Beritakotakendari.com – Parkir bahu jalan bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari Mandonga sampai By Pass, larangan Pemkot Kendari soal parkir di bahu jalan ini kayak cuma angin lalu ji, Toh. Wartawan lapangan paling heboh se-Sultra hadir langsung dari lokasi, melaporkan suasana yang bikin jantung senam: klakson bersahutan, kendaraan merayap, dan warga cuma bisa elus dada sambil mengeluh, “Astaga, parkir mi di situ lagi!”
Di beberapa titik padat, terutama kawasan pertokoan dan pasar, aturan yang sudah jelas dikeluarkan Pemkot Kendari soal larangan parkir di bahu jalan seolah tak digubris. Aih, ngeri! Padahal papan larangan terpampang, petugas sudah sering imbau, tapi masih banyak pengendara yang “kepala batu” dan tetap saja menepi seenaknya, menguasai separuh badan jalan.
Parkir Bahu Jalan di Kendari: Kronologi di Lapangan
Sobat Kendari, dari pantauan langsung di lapangan malam ini, situasi paling padat terjadi di kawasan perdagangan yang ramai jelang malam minggu. Di beberapa ruas, kendaraan roda dua dan roda empat berjejer di bahu jalan, bikin jalur utama menyempit sampai tinggal satu lajur ji. Warga Kota Lulo yang melintas terpaksa mengurangi kecepatan drastis, bahkan beberapa kali berhenti total karena ada mobil yang mau keluar-masuk parkiran liar di bahu jalan.
Seorang pengendara yang sempat diwawancarai mengaku, mereka tahu mi sebenarnya kalau parkir di bahu jalan itu dilarang, tapi karena lahan parkir resmi penuh dan tidak tertata, akhirnya banyak yang memilih nekat, Toh. “Daripada saya mutar jauh pi, mending saya parkir di sini saja dulu,” ujarnya singkat. Aih, mantap djiwa memang alasan, tapi dampaknya bikin macet satu lorong, Kassian pengguna jalan lain.
Padahal, Pemkot Kendari sudah beberapa kali gencar sosialisasi soal penertiban parkir, termasuk operasi gabungan bersama Dishub dan Satpol PP. Namun, fakta di lapangan malam ini menunjukkan, masih banyak yang belum jera. Baca Juga: Operasi Penertiban di Kawasan MTQ Kendari memperlihatkan pola yang sama: di saat petugas hadir, tertib mi semua, tapi begitu petugas pulang, balik liar lagi ji.
5 Fakta Mencekam Soal Parkir Bahu Jalan di Kota Kendari
Warga Kota Lulo, berikut 5 fakta lapangan yang terekam jelas oleh tim kami di lokasi, bikin kita geleng-geleng kepala:
- Bahu jalan berubah jadi “lokasi parkir favorit”
Di beberapa sudut kota, khususnya dekat pasar dan pertokoan, bahu jalan yang harusnya untuk darurat dan kelancaran arus lalu lintas, malah jadi lahan parkir utama. Weh, menyala abangku, aturan terbalik begitu! - Larangan resmi Pemkot Kendari serasa diabaikan
Spanduk, rambu larangan, sampai imbauan di media sosial sudah bertebaran. Tapi di lapangan, pengendara yang “kepala batu” ini seperti anggap itu dekorasi jalan saja ji. Aih, nda ada obatnya kalau begitu terus. - Kemacetan mendadak di jam sibuk
Sore hingga malam, situasi sering berubah jadi lautan kendaraan. Jalur yang harusnya dua arah lancar, jadi sempit, bikin antrean mengular. Baca Juga: Kemacetan di Sekitar Pasar Baru Kendari punya pola yang hampir sama, apalagi saat hari pasar dan akhir pekan. - Pengawasan petugas belum kontinyu
Saat petugas Dishub dan aparat turun, kondisi langsung tertib, kendaraan dihalau, ada juga yang digembok. Tapi pengawasan yang tidak berkesinambungan bikin pelanggaran muncul lagi pi. Begitu petugas lengah sedikit, langsung parkir mi lagi di bahu jalan. - Kesadaran pengguna jalan masih rendah
Ini poin yang paling krusial. Banyak yang tahu aturan, tapi memilih melanggar karena alasan praktis: dekat toko, malas jalan jauh, atau parkir resmi dianggap mahal. “Cuma sebentar ji ini, Pak,” begitu alasan klasik yang terdengar berulang-ulang di telinga petugas.
Dampak Parkir Bahu Jalan bagi Warga Kota Lulo
Saudara-saudaraku, dampaknya bukan main-main. Pertama, risiko kecelakaan meningkat karena kendaraan tiba-tiba berhenti di pinggir, menurunkan penumpang, atau keluar dari bahu jalan tanpa memberi isyarat cukup. Pengendara di belakang terkejut, situasi senam jantung, nyaris tabrakan beruntun. Aih, ngeri!
Kedua, ambulans dan kendaraan darurat bisa terhambat kalau jalur menyempit parah. Bayangkan kalau ada pasien gawat yang harus dilarikan ke rumah sakit, tapi lajur tertutup deretan mobil parkir di bahu jalan. Kassian sekali itu, keselamatan orang dipertaruhkan hanya karena mau parkir dekat toko sedikit ji.
Ketiga, wajah kota jadi semrawut. Program penataan kota yang digembar-gemborkan Pemkot Kendari, termasuk penataan kawasan MTQ dan pusat kuliner, bisa tampak setengah-setengah kalau di depan rapi, tapi di jalan utama parkir liar merajalela. Baca Juga: Kebijakan Terbaru Pemkot Kendari Soal Penataan Kota menyebut penertiban parkir sebagai salah satu kunci penting keteraturan kota.
Harapan Warga: Tegas Mi, tapi Jangan Lupa Solusi
Warga yang kami temui umumnya sepakat: penertiban harus tegas mi, tapi pemerintah juga wajib siapkan solusi. Tambahan kantong parkir resmi, penataan juru parkir, hingga penertiban pedagang di badan jalan perlu jalan bersamaan, bukan cuma menyalahkan pengendara Toh.
Beberapa usulan warga antara lain penerapan denda elektronik bagi pelanggar parkir bahu jalan, razia berkala yang konsisten, dan penandaan zona parkir yang jelas supaya orang tidak lagi bingung. Sebab kalau dibiarkan begini terus, Kota Kendari yang kita cintai bisa identik dengan macet dan semrawut, padahal potensinya besar sekali untuk jadi kota yang tertib dan membanggakan.
Pada akhirnya, Sobat Kendari, aturan tidak akan berarti kalau hanya tertulis di papan dan Perwali saja ji. Butuh kesadaran bersama: pengendara, pengusaha, juru parkir, hingga Pemkot Kendari. Jadi, lain kali mau parkir di bahu jalan, pikir dua kali pi: nyaman sesaat, tapi bikin sengsara banyak orang.





