Beritakotakendari.com – TPA Kendari bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari ujung Poasia sampai Mandonga, warga Kota Lulo heboh bertanya: masa gara-gara pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir yang amburadul begini mi, kota kita sampai gagal mempertahankan Adipura? Aih, situasi senam jantung toh di lapangan, bau sampah menyengat, truk keluar-masuk tanpa henti, dan debu beterbangan di sekitar pemukiman.
TPA Kendari Diduga Jadi Biang Gagal Adipura
Sobat Kendari, sa lagi berdiri langsung di dekat gerbang TPA Kendari. Lalu lintas truk sampah padat, tapi pengelolaannya terlihat jauh dari kata rapi. Astaga, gunungan sampah menjulang seperti bukit buatan, sebagian tampak tidak tertutup tanah penutup secara rutin. Inilah yang diduga kuat jadi titik lemah penilaian Adipura, sehingga Kota Kendari gagal mempertahankan penghargaan bergengsi itu.
Menurut informasi yang beredar, tim penilai Adipura sangat ketat memeriksa standar sanitasi, pengelolaan lindi, pengendalian bau, hingga pengelolaan gas metana. Nah, di sinimi titik kritisnya, Bosku. Beberapa sumber di lapangan menyebutkan sistem drainase lindi belum optimal, area pemilahan sampah masih minim, dan penataan zona pembuangan belum tertib. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, kota yang digadang-gadang hijau dan bersih tapi tersandung di urusan TPA toh.
Baca Juga: Polemik Kebersihan Kota di Mandonga
5 Fakta Mencekam di Balik Pengelolaan TPA Kendari
Sa rangkum lima poin yang paling bikin warga geleng-geleng kepala di TPA Kendari ini, versi reportase langsung di lapangan mi:
- Gunungan Sampah Mendekati Pemukiman
Beberapa warga yang sa temui di sekitar lokasi mengeluh, jarak gunungan sampah dengan rumah mereka terasa makin dekat ji. Kalau angin kencang dari arah TPA, bau menyebar ke mana-mana. Ada yang bilang, “Mau makan susah, mau tidur susah, bau terus.” Kassian, kualitas hidup warga jelas terdampak. - Pengelolaan Lindi Diduga Belum Maksimal
Air hitam kecokelatan dari tumpukan sampah (lindi) seharusnya ditampung dan diolah. Di lapangan, beberapa titik terlihat becek dan mengalir. Kalau sampai masuk ke badan air sekitar, bisa gawat ji untuk kesehatan warga dan lingkungan. - Minimnya Pemilahan dan Daur Ulang
Memang ada aktivitas pemulung dan sedikit pemilahan, tapi skala formalnya belum terlihat mentereng. Padahal, kota-kota peraih Adipura biasanya sudah menerapkan bank sampah, TPS3R, dan skema ekonomi sirkular yang terhubung langsung dengan TPA. Di sini, kesannya masih kumpul-angkut-buang ji. - Asap dan Potensi Kebakaran
Beberapa tumpukan sampah tampak mengeluarkan asap tipis, indikasi pembakaran atau reaksi alami di dalam timbunan. Ini bahaya mi, karena bisa memicu kebakaran besar, mengganggu penerbangan, dan merusak kualitas udara di Kendari yang kita banggakan. Weh, kalau sampai kebakaran besar, geger geden satu kota toh! - Dampak Langsung ke Penilaian Adipura
Dalam skema penilaian Adipura, TPA adalah salah satu titik paling krusial. Jadi walaupun taman kota hijau, drainase kota lumayan rapi, kalau TPA amburadul, nilai langsung ambruk. Itulah yang diduga kuat jadi alasan utama Kendari gagal mempertahankan Adipura tahun ini.
Suara Warga Kota Lulo: Harapan untuk Pembenahan Cepat
Warga Kota Lulo yang sa temui di sekitar TPA Kendari kompak bilang, mereka bukan cuma mau dengar janji, tapi mau lihat aksi nyata pi. “Bagus kalau Adipura bisa kembali, tapi yang paling penting, kami di sekitar TPA ini bisa bernafas lega,” kata salah satu warga sambil menutup hidung dengan masker kain. Kassian, mereka hidup berdampingan dengan bau dan lalat tiap hari.
Mereka menuntut adanya penataan zona pembuangan yang lebih profesional, perluasan lahan kalau memang sudah overload, hingga teknologi pengolahan sampah yang lebih modern. “Jangan tunggu pi sampai ada bencana kesehatan dulu baru bergerak,” celetuk warga lain, nada kecewanya terasa mi.
Baca Juga: Program Kebersihan Terbaru Pemkot Kendari
Respon Pemerintah: Tunggu Pi Langkah Konkret dari Pemkot Kendari
Saudara-saudaraku, dari pantauan di lapangan dan informasi yang masuk ke redaksi, Pemkot Kendari kabarnya sedang merancang langkah perbaikan pengelolaan TPA Kendari. Mulai dari rencana peningkatan fasilitas, kerja sama dengan pihak ketiga, sampai pendekatan ke masyarakat untuk memperkuat pemilahan sampah dari rumah.
Tapi warga bilang, “Kita tunggu pi, jangan wacana terus.” Warga Kota Lulo butuh timeline jelas: kapan TPA dibenahi, kapan instalasi pengolahan lindi dipastikan berfungsi optimal, dan kapan bau menyengat bisa dikurangi signifikan. Kalau itu semua mulai jalan, barumi kita bisa ngomong percaya diri ke luar daerah: Kendari siap rebut Adipura lagi, dan bukan sekadar kejar piala, tapi demi kualitas hidup warganya sendiri.
Baca Juga: Rencana Relokasi dan Penataan Pasar Baru Kendari
TPA Kendari dan Peluang Rebut Kembali Adipura
Warga Kota Lulo!, kondisi TPA Kendari yang sa lihat hari ini mungkin bikin kita miris, tapi bukan berarti tidak bisa dibenahi. Banyak kota lain di Indonesia yang dulunya juga bermasalah dengan TPA, namun akhirnya bangkit dengan teknologi sanitary landfill, pembangkit listrik tenaga sampah, dan sistem pemilahan modern. Kalau mereka bisa, masa kita di Kendari nda bisa toh?
Kuncinya kolaborasi: Pemkot Kendari harus gaspol dengan kebijakan dan anggaran, pengelola TPA wajib disiplin standar teknis, dan warga harus mulai kurangi sampah dari rumah. Kalau tiga pilar ini menyatu, wehh, menyala abangku! Bukan cuma Adipura yang kembali, tapi nama Kendari bisa harum sampai tingkat nasional. Deh, nda ada obatnya kalau semua kompak begitu.






Average Rating