Beritakotakendari.com – Ramadhan Sultra bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari pelataran salah satu masjid besar di Kendari, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) turun langsung mengingatkan warga agar jangan egois di bulan Ramadhan. Aih, suasananya betul-betul seperti lautan manusia, semua khusyuk dengar imbauan, tapi tetap heboh dan hangat khas warga Kota Lulo mi!
Saudara-saudaraku, momen jelang buka puasa tadi sore berubah jadi semacam apel akbar. Wagub Sultra berdiri di depan jamaah, suara lantang tapi lembut, mengingatkan: jangan sampai ibadah Ramadhan kita tercoreng oleh sikap egois, baik di jalan raya, di pasar, maupun di rumah tangga. Deh, nda ada obatnya kalau semua kompak jalankan ini pesan, Kota Kendari bisa jadi contoh nasional ji!
Ramadhan Sultra dan Imbauan Tegas Wagub: Cegah Egoisme Sejak Sekarang
Dalam pantauan langsung reporter lapangan paling heboh se-Sultra ini, Wagub Sultra menekankan bahwa bulan Ramadhan Sultra tahun ini harus jadi momentum perbaikan akhlak. Bukan cuma soal puasa dan tarawih, tapi soal sikap di ruang publik.
Beliau mengingatkan, egoisme paling terasa biasanya di tiga titik: kemacetan menjelang buka puasa, rebutan belanja di pasar, dan sikap masa bodoh terhadap tetangga yang kekurangan. “Jangan mi egois, ini bulan latihan menahan diri,” begitu kira-kira pesannya, yang langsung disambut anggukan jamaah. Astaga, suasananya bikin merinding, Bosku!
Warga Kota Lulo yang hadir pun mengaku tersentuh. Beberapa ibu-ibu di barisan belakang sampai berbisik, “Betul toh, kita sering marah di jalan kalau lapar,” sambil tertawa kecil. Tapi di balik tawa itu, ada kesadaran baru: Ramadhan ini jangan lagi sama dengan tahun-tahun lalu ji.
Baca Juga: Suasana Ramadhan di MTQ Square Kendari
5 Sikap Egoisme yang Disorot di Ramadhan Sultra
Weh, menyala abangku! Ini lima poin sikap egois yang disorot Wagub dan bikin warga merenung di tengah suasana Ramadhan Sultra yang penuh berkah:
1. Egois di Jalan Raya Menjelang Buka Puasa
Situasi senam jantung biasa terjadi menjelang adzan Maghrib, Sobat Kendari! Mobil dan motor saling serobot di perempatan Mandonga, Wuawua, sampai ke depan Pasar Panjang. Wagub mengingatkan, puasa bukan alasan untuk bawa kendaraan ugal-ugalan.
“Kalau lapar dan haus, jangan mi lampiaskan di klakson dan serobot jalan,” kira-kira begitu imbauannya. Aih, ini menohok sekali, karena kita tahu sendiri toh, menjelang buka itu kadang jalan berubah jadi lintasan balap liar rohani.
2. Egois Saat Belanja di Pasar
Pasar tradisional di Kendari seperti Pasar Baru, Baruga, dan Mandonga mendadak penuh sesak tiap sore. Rebutan ikan segar, daging, dan kue tradisional. Wagub Sultra mengingatkan agar warga tidak sikut-sikutan dan tidak menimbun bahan pokok.
“Ingat mi, rezeki sudah diatur, jangan ki borong semua sampai orang lain tidak kebagian,” pesan beliau. Aih, ngeri kalau sampai masih ada yang sengaja menaikkan harga demi untung sendiri di bulan suci. Mantap djiwa kalau pedagang dan pembeli bisa saling jaga hati.
Baca Juga: Kondisi Harga Sembako di Pasar Baru Kendari
3. Egois di Lingkungan Tempat Tinggal
Wagub juga menyinggung egoisme yang kadang tidak kelihatan: masa bodoh terhadap tetangga yang kesulitan. Di beberapa kompleks perumahan di Kendari, masih ada keluarga yang kesusahan buat sekadar beli menu buka puasa.
“Kalau ada rezeki lebih, jangan ji dinikmati sendiri. Lihat-lihat ki tetangga, barangkali ada yang butuh bantuan,” begitu ajakan beliau. Kassian kalau sampai ada yang buka puasa cuma dengan air putih, sementara sebelah rumah pesta menu lengkap.
4. Egois di Rumah: Lupa Berbagi Tugas
Egoisme juga terjadi di dalam rumah, Bosku. Kadang semua kerjaan dapur dilempar ke ibu-ibu, sementara bapak dan anak-anak duduk manis pegang HP. Di bulan Ramadhan, aktivitas meningkat, tapi kalau tugas rumah tangga tidak dibagi, bisa bikin emosi naik.
Wagub menekankan, Ramadhan harus jadi momen saling bantu. “Bagi tugas mi, supaya semua dapat pahala, bukan cuma satu orang yang capek,” pesannya. Ini teguran halus tapi dalam ji, terutama buat para kepala keluarga di Kota Kendari.
5. Egois di Masjid: Rebutan Tempat dan Parkiran
Fenomena lain yang diangkat adalah jamaah yang suka klaim tempat di masjid dengan sajadah ditinggal, atau parkir kendaraan seenaknya sampai menutup jalan warga. Aih, ini sering sekali terjadi di masjid-masjid besar Kendari saat tarawih.
“Ibadah jangan sampai mengganggu orang lain. Kalau parkir, aturlah baik-baik. Kalau datang terlambat, jangan paksa mau di saf depan ji,” imbau Wagub. Betul sekali toh, ibadah mestinya melahirkan ketertiban, bukan kekacauan.
Ramadhan Sultra Jadi Momentum Introspeksi Bersama
Dari pantauan di lokasi, setelah acara imbauan itu, suasana jadi lebih teduh. Warga tampak saling senyum, beberapa langsung saling minta maaf karena pernah marah-marah di jalan atau di rumah. Aih, indah sekali suasana kebersamaan ini, Bosku.
Pemerintah Provinsi Sultra disebut akan menggencarkan sosialisasi nilai-nilai anti egoisme ini melalui masjid, sekolah, dan komunitas pemuda. Harapannya, Ramadhan Sultra tahun ini bukan hanya ramai kegiatan, tapi juga kuat di pengendalian diri.
Wagub pun mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk ikut mengawal. “Umat butuh teladan, bukan hanya ceramah. Jadi kita mulai dari diri sendiri mi,” ujarnya. Weh, kalau pejabat bicara begini, kita sebagai warga juga malu kalau tidak ikut berubah toh.
Baca Juga: Program Khusus Ramadhan Pemkot Kendari
Cegah Egoisme di Ramadhan Sultra: Tindakan Nyata Warga Kota Lulo
Warga Kota Lulo, sekarang bola sudah di tangan kita. Imbauan tadi bukan cuma formalitas. Bisa jadi titik balik, kalau kita mau bergerak.
Beberapa langkah nyata yang langsung disepakati jamaah di lokasi: komitmen tertib berlalu lintas menjelang buka puasa, saling berbagi takjil di lingkungan rumah, tidak menimbun bahan pokok, dan aktif memantau tetangga yang butuh bantuan. Tenang saja, aman ji itu barang kalau semua kompak.
Jadi, di bulan suci ini, jangan mi kita hanya kejar upload menu buka puasa di medsos. Kejar juga pahala dengan menekan egoisme. Ramadhan Sultra tahun ini bisa jadi yang paling berkesan kalau kita semua terlibat.
Astaga, kalau ini konsisten sampai lebaran, Kota Kendari bisa jadi contoh nasional dalam hal solidaritas dan ketertiban. Mantap djiwa! Tunggu pi kebijakan lanjutan dari Pemprov dan Pemkot, tapi perubahan paling utama tetap mulai dari hati ta sendiri toh, Sobat Kendari.





Average Rating