Beranda / Peristiwa / BEM Fhil UHO: 3 Fakta Membanggakan Aksi Tanam Pohon

BEM Fhil UHO: 3 Fakta Membanggakan Aksi Tanam Pohon

Aksi BEM Fhil UHO menanam 3.000 pohon di Konawe untuk peringatan Hari Bumi
0 0
Read Time:5 Minute, 33 Second

Beritakotakendari.comBEM Fhil UHO bikin geger hijau satu Sulawesi Tenggara mi, Warga Kota Lulo! Dari pagi buta sampai matahari mulai terik, ratusan mahasiswa turun lapangan di Kabupaten Konawe untuk menanam ribuan bibit pohon dalam rangka peringatan Hari Bumi. Suasana di lokasi betul-betul seperti lautan rompi almamater hijau-kuning, aih, nda ada obatnya, Sobat Kendari!

Reportase langsung ini kami kirimkan dari area penanaman di Konawe, tanahnya masih becek, sepatu wartawan sampai tenggelam setengah mata kaki, tapi semangat mahasiswa BEM Fhil UHO justru menyala abangku! Mereka menancapkan bibit satu per satu dengan wajah berkeringat tapi senyum lebar, sambil teriak: “Selamatkan Bumi mi, sekarang ji, bukan nanti pi!”

Aksi BEM Fhil UHO Tanam 3.000 Pohon di Konawe

Menurut informasi resmi panitia yang ditemui di lokasi, total ada sekitar 3.000 bibit pohon yang ditanam di wilayah Kabupaten Konawe. Jenisnya beragam, mulai dari pohon buah hingga tanaman keras penahan erosi. Astaga, kalau semua ini tumbuh subur, beberapa tahun lagi bisa jadi sabuk hijau baru yang menyejukkan kawasan ini, toh.

Ketua BEM Fhil UHO yang diwawancarai di tengah-tengah aksi menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. “Ini komitmen nyata ji, kak. Kita sebagai mahasiswa harus turun langsung, bukan cuma diskusi di kampus,” ujarnya dengan napas masih tersengal usai menggali lubang. Di sekelilingnya, rekan-rekan sesama mahasiswa masih sibuk mengangkut bibit dari titik distribusi menuju lahan penanaman.

Suasana di lapangan benar-benar senam jantung. Truk pengangkut bibit hilir mudik, aparat keamanan dan pemerintah daerah setempat ikut memantau jalannya acara, sementara warga sekitar menonton sambil mengabadikan momen pakai ponsel. Anak-anak kecil berlarian di sela-sela barisan pohon yang baru ditanam, bikin suasana makin hidup, mantap djiwa!

Untuk Sobat Kendari yang ingin tahu perkembangan gerakan hijau lain di daerah, bisa intip juga kegiatan lingkungan di pusat kota: Baca Juga: Program Ruang Terbuka Hijau Pemkot Kendari. Tenang saja, aman ji, semua gerakan ini saling terkait untuk bikin udara kita lebih segar.

Makna Hari Bumi bagi Mahasiswa BEM Fhil UHO

Bagi BEM Fhil UHO, Hari Bumi bukan cuma tanggal merah di kalender kampus. Ini momentum refleksi kolektif, di mana mereka ingin mengingatkan masyarakat bahwa kerusakan lingkungan di Sultra sudah di level yang mengkhawatirkan. “Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi mi? Tunggu pi siapa lagi datang tanam pohon di kampung kita?” ujar salah satu pengurus BEM yang ikut mengatur barisan penanaman.

Mereka menekankan, penanaman 3.000 pohon di Konawe ini adalah simbol perlawanan terhadap deforestasi dan eksploitasi lingkungan yang berlebihan. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, melihat beberapa kawasan hijau di Sultra yang pelan tapi pasti menyempit karena aktivitas manusia.

Kendati begitu, nuansa acara tetap penuh optimisme. Spanduk besar bertuliskan “Selamatkan Bumi dari Konawe untuk Dunia” terbentang di dekat tenda panitia. Setiap kali rombongan mahasiswa baru tiba, mereka berbaris rapi, registrasi, lalu diarahkan menuju blok lahan yang sudah dibagi zonanya. Terstruktur ji, bukan asal tanam. Petugas teknis dari dinas terkait memberikan arahan: jarak tanam, kedalaman lubang, sampai cara memadatkan tanah supaya akar cepat kuat.

Skema pasca-penanaman juga sudah dipikirkan. Menurut panitia, ada tim pemantau yang akan rutin mengecek bibit-bibit ini beberapa bulan ke depan. Ini penting sekali, saudara-saudaraku, karena tanpa pengawasan, bibit bisa kering atau rusak. “Bukan tanam ramai-ramai lalu lupa, bukan begitu mi konsepnya,” tegas seorang dosen pendamping yang turut hadir.

Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan Warga

Aksi BEM Fhil UHO ini tidak berjalan sendiri. Dari pantauan di lapangan, terlihat beberapa pejabat daerah hadir, memberikan sambutan dan mendukung penuh kegiatan tersebut. Mereka menilai gerakan hijau mahasiswa ini sejalan dengan program pemerintah daerah untuk menjaga daerah aliran sungai dan lahan-lahan kritis di Konawe.

Warga sekitar pun menyambut positif. Ada ibu-ibu yang menyiapkan air minum dan camilan sederhana untuk mahasiswa. “Kassian, panas begini mereka masih mau tanam pohon, bagus sekali mi itu,” ujar seorang ibu rumah tangga yang rumahnya tak jauh dari lokasi. Partisipasi warga seperti ini jadi pengingat bahwa kepedulian lingkungan bukan monopoli aktivis saja, tapi tanggung jawab bersama.

Kalau ditarik lebih luas, gerakan di Konawe ini terhubung dengan geliat anak muda Kendari yang makin vokal soal lingkungan. Dari diskusi di kampus, unjuk rasa damai, sampai aksi konkret seperti penanaman pohon. Untuk perbandingan, pembaca bisa simak juga geliat kegiatan pelajar saat Baca Juga: Meriahnya MTQ Tingkat Kota Kendari yang juga sering disisipi pesan-pesan menjaga bumi.

Dampak Jangka Panjang dan Tantangan ke Depan

Secara ekologis, 3.000 pohon bukan angka kecil, Bosku. Kalau asumsi tingkat hidup bibit tinggi, beberapa tahun ke depan zona yang hari ini masih terlihat gersang bisa berubah menjadi koridor hijau yang menahan erosi, menyerap karbon, dan memperbaiki kualitas udara. Itu baru dampak lingkungan, belum lagi dampak sosial berupa meningkatnya kesadaran warga soal pentingnya ruang hijau.

Namun tantangannya juga tidak main-main. Perubahan iklim, kebiasaan buruk membakar lahan, serta tekanan pembangunan bisa mengancam kelangsungan bibit-bibit ini. Itulah alasan BEM Fhil UHO menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan. Mereka mengaku akan terus menggelar kampanye dan diskusi, baik di kampus maupun di tengah masyarakat.

Bagi Warga Kota Lulo yang hari ini mungkin sedang menikmati sore di kota, ingat mi, apa yang dilakukan di Konawe ini efeknya bisa terasa sampai ke Kendari. Udara lebih sejuk, siklus air lebih terjaga, dan bencana seperti banjir bisa dikurangi kalau hutan dan pepohonan tetap dijaga. Di Mandonga, Poasia, sampai Kemaraya, kita semua merasakan dampak lingkungan yang sama ji, toh.

Tak lupa, pemerintah kota dan kabupaten juga diharapkan menindaklanjuti inisiatif seperti ini dengan kebijakan yang pro-lingkungan. Mulai dari penataan kawasan, penertiban aktivitas yang merusak alam, sampai dukungan anggaran untuk program penghijauan. Info resmi terbaru soal langkah Pemkot bisa terus diikuti di kanal kami: Baca Juga: Kebijakan Terbaru Pemkot Kendari Soal Ruang Hijau.

Kendari dan Konawe Menyatu dalam Gerakan Hijau

Dari sudut pandang jurnalis lapangan, hari ini kita menyaksikan satu babak penting: mahasiswa BEM Fhil UHO memilih turun ke tanah, mengotori tangan dengan lumpur demi masa depan yang lebih bersih. Aksi di Konawe ini jadi jembatan emosional antara warga kabupaten dan warga Kota Kendari. Bukan sekadar seremonial Hari Bumi, tapi pernyataan sikap: “Kami peduli, kami bergerak sekarang ji, bukan nanti pi.”

Weh, menyala memang semangat anak muda hari ini! Tinggal bagaimana semua pihak menjaga konsistensi. Sebab gerakan lingkungan itu bukan sprint, tapi maraton panjang. Hari ini tanam, besok rawat, lusa evaluasi, dan seterusnya. Kalau irama ini bisa dijaga, bukan mustahil, Sulawesi Tenggara akan dikenal sebagai kawasan yang tangguh menghadapi krisis iklim.

Jadi, Sobat Kendari, lain kali kalau lewat Konawe dan lihat deretan pohon muda di pinggir jalan atau di lahan yang hari ini masih kecil-kecil itu, ingat mi: di sanalah jejak keringat BEM Fhil UHO dan ratusan relawan yang memilih meluangkan waktu mereka untuk bumi. Aih, semoga gerakan ini menular sampai ke setiap sudut kota dan kampung di Sultra. Mantap djiwa!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan