Beritakotakendari.com – Jaminan sosial ketenagakerjaan bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Di tengah panas terik Kota Lulo, pekerja informal dari ojek online, pedagang kaki lima, buruh harian, sampai tukang bangunan tumplek-blek berkumpul ikut sosialisasi program perlindungan ketenagakerjaan. Aih, suasananya macam lautan manusia, semua penasaran: "Bagaimana caranya supaya aman ji kalau ada kecelakaan kerja atau usia tua tiba, Di?"
Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara langsung melaporkan dari lokasi di Kendari, suasana benar-benar senam jantung! Spanduk program perlindungan pekerja informal berkibar di mana-mana, petugas BPJS Ketenagakerjaan dan perwakilan Pemkot Kendari sibuk memberi penjelasan soal iuran murah, manfaat besar, sampai cara daftar yang katanya sekarang bisa online toh.
Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kendari untuk Pekerja Informal
Warga Kota Lulo, penting sekali mi kita pahami dulu: jaminan sosial ketenagakerjaan ini bukan cuma untuk pegawai kantoran atau karyawan pabrik. Di Kendari, justru pekerja informal yang mendominasi: sopir angkot, pengemudi ojol, nelayan, penjual ikan di Pasar Baru, tukang becak, penjual gorengan, sampai pekerja bangunan lepas.
Dari pantauan di lapangan, petugas menerangkan bahwa pekerja informal kini bisa ikut program seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), bahkan Jaminan Hari Tua (JHT) jika memenuhi syarat. Iurannya disebut-sebut mulai dari belasan ribu rupiah per bulan, tapi manfaatnya bisa puluhan bahkan ratusan juta kalau terjadi risiko. Weh, menyala abangku! Kecil bayar, besar manfaat, siapa yang nda mau?
Di sela-sela acara, beberapa pedagang kaki lima di sekitar lokasi mengaku baru tahu mi kalau mereka pun berhak terlindungi. "Kupikir dulu cuma PNS dan pegawai toko, Toh. Ternyata kita pedagang asongan juga bisa daftar," ujar seorang pedagang dengan wajah lega. Baca Juga: Program Perlindungan Pekerja Harian di Mandonga.
5 Fakta Penting Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Kendari
Supaya Sobat Kendari nda bingung, berikut rangkuman 5 fakta yang bikin heboh tadi di lokasi sosialisasi:
1. Menyasar Pekerja Informal yang Selama Ini "Terlupakan"
Dari keterangan pejabat yang hadir, target utama di Kendari adalah pekerja sektor informal yang selama ini rentan jatuh miskin kalau sakit atau kena kecelakaan kerja. Kita bicara soal ribuan sampai puluhan ribu orang, Bosku. Mulai dari penjual ikan di Pasar Baru, penjahit rumahan, kuli bongkar muat di pelabuhan, sampai pelaku UMKM kuliner di seantero kota.
Astaga, kalau mereka ini tidak dilindungi, satu musibah saja bisa bikin ekonomi keluarga ambruk. Di sinilah jaminan sosial ketenagakerjaan masuk sebagai "payung sebelum hujan". Petugas menegaskan, pekerja informal boleh daftar mandiri, nda perlu menunggu perusahaan yang urus.
2. Iuran Murah, Manfaat Klaim Dibilang Ngeri
Aih, ngeri! Di sesi tanya jawab, petugas membeberkan simulasi: dengan iuran yang relatif terjangkau per bulan, peserta terlindungi saat kecelakaan kerja, baik di tempat kerja maupun di perjalanan. Kalau terjadi kecelakaan kerja, biaya pengobatan ditanggung sesuai ketentuan, bahkan ada santunan cacat tetap maupun santunan kematian buat ahli waris.
Beberapa pengemudi ojek online yang hadir kelihatan saling pandang. "Berarti kalau kita jatuh di jalan pas antar penumpang, bisa ditanggung semua, Di?" tanya salah satu driver. Dijawab oleh petugas, "Iye, asal terdaftar dan iuran lancar, aman ji itu." Situasi langsung riuh, orang-orang pegang HP, siap-siap cari info pendaftaran.
3. Cara Daftar Kini Lebih Gampang, Bisa Online Ji
Saudara-saudaraku, kendala klasik di lapangan biasanya soal ribetnya administrasi. Tapi kali ini, petugas jelaskan bahwa pendaftaran bisa dilakukan lewat kantor resmi, gerai layanan di beberapa titik kota, bahkan melalui aplikasi dan kanal digital. Warga tinggal siapkan KTP, nomor HP aktif, dan uang iuran pertama.
"Macam pesan makanan online ji, tapi ini pesan perlindungan, Toh," canda salah satu peserta sosialisasi, disambut tawa. Baca Juga: Layanan Digital Pemkot Kendari untuk Warga. Dengan kemudahan ini, pekerja informal yang jadwalnya padat bisa daftar kapan saja, nda perlu tinggalkan lapak atau penumpang terlalu lama.
4. Dukungan Pemkot Kendari Bikin Suasana Makin Membara
Di lokasi, tampak pula perwakilan Pemerintah Kota yang memberi sambutan. Mereka menekankan bahwa program jaminan sosial ketenagakerjaan ini sejalan dengan upaya mengurangi angka kemiskinan dan memperkuat sektor informal. Ada wacana ke depan, sebagian kelompok pekerja rentan akan diuji coba untuk dibantu iurannya lewat kerja sama Pemkot dan pihak terkait.
Warga yang hadir langsung berbisik-bisik, "Kalau sampai disubsidi, mantap djiwa mi ini!" Tapi pejabat mengingatkan, "Tunggu pi keputusan dan aturan teknisnya. Sekarang yang penting, daftar mandiri dulu selagi masih sehat." Baca Juga: Kebijakan Terbaru Pemkot Kendari Soal Perlindungan Sosial.
5. Tantangan di Lapangan: Edukasi dan Kesadaran Warga
Meski geger dan antusiasme membludak, tetap ada tantangan besar di lapangan. Banyak pekerja informal yang masih menganggap jaminan sosial ketenagakerjaan itu "urusan belakang" atau "Nanti pi kalau sudah ada uang lebih." Padahal, risiko kecelakaan dan sakit tidak pernah tunggu waktu, Toh.
Petugas berulang kali mengingatkan, "Lebih baik sisihkan sedikit tiap bulan daripada menyesal saat musibah datang." Kassian, beberapa peserta sempat berbagi kisah tentang keluarga atau teman yang jatuh sakit lalu kesulitan biaya karena tidak punya perlindungan apa-apa. Cerita-cerita begini bikin suasana mendadak haru, warga jadi makin fokus dengar penjelasan.
Dampak Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi Warga Kota Lulo
Warga Kota Lulo!, kalau program ini benar-benar dimanfaatkan maksimal, efeknya bisa luar biasa. Pekerja informal jadi punya rasa aman saat bekerja, keluarga pun lebih tenang. Perputaran ekonomi di Kendari bisa tetap kencang karena saat ada musibah, pekerja tidak langsung jatuh miskin total. Ini bukan cuma soal angka di atas kertas, tapi soal martabat dan keamanan hidup.
Dari pantauan terakhir menjelang acara ditutup, antrean konseling dan pendaftaran masih mengular. Orang-orang rebutan minta brosur, tanya skema iuran, sampai minta didampingi isi formulir. "Daftar sekarang mi, jangan tunggu pi besok-besok," celetuk seorang ibu pedagang sayur ke temannya. Weh, kalau semangat seperti ini terus dijaga, jaminan sosial ketenagakerjaan bisa jadi tameng utama pekerja informal di Kendari.
Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara pamit dari lokasi, tapi cerita tentang jaminan sosial ketenagakerjaan ini jelas belum berakhir. Kita akan pantau terus dampaknya, apakah benar betul-betul terasa di kantong dan kehidupan warga, atau cuma ramai di awal saja. Untuk sekarang, satu pesan: lindungi diri ta, sebelum situasi senam jantung benar-benar datang tanpa aba-aba.





