajar. Baca Juga: Program Pendidikan Terbaru Pemkot Kendari yang lagi ramai dibahas di kantor-kantor lurah dan kecamatan. Dalam arus perubahan ini, figur seperti Abdul Wahid menjadi contoh nyata bahwa kebijakan butuh ji “roh” pengabdian di lapangan.
Suasana Haru di Lingkungan Sekolah
Sobat Kendari yang lagi lewat sekitar lokasi, suasananya hari ini betul-betul lautan manusia, mirip momen besar keagamaan. Guru, murid, alumni, sampai warga sekitar berdatangan, menyampaikan doa terakhir untuk sang pendidik. Banyak yang bercerita, mereka tidak akan pernah lupa dengan wejangan almarhum tentang pentingnya kejujuran dan kerja keras.
“Kalau kami malas, Pak Wahid bilang, hidup itu bukan hanya soal sekarang, tapi bagaimana nanti kita berdiri di tengah masyarakat,” kenang salah satu alumni yang kini berwirausaha di kawasan Pasar Baru. Baca Juga: Aktivitas Ekonomi di Pasar Baru Kendari yang juga sering jadi tempat murid-murid dulu latihan berhitung dan praktek langsung, cerita mereka sambil tersenyum tipis.
Astaga, mendengar kisah-kisah kecil seperti ini, terasa sekali bahwa pengabdian Abdul Wahid tidak berhenti di papan tulis, tapi meresap ke kehidupan sehari-hari murid-muridnya. Inilah yang bikin suasana haru bercampur bangga. Tenang saja, aman ji itu rasa bangga, karena wajar kita menempatkan beliau sebagai teladan.
Nilai-Nilai Hidup dari Profil Abdul Wahid yang Wajib Diteladani
Warga Kota Lulo, kalau kita bedah Profil Abdul Wahid sedikit lebih dalam, ada beberapa nilai hidup yang patut kita jaga: ketulusan, konsistensi, dan keikhlasan. Di tengah banyak tantangan, tidak mudah toh, untuk terus berdiri sebagai guru yang jadi panutan? Tapi Abdul Wahid membuktikan bahwa ketika niatnya lurus demi pendidikan, lelah dan penat bisa berubah jadi ladang pahala.
Beberapa murid bahkan bercerita, ketika mereka kesulitan biaya, almarhum sering membantu sekuat kemampuan, entah dengan mencarikan beasiswa, menghubungkan dengan donatur, atau sekadar membelikan buku. “Beliau selalu bilang: jangan berhenti sekolah cuma karena uang,” kata seorang alumni yang kini kuliah di luar daerah. Aih, ini baru ji namanya guru sejati.
Dalam konteks lebih luas, perjuangan seorang guru seperti ini sejalan dengan semangat peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Tenggara. Baca Juga: Agenda MTQ dan Kegiatan Keagamaan Pelajar di Kendari yang kerap melahirkan bibit-bibit muda berprestasi. Banyak di antara mereka yang pondasi karakternya ditempa oleh guru-guru sekelas Abdul Wahid.
Pendidikan Kendari ke Depan: PR Besar Setelah Kepergian Sang Pendidik
Saudara-saudaraku, pertanyaan besar sekarang: setelah tokoh seperti Abdul Wahid berpulang, apa langkah kita selanjutnya? Tidak cukup ji hanya berduka. Harus ada gerakan nyata untuk meneruskan jejak pengabdian ini. Baik pemerintah, sekolah, maupun masyarakat perlu duduk sama-sama, memikirkan bagaimana memastikan semangat seperti ini tidak padam.
Di sela-sela peliputan, terdengar wacana dari beberapa tokoh pendidikan untuk mengabadikan nama almarhum sebagai nama program beasiswa atau ruang belajar. Inisiatif seperti ini bisa jadi pemicu semangat guru-guru muda yang baru mulai mengajar. Tunggu pi, kalau kebijakan resmi sudah keluar, pasti kita kabarkan lagi ke Warga Kota Lulo dengan format paling heboh se-Sultra mi.
Pada akhirnya, Profil Abdul Wahid bukan sekadar cerita tentang satu orang guru, tapi refleksi tentang bagaimana seharusnya pendidikan di Kendari dibangun: dengan hati, dengan komitmen, dan dengan keberanian untuk tetap tulus di tengah segala keterbatasan. Mantap djiwa kalau nilai-nilai ini bisa kita hidupkan terus, toh? Dari ruang kelas kecil di sudut kota ini, lahir harapan besar untuk masa depan Kendari yang lebih cerdas dan berkarakter.






Average Rating