Beranda / Peristiwa / Inflasi Kendari: 5 Fakta Geger Tapi Menenangkan

Inflasi Kendari: 5 Fakta Geger Tapi Menenangkan

Suasana pasar tradisional menggambarkan Inflasi Kendari dengan aktivitas jual beli yang ramai
0 0
Read Time:4 Minute, 42 Second

Beritakotakendari.comInflasi Kendari bikin geger satu Kota Lulo mi, Bosku! Dari Mandonga sampai Puuwatu, orang ramai bertanya-tanya: harga naik terus, ini bahaya atau justru tanda ekonomi menyala abangku? Di tengah riuhnya suara pedagang dan pembeli di pasar, pengamat ekonomi di Kendari justru kasih kabar yang agak menenangkan ji: inflasi itu tidak selalu buruk, toh, malah bisa jadi sinyal daya beli masyarakat lagi naik.

Inflasi Kendari dan Suara Lapangan: Harga Naik, Warga Masih Belanja

Sobat Kendari, di lapangan suasananya betul-betul macam “senam jantung”. Di salah satu pasar tradisional di Kendari, wartawan lagi berdiri di lorong sempit antara tumpukan cabai merah dan tomat yang warnanya menyala. Pedagang teriak harga, pembeli tawar-menawar, lengkap suasana macam lautan manusia. Aih, ngeri kalau dengar angka harga-harga sekarang, tapi tunggu dulu pi, jangan panik dulu.

Pengamat ekonomi di Kendari menjelaskan bahwa inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Tapi kuncinya, kalau inflasi masih di level terkontrol, itu bisa jadi tanda ekonomi bergerak. Artinya apa? Orang masih belanja, permintaan naik, dan pelaku usaha masih berani jualan. Kalau semua orang berhenti belanja, justru itu yang gawat sekali, Bosku.

Menurut analisis beliau, di Kendari kenaikan harga di beberapa komoditas kebutuhan pokok memang terasa, tapi di saat yang sama aktivitas di pusat perbelanjaan dan pasar tradisional masih hidup. Dari pantauan langsung, kantong plastik belanjaan masih penuh mi di tangan ibu-ibu, dan antrean di kasir minimarket masih panjang. Weh, menyala abangku, tanda daya beli belum tumbang ji itu.

Baca Juga: Pergerakan Harga Pangan di Pasar Baru Kendari

Inflasi Kendari Tak Selalu Buruk: Kapan Jadi Sinyal Positif?

Saudara-saudaraku, inflasi yang dianggap masih sehat biasanya berada pada kisaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia sebagai target. Kalau naik sedikit, bisa jadi efek permintaan tinggi karena pendapatan warga juga pelan-pelan meningkat. Di Kendari, geliat ekonomi terlihat dari ramainya usaha kuliner malam di daerah MTQ Square dan pinggiran Teluk Kendari. Kursi-kursi kaki lima penuh, asap bakaran ikan cakalang naik ke udara, dan suara musik lulo mengalun pelan.

Pengamat ekonomi menegaskan, ketika daya beli naik, orang lebih berani belanja makanan di luar, ganti gadget, atau renovasi rumah. Aktivitas seperti ini memicu permintaan barang dan jasa, yang kemudian bisa mengerek harga secara perlahan. Nah, inilah yang dibilang: inflasi sebagai dampak ekonomi yang bergerak, bukan ekonomi yang sekarat. Tenang ji, selama inflasinya tidak melonjak liar, itu tandanya roda ekonomi Kendari masih mutar kencang, toh.

Di beberapa titik kota, seperti sekitaran Pasar Baru Wuawua dan kawasan perdagangan di Mandonga, parkiran motor sampai meluber ke badan jalan. Situasi ini memang bikin macet mi sedikit, tapi dari kacamata ekonomi, ini pertanda ada aktivitas jual beli yang kuat. Aih, memang bikin campur aduk: di satu sisi kantong agak menjerit, di sisi lain ekonomi tidak mati.

Baca Juga: Kebijakan Pemkot Kendari Jaga Stabilitas Harga

Daya Beli Meningkat: Apa Dampaknya ke Warga Kota Lulo?

Warga Kota Lulo!, kalau daya beli naik artinya rata-rata masyarakat punya kemampuan lebih untuk membayar barang dan jasa. Di lapangan, hal ini kelihatan dari:

  • Ramainya kafe dan warkop di sekitaran By Pass dan Korumba pada malam hari.
  • Meningkatnya penjualan bahan bangunan di beberapa toko besar di Kendari.
  • Pesanan ojek online dan layanan antar makanan yang sibuk dari pagi sampai malam.

Pengamat ekonomi mengingatkan, inflasi yang didorong oleh permintaan (demand-pull inflation) ini beda dengan inflasi yang disebabkan gangguan pasokan. Kalau inflasi muncul karena pasokan terganggu, misalnya musim buruk, distribusi tersendat, atau biaya transport naik tajam, itu yang bikin situasi bisa mencekam. Harga naik, tapi daya beli tidak ikut naik. Kassian sekali kalau begitu.

Sementara itu, di Kendari saat ini gejalanya lebih kombinasi: ada faktor musiman, seperti menjelang hari besar keagamaan, tapi juga ada tanda-tanda permintaan rakyat yang kuat. Di warung makan sekitaran kampus dan perkantoran, kursi tetap penuh pada jam makan siang. Artinya, masih banyak yang sanggup bayar makanan di luar, tidak berhemat terlalu ekstrem. Mantap djiwa, tanda ekonomi belum ciut.

Peran Pemerintah dan Edukasi Warga Soal Inflasi Kendari

Astaga, kalau bicara inflasi tanpa peran pemerintah, itu ibarat motor tanpa bensin pi. Pengamat ekonomi menekankan pentingnya sinergi antara Bank Indonesia, Pemkot Kendari, dan pelaku pasar untuk menjaga inflasi tetap di zona aman. Operasi pasar, pemantauan rantai distribusi, dan pengawasan stok komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, dan gula, jadi tameng pertama agar inflasi tidak berubah jadi “monster” yang menakutkan.

Pemkot juga didorong untuk aktif memberi informasi ke warga, supaya tidak gampang panik setiap dengar kata “inflasi”. Edukasi publik penting ji, supaya masyarakat tahu kapan harus waspada dan kapan cukup tenang sambil tetap mengatur anggaran rumah tangga. Pengamat mengingatkan, kepanikan bisa memicu aksi borong berlebihan, yang justru mendorong harga makin naik.

Baca Juga: Event MTQ dan Dampaknya ke Ekonomi Lokal Kendari

Buat Sobat Kendari, kuncinya adalah cerdas mengelola keuangan. Catat pengeluaran, bedakan kebutuhan dan keinginan, dan jangan tergoda belanja yang tidak penting, meskipun suasana diskon di pusat perbelanjaan menggiurkan. Ingat, inflasi memang tidak selalu buruk, tapi rumah tangga tetap harus kuat fondasi keuangannya, toh.

Kesimpulan: Inflasi Kendari, Situasi Senam Jantung Tapi Masih Terkendali

Dari pantauan langsung di pasar, pusat kuliner, sampai jalur perdagangan utama di Kendari, terlihat bahwa inflasi saat ini memang terasa di dompet, tapi belum pada level mematikan aktivitas ekonomi. Pengamat ekonomi menilai, selama pemerintah daerah sigap menjaga stok dan distribusi, serta Bank Indonesia konsisten dengan kebijakan moneter, inflasi ini bisa jadi cermin bahwa ekonomi Kendari masih bergerak maju.

Warga Kota Lulo!, jangan lengah tapi juga jangan panik berlebihan. Inflasi boleh naik sedikit, tapi disiplin mengatur belanja harus naik juga. Tenang saja, aman ji itu barang, selama kita tetap waspada, saling berbagi informasi, dan mendorong pemerintah untuk terus hadir di lapangan. Aih, ngeri kalau dibiarkan tanpa pengawasan, tapi untuk saat ini, Inflasi Kendari masih di level yang bisa kita kawal bersama, Bosku!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan