Beritakotakendari.com – Napi korupsi Kendari bikin geger satu Kota Lulo, Bosku! Seorang narapidana kasus korupsi yang seharusnya menghuni lembaga pemasyarakatan, malah terekam asyik nongkrong di sebuah coffee shop di Kota Kendari. Videonya viral di media sosial, dan dalam hitungan jam, Menteri Hukum dan HAM langsung periksa jajarannya. Aih, situasi senam jantung mi ini, warga sampai bertanya-tanya: kok bisa lolos toh?
Napi Korupsi Kendari Nongkrong di Coffee Shop, Kok Bisa?
Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara hadir langsung di sekitar kawasan pusat kota, tak jauh dari lokasi coffee shop yang diduga jadi tempat nongkrong si napi korupsi Kendari. Warga yang ditemui di lokasi mengaku kaget bercampur geram. “Astaga, enak sekali hidupnya, kita ini bebas di luar susah cari makan, dia yang korupsi malah ngopi-ngopi,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.
Dari informasi yang beredar, narapidana tersebut merupakan terpidana kasus korupsi yang semestinya menjalani hukuman di lapas. Namun dalam video yang viral, terlihat dia duduk santai, menyeruput kopi, sambil berbincang dengan beberapa orang di dalam coffee shop ber-AC. Weh, menyala abangku, gaya pejabat masih terbawa ji di luar, kassian masyarakat yang dirugikan dana publiknya.
Pihak Kementerian Hukum dan HAM melalui Menteri terkait langsung merespons. Belum lama video itu naik di media sosial, perintah pemeriksaan internal pun dikeluarkan. Jajaran lapas dan Kanwil Kemenkumham Sultra dikabarkan diminta klarifikasi detail: siapa yang memberikan izin keluar, dasar hukumnya apa, dan apakah ini termasuk pelanggaran berat dalam tata tertib pemasyarakatan. Aih, alarm bahaya berbunyi nyaring mi di jajaran pemasyarakatan.
Baca Juga: Tegangan Politik di Pemkot Kendari Soal Pengawasan ASN
Respons Menteri Soal Napi Korupsi Kendari yang Viral
Berdasarkan pemberitaan nasional yang dihimpun redaksi, Menteri Hukum dan HAM langsung memerintahkan investigasi menyeluruh. Situasinya, bukan main-main ji: ini sudah menyangkut kredibilitas sistem pemasyarakatan secara nasional. Menteri menegaskan, jika terbukti ada kelalaian atau permainan oknum petugas, sanksi tegas menanti. “Tidak ada toleransi bagi penyalahgunaan wewenang,” kurang lebih begitu garis besar pernyataannya.
Di Kendari sendiri, pengamat hukum dan aktivis antikorupsi mulai angkat bicara. Mereka menilai, kasus napi korupsi Kendari yang nongkrong di coffee shop ini adalah cermin betapa masih longgarnya pengawasan. “Ini bukan pertama kali kasus napi berkeliaran, tapi karena terekam jelas dan viral, baru geger. Harus ada pembenahan sistem, bukan cuma cari kambing hitam,” kata salah satu aktivis yang ditemui di kawasan MTQ Kendari. Baca Juga: Agenda Terbaru di Kawasan MTQ Kendari
Warga Kota Lulo banyak yang mengeluh di media sosial: “Kalau kita rakyat biasa terlambat bayar pajak sedikit saja, langsung dapat surat cinta. Tapi napi korupsi bisa nongkrong, bagaimana ini, Bosku?” Komentar-komentar tajam seperti itu membanjiri lini masa. Deh, nda ada obatnya, netizen Kendari kalau sudah geram.
Kronologi Singkat: Dari Coffee Shop ke Meja Pemeriksaan
Berikut gambaran kronologi berdasarkan penelusuran lapangan dan rangkuman pemberitaan nasional:
- Pertama, beredar video di media sosial menampilkan seorang pria yang disebut sebagai napi korupsi sedang duduk di coffee shop di Kota Kendari.
- Kedua, warganet mulai membandingkan wajah pria di video dengan foto-foto terpidana korupsi yang pernah diberitakan. Mirip, kata mereka. Dari situlah kegaduhan mulai muncul.
- Ketiga, media nasional mengangkat video itu, membuat kasusnya bukan lagi gosip lokal, tapi jadi sorotan se-Indonesia.
- Keempat, Menteri turun tangan, memerintahkan pemeriksaan terhadap jajaran lapas dan kantor wilayah terkait.
- Kelima, tim internal mulai mengumpulkan data: izin keluar, rekam administrasi, dan kemungkinan adanya pelanggaran prosedur.
Situasi di internal lapas sendiri disebut sedang “panas dingin”. Ada yang mengaku hanya menjalankan perintah, ada juga yang bilang bahwa napi tersebut mungkin saja sedang menjalani program pembinaan luar. Tapi publik bertanya: pembinaan luar atau wisata kopi? Kalau pembinaan, kenapa di coffee shop umum, bukan di lokasi resmi? Nah, di situ mi masalahnya, Bosku.
Dampak Kasus Napi Korupsi Kendari bagi Kepercayaan Publik
Kassian, kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di daerah ini lagi-lagi diuji. Warga sudah lama sensitif kalau bicara soal korupsi. Di Sulawesi Tenggara, beberapa kasus besar pernah mengguncang, mulai dari proyek infrastruktur sampai pengelolaan sumber daya alam. Ketika muncul lagi kabar napi korupsi Kendari bisa santai ngopi, rasa keadilan masyarakat seolah diacak-acak mi.
Pedagang di Pasar Baru Kendari yang ditemui reporter mengeluh, “Kita ini bayar retribusi, listrik mahal, bahan pokok naik. Begitu dengar koruptor bisa nongkrong di coffee shop, rasa-rasanya, hukum ini cuma keras ke orang kecil ji.” Suara-suara seperti ini bukan sekadar keluhan, tapi sinyal keras bahwa sistem hukum harus dibenahi. Baca Juga: Kondisi Terkini Pedagang di Pasar Baru Kendari
Jika penanganan kasus ini tidak transparan, risiko besarnya adalah apatisme. Warga bisa bilang, “Ah, begitu-begitu ji, nda berubah.” Itu berbahaya, karena kepercayaan ke institusi hukum itu pondasi ketertiban. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, sampai tokoh masyarakat harus peka. Jangan tunggu pi suasana makin panas baru gerak.
Langkah Perbaikan: Jangan Cuma Marah, Tapi Benahi Sistem
Sobat Kendari, marah boleh, tapi kita juga perlu dorong solusi. Beberapa langkah yang digarisbawahi para pakar dan aktivis antara lain:
- Audit menyeluruh terhadap pola perizinan keluar-masuk napi di semua lapas, bukan hanya lapas tempat napi korupsi ini ditempatkan.
- Pemasangan dan integrasi CCTV dan sistem digital yang bisa dipantau pusat, sehingga potensi kecurangan berkurang.
- Publikasi berkala soal status napi kasus korupsi: siapa yang dapat remisi, cuti, atau program pembinaan luar, supaya tidak lagi jadi misteri.
- Penguatan perlindungan bagi whistleblower internal, karena sering kali informasi pelanggaran justru datang dari petugas jujur di bawah.
Weh, kalau langkah-langkah ini dijalankan serius, baru mantap djiwa. Kalau cuma marah di awal, lalu reda begitu saja, kasus seperti napi korupsi Kendari nongkrong di coffee shop bisa terulang lagi. Warga Kota Lulo sudah capek jadi penonton drama hukum yang tokohnya itu-itu ji.
Untuk saat ini, kita tunggu pi hasil resmi pemeriksaan internal dari Kemenkumham dan klarifikasi detail dari lapas yang bersangkutan. Media dan masyarakat sipil wajib kawal, supaya kasus ini tidak tenggelam di tengah isu-isu lain. Tetap waspada, tetap kritis, tapi juga tetap santun, toh. Astaga, semoga kali ini benar-benar jadi titik balik pembenahan sistem pemasyarakatan, bukan sekadar geger musiman.





Average Rating