Beritakotakendari.com – Hari Bumi bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari kawasan Kabupaten Konawe, tepatnya di lokasi aksi penanaman, tim liputan kami berdiri di tengah lumpur dan terik matahari, menyaksikan langsung lautan mahasiswa yang kompak menanam 3.000 pohon. Aih, ngeri, suasana hijau-hijau begini bikin hati adem mi, sobat Kendari!
Warga Kota Lulo, ini bukan kegiatan biasa-biasa ji. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fhil UHO turun full team, bawa bibit, bawa sekop, bawa semangat, seolah-olah mereka mau “restart” paru-paru Bumi di Hari Bumi ini. Dari kejauhan terdengar yel-yel kampus, di dekat telinga suara cangkul menghantam tanah, dan aroma tanah basah bercampur keringat perjuangan. Mantap djiwa toh!
Hari Bumi dan Aksi Tanam 3.000 Pohon BEM Fhil UHO
Saudara-saudaraku, berdasarkan pantauan langsung di lokasi, panitia menyebutkan ada sekitar 3.000 bibit pohon yang disiapkan: mulai jenis tanaman keras, pohon peneduh, sampai tanaman buah untuk jangka panjang. Semua ditanam berbaris rapi di lahan yang selama ini cenderung gersang. Kalau lihat sebelum dan sesudahnya, beda sekali mi, seperti dua dunia!
Perayaan Hari Bumi ini sengaja dipusatkan di Konawe karena daerah ini jadi salah satu titik penting penyangga lingkungan di sekitar Kota Kendari. Seorang panitia jelaskan ke kami, mereka ingin kirim pesan keras: pembangunan boleh jalan, tapi ruang hijau jangan dihabiskan ji. Di lokasi, tampak juga beberapa perwakilan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat yang ikut menanam, meski sepatu mereka penuh lumpur, tetap senyum lebar. Astaga, semangat kolektif begini memang susah dicari di tempat lain, Bosku!
Baca juga aksi lingkungan lain dan program kota hijau di Kendari: Baca Juga: Program Ruang Terbuka Hijau Pemkot Kendari. Untuk kegiatan budaya yang juga meriah tak kalah heboh dengan Hari Bumi, nantikan juga info lengkapnya di kanal kami: Baca Juga: Jadwal MTQ Tingkat Kota Kendari.
3 Fakta Penting Aksi Hari Bumi di Konawe
Aih, supaya Warga Kota Lulo tidak ketinggalan update, berikut tiga poin paling panas dari lapangan yang kami rangkum langsung di lokasi:
1. Skala Penanaman: 3.000 Pohon, Lautan Bibit Menyala
Weh, menyala abangku! Di hamparan lahan yang memanjang, deretan polybag dan lubang tanam sudah disiapkan rapi sebelum acara dimulai. Saat komando diberikan, ratusan mahasiswa serentak bergerak. Dalam hitungan jam, ribuan bibit itu sudah masuk tanah. Situasi betul-betul seperti “operasi kilat hijau”.
Seorang mahasiswa yang kami wawancarai sambil tangannya masih kotor bilang begini, “Ini Hari Bumi mi, kak. Kalau bukan sekarang kita tanam, kapan lagi toh?” Kalimat sederhana tapi menampar, sobat Kendari. Di tengah isu krisis iklim, gerakan seperti ini bukan cuma simbolis ji, tapi investasi masa depan.
2. Keterlibatan Mahasiswa dan Masyarakat Lokal
Dari pantauan kami, bukan anak kampus saja yang turun. Ada juga warga sekitar yang bantu menunjukkan kondisi tanah, arah aliran air, sampai pengalaman mereka menghadapi banjir dan longsor. Kolaborasi ini bikin penanaman pohon di momen Hari Bumi terasa lebih hidup, bukan sekadar acara seremonial untuk foto-foto pi.
Beberapa ibu-ibu bahkan tampak membawakan air minum dan makanan ringan. “Kasian anak-anak ini, panas sekali, tapi semangatnya tinggi mi,” ujar salah satu warga. Di situ terasa betul nuansa kekeluargaan khas Sulawesi Tenggara, hangat tapi tetap heboh.
3. Pesan Lingkungan untuk Kendari dan Konawe
Pesan yang disuarakan BEM Fhil UHO jelas: jangan main-main dengan krisis lingkungan. Mereka menyinggung soal alih fungsi lahan, tambang, sampai sampah plastik. “Jangan tunggu banjir besar pi baru panik,” kata salah satu orator di atas mobil komando, suaranya menggema di tengah kebun bibit itu.
Dalam orasi lain, mereka mengingatkan bahwa Kota Kendari sebagai ibu kota provinsi juga punya kewajiban moral memberi contoh. Bukan cuma bangga kalau ada event besar atau festival ji, tapi juga ketika ada langkah konkret seperti penanaman pohon lintas wilayah. Untuk kebijakan resminya, kita tunggu pi langkah lanjutan dari pemerintah daerah: Baca Juga: Kebijakan Terbaru Pemkot Kendari Soal Lingkungan.
Dampak Jangka Panjang Aksi Hari Bumi di Konawe
Warga Kota Lulo, kalau 3.000 pohon ini semua tumbuh subur, efeknya bisa terasa sampai ke anak cucu. Pohon akan membantu menahan erosi, menjaga kualitas air tanah, hingga menurunkan suhu mikro di sekitar lokasi. Di tengah cuaca yang makin panas, upaya kecil-kecil begini itu ibarat kipas angin gratis alam semesta, toh.
Tentu, tantangan berikutnya adalah perawatan. Tanam mi sekarang, tapi kalau tidak dirawat ji, bisa mati sia-sia. Panitia menyebut sudah ada komitmen bersama dengan warga lokal dan perangkat desa untuk menjaga dan memantau pertumbuhan bibit-bibit tersebut. Di sinilah pentingnya sinergi kampus–masyarakat, bukan datang tanam lalu hilang pi begitu saja.
Penutup: Hari Bumi Bukan Seremoni, Tapi Alarm Bahaya
Astaga, kalau lihat kondisi iklim akhir-akhir ini, aksi Hari Bumi di Konawe ini sebenarnya alarm bahaya yang bunyinya sudah nyaring sekali. BEM Fhil UHO memilih menjawab dengan tindakan konkret: turun ke tanah, kotor-kotoran, dan menanam ribuan pohon. Itu pesan keras untuk kita semua di Kendari dan sekitarnya.
Sobat Kendari, jangan tunggu pi ada bencana besar baru sadar. Mulai dari hal kecil: kurangi sampah plastik, jaga pohon di sekitar rumah, dan dukung gerakan-gerakan hijau seperti ini. Deh, nda ada obatnya kalau semangat anak muda dan kepedulian lingkungan bisa menyatu terus begini. Dari Konawe, dari momen Hari Bumi, kita kirim pesan ke seluruh Sulawesi Tenggara: Bumi ini rumah kita bersama, jaga baik-baik mi, saudara-saudaraku!






Average Rating