Beranda / Peristiwa / Ramadan Kendari: 5 Kisah Geger Rezeki Suparno

Ramadan Kendari: 5 Kisah Geger Rezeki Suparno

Pedagang takjil di tengah keramaian Ramadan Kendari
0 0
Read Time:3 Minute, 56 Second

Beritakotakendari.comRamadan Kendari bikin geger haru satu Kota Lulo, Bosku! Di tengah padatnya jalanan dan hiruk-pikuk ngabuburit, sosok bernama Suparno berdiri tegar di pinggir ruas jalan ramai, menjemput rezeki Ramadan dengan sepenuh tenaga. Astaga, situasi di lapangan ini betul-betul potret perjuangan warga kecil yang tak pernah masuk baliho, tapi jadi tulang punggung ekonomi kota mi!

Ramadan Kendari: Suparno Berburu Rezeki di Tengah Kemacetan

Sore itu, menjelang azan Magrib, jalan protokol di Kota Kendari berubah jadi lautan kendaraan. Motor saling susul, mobil merayap pelan, klakson bersahutan. Di tengah hiruk kemacetan itulah Suparno berdiri, tangannya cekatan menawarkan dagangan ke pengendara yang lagi cari takjil. Deh, nda ada obatnya semangat bapak satu ini, Warga Kota Lulo!

Saya berdiri tidak jauh dari tempat Suparno mangkal. Keringat menetes di wajahnya, tapi senyum tidak pernah lepas. “Ramai kalau Ramadan begini, Toh. Alhamdulillah, bisa tambah-tambah buat anak di rumah,” begitu kira-kira gambaran perjuangan pedagang musiman seperti dia di Ramadan Kendari. Macet mi jalan, tapi justru di situlah peluang rezeki terbuka lebar.

Bagi pengendara, kemacetan mungkin bikin emosi naik. Tapi bagi Suparno dan pedagang kecil lainnya, kemacetan adalah alarm rezeki berbunyi nyaring! Satu kantong plastik, dua kantong plastik, laris manis ji dagangannya. Kalau terlambat sedikit, habis mi stok sebelum azan. Aih, ngeri memang ritme ekonomi Ramadan di Kendari.

Baca Juga: Info MTQ Kendari dan Perputaran Ekonomi Warga

Kisah Harian Suparno di Tengah Ramadan Kendari

Setiap siang, saat matahari masih terik, Suparno sudah mulai persiapan. Belanja bahan, bantu istri bungkus dagangan, lalu menjelang sore ia bergegas ke titik keramaian yang sudah ia hafal di luar kepala. “Kalau di sini, ramai waktu jam pulang kantor, Pi menjelang buka puasa,” begitu pola yang ia pelajari dari tahun ke tahun, Bosku.

Suparno bukan sendiri. Di sekelilingnya, berjejer pedagang lain: penjual es buah, kolak, kue-kue basah, hingga nasi kuning khas Kendari. Semua berebut perhatian pengendara, tapi suasananya tetap akrab ji. Saling sapa, saling jaga. Kalau ada motor hampir terserempet, langsung teriak peringatan, “Pelan-pelan Toh, hati-hati Mi!” Situasi senam jantung, tapi penuh kehangatan khas Warga Kota Lulo.

Di tengah padatnya Ramadan Kendari, kisah seperti Suparno ini sering terlewat dari sorotan. Padahal, merekalah yang membuat wajah ekonomi kota tetap hidup. Dari rezeki kecil di pinggir jalan ini, listrik rumah bisa dibayar, anak bisa sekolah, dapur tetap mengepul. Kassian kalau kita cuma lihat macetnya ji, tanpa melihat manusia-manusia tangguh di baliknya.

Baca Juga: Suasana Pasar Baru Kendari Jelang Buka Puasa

Suasana Lapangan: Ramadan Kendari di Mata Pengendara dan Pedagang

Dari sisi pengendara, Ramadan di Kendari identik dengan buru-buru pulang kerja sambil cari takjil di jalan. Begitu memasuki ruas ramai, mata mereka otomatis menyapu kiri-kanan, mencari penjual yang dagangannya menggoda. Di momen inilah Suparno memainkan taktiknya. Ia berdiri di titik yang cukup aman dari arus kendaraan, tapi tetap mudah disapa pengendara. Mantap djiwa strateginya, karena dagangan bisa laku tanpa bikin chaos lalu lintas.

“Kita jaga sama-sama Toh, jangan sampai ada kecelakaan gara-gara cari rezeki,” begitu suasana hati yang terasa di lapangan. Polisi lalu lintas sesekali lewat mengawasi, petugas kelurahan kadang memantau. Walau ramai, suasananya masih terkendali. Tenang saja, aman ji itu barang, selama semua tertib dan saling pengertian.

Bukan cuma itu, Ramadan Kendari juga menghidupkan kawasan-kawasan yang biasanya sepi. Gang kecil mendadak ramai, halaman rumah berubah jadi lapak dadakan, dan sudut-sudut kota yang biasanya sunyi kini menyala abangku, penuh tawa dan transaksi. Inilah warna Ramadan yang tidak akan tergantikan oleh aplikasi pesan-antar makanan sekalipun.

Dukungan Pemkot dan Harapan Warga saat Ramadan Kendari

Di tengah ramainya pedagang seperti Suparno, Warga Kota Lulo berharap ada perhatian lebih dari Pemkot Kendari. Mulai dari penataan lokasi jualan yang lebih rapi, akses parkir, sampai pengaturan lalu lintas biar tidak terlalu memacetkan jalan utama. Kalau diatur baik, pedagang senang, pengendara nyaman, kota pun tampak tertib. Win-win Mi, bukan begitu Di?

Suparno dan rekan-rekannya tidak menuntut muluk-muluk. Mereka hanya ingin ruang aman untuk berjualan dan tidak digusur tiba-tiba. “Kita ikut aturan ji, yang penting bisa cari makan halal buat keluarga,” begitu gambaran harapan sederhana para pedagang musiman di Ramadan Kendari. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, suara kecil seperti ini jangan sampai tenggelam, Toh.

Baca Juga: Kebijakan Terbaru Pemkot Kendari Soal PKL Ramadan

Pada akhirnya, kisah Suparno adalah cermin banyak warga kota yang menggantungkan hidup di momen-momen musiman seperti Ramadan. Di balik satu bungkus takjil yang kita beli, ada peluh, harap, dan doa panjang. Jadi, lain kali macet mi di tengah kota menjelang buka puasa, jangan marah dulu Bosku. Bisa jadi, di antara deretan pedagang itu, ada Suparno-Suparno lain yang sedang berjuang mempertahankan harapan hidup keluarganya.

Aih, memang Ramadan Kendari ini bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga panggung besar kehidupan warga kecil yang diam-diam jadi pahlawan ekonomi Kota Lulo.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan