Beranda / Peristiwa / Kanit PPA Polresta Kendari: 5 Fakta Geger Laporan ke Propam

Kanit PPA Polresta Kendari: 5 Fakta Geger Laporan ke Propam

Ibu korban KDRT melapor Kanit PPA Polresta Kendari ke Propam di depan Polresta Kendari
0 0
Read Time:5 Minute, 32 Second

Beritakotakendari.comKanit PPA Polresta Kendari dilaporkan ke Propam bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Reporter lapangan paling heboh se-Sultra langsung turun di depan Mapolresta Kendari, suasana panas mi sejak pagi. Seorang ibu, orang tua dari korban dugaan KDRT, datang melapor ke Propam karena merasa penanganan kasus anaknya di Unit PPA tidak beres, aih, situasi senam jantung toh!

Warga Kota Lulo yang lewat di sekitaran Polresta saja sampai berhenti sejenak, penasaran apa sebenarnya yang terjadi. Di tengah terik matahari Kendari yang menyengat, ibu korban dengan wajah penuh kecewa menyampaikan protesnya. Ia mengaku tak puas dengan cara Kanit PPA Polresta Kendari menangani laporan KDRT yang menimpa anaknya. Astaga, kalau soal perlindungan perempuan dan anak sudah dipertanyakan begini, ngeri juga ji rasanya.

Profil Singkat Kanit PPA Polresta Kendari dan Kasus KDRT yang Dilaporkan

Biar jelas mi, Sobat Kendari, Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) di Polresta Kendari itu memang dibentuk khusus untuk menangani perkara-perkara sensitif seperti KDRT, kekerasan seksual, dan kasus anak. Nah, justru di titik inilah letak kehebohannya: Kanit yang seharusnya jadi garda terdepan perlindungan, kini malah ikut disorot dan dilaporkan ke Propam oleh keluarga korban sendiri.

Sang ibu yang melapor mengaku, dari awal ia berharap laporan KDRT anaknya diproses cepat dan tuntas. Ia menilai ada kejanggalan, diduga prosesnya lambat dan komunikasi dengan pihak penyidik kurang jelas. “Kami hanya mau keadilan ji, toh,” begitu kira-kira keluhannya di depan awak media. Weh, menyala abangku, kalau soal keadilan menyangkut KDRT, masyarakat memang sensitif sekali.

Di halaman Mapolresta, suasana sempat jadi perhatian. Beberapa anggota polisi Propam terlihat menerima laporan resmi dari ibu korban. Berkas laporan tampak disusun rapi, menunjukkan perkara ini bukan lagi sekadar keluhan lisan, tapi sudah masuk ranah pengawasan internal. Baca Juga: Respons Pemkot Kendari Soal Perlindungan Perempuan untuk melihat bagaimana kebijakan daerah menanggapi fenomena seperti ini.

5 Fakta Penting Laporan Ibu Korban KDRT ke Propam

Agar warga Kota Lulo tidak simpang siur, berikut lima poin penting yang berhasil dirangkum reporter lapangan dari lokasi kejadian:

1. Laporan Berawal dari Kasus KDRT Anak Sang Ibu

Fakta pertama, akar masalah ini adalah dugaan KDRT yang dialami anak dari ibu pelapor. Menurut penuturan singkat di depan media, korban disebut mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang sudah dilaporkan secara resmi ke Unit PPA Polresta Kendari. Ibu ini datang dengan harapan besar: pelaku ditindak, anaknya mendapat perlindungan hukum maksimal.

Namun, seiring berjalan waktu, ia merasa penanganan kasus kurang maksimal. Di sinilah titik api awal kekecewaannya terhadap Kanit PPA Polresta Kendari. “Kami ini masyarakat biasa mi, tapi tetap butuh kejelasan toh,” ucapnya dengan suara bergetar. Kassian, warga kecil kalau sudah berurusan dengan hukum memang sering merasa sendirian ji.

2. Kanit PPA Polresta Kendari Dilaporkan Secara Resmi ke Propam

Fakta kedua, laporan ini bukan omongan kosong di luar pagar, tapi resmi teregistrasi di bagian Propam. Propam adalah divisi pengawasan internal Polri yang berwenang memeriksa dugaan pelanggaran etik dan disiplin anggota. Berarti, nama Kanit PPA Polresta Kendari sekarang sudah masuk meja penelusuran internal, Sobat Kendari.

Langkah ibu korban ini tergolong berani. Tidak banyak warga yang berani melaporkan langsung perwira polisi, apalagi yang menjabat di unit sensitif seperti PPA. Aih, ini menunjukkan keputusasaan sekaligus keinginan kuat untuk mencari kejelasan. Baca Juga: Dinamika Hukum di Kawasan Pasar Baru Kendari untuk melihat bagaimana masyarakat lain menyuarakan hak hukumnya di kota ini.

3. Dugaan Ketidakpuasan terhadap Proses Penanganan Laporan

Fakta ketiga, inti laporan ibu korban ke Propam diduga menyangkut ketidakpuasan pada prosedur dan komunikasi penanganan perkara. Ia menilai kasus anaknya berjalan lambat dan kurang transparan. Memang, dalam kasus KDRT, kecepatan proses dan empati dari petugas itu penting sekali, kalau lama berlarut, korban bisa makin tertekan ji.

Di depan Polresta, ibu itu berulang kali menegaskan bahwa ia tidak mau “mengada-ada”. “Saya datang mi baik-baik dari awal, tapi saya merasa tidak didengar ji,” katanya. Astaga, kalimat seperti ini bikin hati warga yang mendengar ikut panas. Di satu sisi, polisi punya prosedur, di sisi lain, korban butuh rasa aman secepatnya. Di sinilah letak tarik menarik yang bikin situasi semakin ramai toh.

4. Propam Diminta Serius Menelusuri Peran Kanit PPA

Fakta keempat, ibu korban secara tegas meminta Propam agar serius menelusuri peran dan langkah Kanit PPA Polresta Kendari dalam proses penanganan laporan KDRT tersebut. Ia berharap ada pemeriksaan internal, klarifikasi resmi, dan perbaikan bila ditemukan kekeliruan. Bukan sekadar permintaan maaf di mulut, tapi tindakan nyata.

Beberapa aktivis perlindungan perempuan yang kebetulan mendengar kabar ini juga menyampaikan, kasus seperti ini harus jadi bahan evaluasi, bukan hanya di Kendari, tapi juga di daerah lain. Baca Juga: Liputan Khusus MTQ dan Isu Sosial di Mandonga untuk melihat bagaimana kegiatan keagamaan juga sering dijadikan momentum penguatan isu perlindungan keluarga.

5. Polresta Kendari dan Propam Bakal Diminta Buka Hasil Pemeriksaan

Fakta kelima, warga Kota Lulo kini menunggu: bagaimana sikap resmi Polresta Kendari dan hasil pemeriksaan Propam terhadap laporan ini. Biasanya, Propam akan melakukan klarifikasi awal, memanggil pihak yang dilaporkan, meminta dokumen terkait, dan menilai apakah ada dugaan pelanggaran etik atau sekadar miskomunikasi.

Tenang mi, Sobat Kendari, proses ini memang tidak bisa instan, tapi publik berhak tau hasilnya pi. Transparansi penting agar kepercayaan masyarakat terhadap Unit PPA tidak runtuh. Jangan sampai kasus ini membuat korban-korban KDRT lain takut melapor. “Kami tunggu pi penjelasan resmi, toh,” begitu harapan banyak warga.

Dampak Geger Kasus Kanit PPA Polresta Kendari bagi Kepercayaan Publik

Situasi ini jelas bukan perkara sepele ji. Unit PPA selama ini dikenal sebagai tempat berlindung bagi perempuan dan anak. Kalau sudah muncul laporan ke Propam yang menyeret nama Kanit PPA Polresta Kendari, kepercayaan publik bisa goyah. Di lapangan, beberapa warga yang ditemui reporter mengaku kaget dan berharap ini segera diluruskan.

Sebagian warga bilang, “Kalau benar ada kekeliruan, perbaiki mi. Kalau tidak benar, jelaskan mi baik-baik ke publik.” Intinya, semua menuntut kejelasan. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, tapi juga jadi momentum pembenahan. Transparansi, empati, dan komunikasi yang baik dari aparat hukum adalah kunci agar kasus seperti ini tidak semakin liar di media sosial.

Harapan Ibu Korban dan Warga Kota Lulo

Pada akhirnya, ibu korban KDRT yang melaporkan Kanit PPA Polresta Kendari ke Propam cuma mau satu: keadilan untuk anaknya. “Jangan sampai anakku trauma terus, sementara pelaku santai-santai ji,” kurang lebih begitu harapannya. Kassian, seorang ibu pasti akan lakukan apa saja untuk melindungi anaknya, termasuk berani melawan arus dan melapor ke lembaga internal polisi.

Warga Kota Lulo, kita tunggu pi perkembangan resmi dari Polresta Kendari dan Propam. Beritakotakendari.com bakal terus pantau dari dekat, langsung di lapangan, supaya informasi yang sampai ke tangan Bosku semua akurat dan tidak setengah-setengah. Mantap djiwa, tetap kritis tapi sopan, tetap percaya hukum tapi jangan diam kalau hak dilanggar. Nda ada obatnya kalau masyarakat dan aparat bisa saling jaga begini, Kendari pasti lebih aman dan manusiawi toh.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan