Beranda / Peristiwa / Banjir Kendari: 5 Fakta Mencekam yang Wajib Tahu

Banjir Kendari: 5 Fakta Mencekam yang Wajib Tahu

Suasana banjir Kendari dengan warga melintasi genangan air
0 0
Read Time:4 Minute, 46 Second

Beritakotakendari.comBanjir Kendari bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari Mandonga sampai ke kawasan pesisir, air datang bagai lautan kecil, mengubah jalan raya jadi sungai dadakan. Warga Kota Lulo berhamburan, ada yang panik, ada yang pasrah, tapi semua satu suara: “Astaga, banjir lagi mi di Kendari, toh!” Inilah perjalanan banjir yang pelan-pelan naik level dari genangan sebetis jadi ancaman senam jantung.

Chronology Banjir Kendari: Dari Hujan Deras ke Genangan Mengerikan

Sejak pagi buta, langit Kendari sudah kelabu tebal. Hujan turun deras, konsisten, tidak mau kompromi. Di awal, warga kira hujan biasa ji, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi dua jam lewat, debit air sungai mulai naik, got-got di kawasan Mandonga, Anduonohu, sampai Wuawua mulai meluap. Mobil-mobil melambat, sepeda motor sudah banyak yang mogok. Aih, ngeri! Situasi di beberapa titik sudah mirip kolam renang darurat.

Reporter lapangan Beritakotakendari.com yang berada di sekitaran perbatasan Mandonga–Kendari Barat melaporkan, air mengalir deras dari badan jalan menuju permukiman warga. Rumah-rumah semi permanen paling dulu kena. “Baru jam 10 lewat sedikit, air sudah masuk mi di ruang tamu,” kata seorang ibu rumah tangga yang terlihat sibuk menyelamatkan barang elektronik di atas meja. Baca Juga: Update Drainase di Mandonga.

Di beberapa titik rendah dekat kawasan pesisir, air bercampur lumpur dan sampah. Kantong plastik, kayu, bahkan potongan papan terombang-ambing di atas genangan. Weh, menyala abangku, ini banjir bukan main-main ji. Sirene mobil patroli dan BPBD mulai terdengar, menandakan status siaga bukan wacana lagi, tapi realita di depan mata.

Dampak Banjir Kendari: Jalan Lumpuh dan Warga Mengungsi

Bukan cuma rumah yang jadi korban, Bosku. Banjir Kendari kali ini juga melumpuhkan akses jalan vital. Di beberapa ruas menuju pusat perdagangan dan central business district Kendari, antrean kendaraan mengular, mirip lautan besi yang tidak bergerak. Macet mi lagi di dekat Pasar Baru, kendaraan saling serobot, pengendara saling klakson, suasana makin tegang.

Di wilayah yang lebih parah terdampak, tampak warga mengungsi sementara ke rumah keluarga atau musala terdekat. Anak-anak digendong, lansia dipapah, barang bawaan seadanya dimasukkan ke karung dan koper tua. Kassian, ada yang hanya sempat menyelamatkan dokumen penting dan pakaian satu tas. “Tunggu pi surut, baru kita bersih-bersih lagi,” ujar seorang bapak muda sambil mengelus kepala anaknya. Baca Juga: Rencana Relokasi Pemukiman oleh Pemkot Kendari.

Pedagang di kawasan Pasar Baru pun tidak luput dari imbas. Lapak sayur-mayur banyak yang terendam setinggi mata kaki hingga lutut. Harga beberapa komoditas diprediksi melonjak jika banjir ini berlanjut berhari-hari. Aktivitas jual beli pun tersendat, sebagian memilih tutup lebih awal. “Daripada rugi dua kali, barang basah, kita juga terjebak, lebih baik pulang mi dulu,” kata seorang pedagang ikan.

Penyebab Banjir Kendari: Kombinasi Alam dan Ulah Manusia

Sobat Kendari, kalau ditanya kenapa Banjir Kendari makin sering mampir, jawabannya bukan satu faktor ji. Pertama, intensitas hujan belakangan ini memang ekstrem. Curah hujan tinggi dalam waktu singkat bikin sungai dan drainase tidak sempat lagi menyalurkan air. Kedua, persoalan klasik: saluran air yang tersumbat sampah dan sedimentasi.

Di beberapa titik pantauan, jelas terlihat mulut drainase penuh plastik dan endapan tanah. Air yang harusnya mengalir lancar, malah memantul balik ke jalan raya dan permukiman. Astaga, ini seperti alarm bahaya yang berulang-ulang dibunyikan tapi jarang didengar. Ditambah lagi alih fungsi lahan dan pembangunan yang menggerus daerah resapan air. Beton di mana-mana, tanah terbuka makin sedikit. Akhirnya, air hujan tidak punya tempat resap, lari semua ke permukaan dan menggenang.

Pemerhati lingkungan di Kendari sudah lama mengingatkan kondisi ini. Mereka menegaskan, kalau tata ruang dan sistem drainase tidak dibenahi, kita siap-siap ji hadapi banjir musiman tiap tahun. Baca Juga: Kebijakan Ruang Terbuka Hijau di Kendari. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, Sobat Kota Lulo.

Respons Pemkot dan Warga Hadapi Banjir Kendari

Saudara-saudaraku, di tengah situasi yang bikin senam jantung begini, Pemkot Kendari dan instansi terkait mulai bergerak. Tim dari BPBD, Dinas PU, dan aparat kelurahan turun memantau titik-titik paling kritis. Beberapa pompa air darurat dioperasikan, sementara alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang tertutup lumpur dan material.

Petugas juga mengimbau warga untuk waspada terhadap arus deras di sekitar sungai dan jembatan. “Jangan nekat melintas kalau air sudah di atas lutut, berbahaya,” begitu kira-kira imbauan standar yang terus diperdengarkan. Tenang saja, aman ji kalau kita patuhi prosedur keselamatan. Tapi kalau dilawan, bisa berbahaya toh.

Di sisi lain, solidaritas warga Kendari tidak ada obatnya, deh! Banyak komunitas lokal bergerak mengumpulkan bantuan darurat: makanan siap saji, air mineral, selimut, dan obat-obatan. Ada juga yang buka dapur umum dadakan di halaman masjid dan balai pertemuan. Weh, menyala ji semangat gotong royong kita ini, Bosku.

Harapan Warga: Solusi Banjir Kendari Jangan Cuma Janji

Di balik hiruk-pikuk banjir hari ini, satu suara mulai menguat di lapangan: warga menuntut solusi nyata, bukan janji manis musiman. Perjalanan Banjir Kendari dari tahun ke tahun sudah seperti serial panjang tanpa ending. Setiap musim hujan, pola kejadiannya mirip: hujan deras, saluran tersumbat, air naik, warga panik, lalu surut, dibersihkan, habis itu lupa lagi. Nanti musim hujan berikutnya, terulang pi.

Warga berharap ada pembenahan menyeluruh: normalisasi sungai, pelebaran dan pembersihan drainase, pengawasan ketat soal pembangunan di daerah rawan banjir, dan edukasi serius soal buang sampah. Tidak bisa lagi kita anggap remeh ji, karena kerugian materi dan psikologis tiap banjir datang itu nyata. Kassian anak-anak yang stres, pedagang yang rugi, pekerja yang tidak bisa beraktivitas.

Reporter Beritakotakendari.com di lokasi menutup laporan dengan satu pesan: banjir ini bukan sekadar peristiwa alam, tapi cermin tata kelola kota. Warga sudah melakukan yang mereka bisa, sisanya butuh kebijakan tegas dan tindakan cepat dari pemangku kepentingan. Mantap djiwa kalau ke depan Kota Lulo bisa bebas dari banjir, kita sama-sama jaga lingkungan, pemerintah dan warga jalan beriringan. Sampai saat itu tiba, tetap waspada mi, jaga keselamatan ji dulu, baru kita hitung kerugian pi belakangan, toh.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan