Beritakotakendari.com – Ekspor Ubur-Ubur Buton bikin geger satu Sulawesi Tenggara mi, Bosku! Dari pesisir Kabupaten Buton, komoditas laut yang selama ini sering dianggap remeh itu, hari ini resmi menembus pasar Tiongkok. Aih, ngeri! Situasi di sekitar pelabuhan dan tempat penampungan hasil laut terasa seperti lautan manusia, semua mata tertuju pada kontainer pendingin berisi ubur-ubur siap kirim, seakan ini momen bersejarah yang tidak boleh terlewat barang sedetik ji.
Ekspor Ubur-Ubur Buton Tembus Tiongkok, Apa yang Terjadi di Lapangan?
Warga Kota Lulo dan saudara-saudaraku di pesisir Buton, suasana di lokasi pengumpulan hasil tangkapan laut pagi ini betul-betul senam jantung mi. Truk berjejer, nelayan hilir-mudik dengan bak penuh ubur-ubur yang sudah dibersihkan dan diawetkan. Petugas karantina, ekspedisi, sampai perwakilan perusahaan eksportir mondar-mandir pakai rompi dan helm, cek dokumen, cek suhu kontainer, semua bergerak cepat tapi tetap hati-hati toh.
Menurut keterangan petugas yang ditemui di lokasi, pengiriman perdana ini menjadi semacam “uji nyali” sekaligus pembuktian bahwa Buton bukan hanya kuat di sektor aspal dan pariwisata, tapi juga punya komoditas laut bernilai tinggi. Volume ekspor perdana ini disebut mencapai beberapa kontainer berisi produk ubur-ubur yang sudah melalui proses pengolahan standar internasional. “Ini baru awal ji, ke depan kita targetkan frekuensi ekspor makin rutin pi,” ujar salah satu perwakilan perusahaan eksportir, dengan nada optimistis.
Astaga, melihat deretan kontainer pendingin yang siap diangkat ke kapal, rasanya seperti menyaksikan babak baru perdagangan laut Sultra. Para nelayan yang biasanya diam di kampung, hari ini tampak rapi, banyak yang pakai kemeja dan topi baru, foto-foto di depan kontainer, seakan ini wisuda besar-besaran di pesisir pantai.
Baca Juga: Kebangkitan Ekonomi Pesisir di Teluk Kendari
Dampak Ekspor Ubur-Ubur Buton untuk Nelayan dan Ekonomi Daerah
Weh, menyala abangku! Dampak ekonomi dari Ekspor Ubur-Ubur Buton ini bukan main-main mi. Harga ubur-ubur yang dulu sering dianggap “tidak terlalu berharga” oleh sebagian nelayan, kini naik kelas jadi komoditas ekspor. Nelayan Buton yang ditemui reporter di lokasi mengaku, pendapatan mereka beberapa bulan terakhir mulai terasa naik setelah ada kontrak pembelian dari pihak eksportir.
“Dulu ubur-ubur ini banyak orang tidak mau pusing ji, lebih pilih ikan. Sekarang, begitu ada yang cari rutin, kami sengaja atur jadwal melaut supaya bisa kejar ubur-ubur juga,” kata seorang nelayan senior yang sudah puluhan tahun melaut di perairan Buton. Ia menambahkan, dengan adanya ekspor ke Tiongkok, nelayan jadi punya pilihan pendapatan lain di luar ikan dan cumi. Ini penting toh, supaya saat musim ikan kurang, masih ada komoditas alternatif yang bisa diandalkan.
Pemerintah daerah pun dikabarkan ikut menyambut langkah ini dengan harapan besar. Ekspor perdana ini bisa jadi pintu masuk untuk komoditas laut lainnya seperti rumput laut, teripang, dan hasil olahan ikan dari Sulawesi Tenggara. Baca Juga: Program Pemkot Kendari Dukung Nelayan dan UMKM Pesisir yang juga menyasar penguatan rantai distribusi dan pengolahan hasil laut, diharapkan bisa bersinergi dengan geliat ekspor seperti yang terjadi di Buton hari ini.
Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, tapi elus dada bahagia. Di tengah tekanan ekonomi dan harga bahan pokok yang naik turun, kabar ada ekspor baru dari pesisir Buton ini seperti nafas segar buat warga.
Proses Pengolahan Ubur-Ubur: Tidak Sembarangan, Standar Ekspor Ketat Ji
Jangan kira Ekspor Ubur-Ubur Buton ini asal kirim ji. Di lapangan, reporter menyaksikan langsung proses pengolahan yang cukup panjang. Ubur-ubur yang baru ditangkap dibawa ke tempat penampungan, lalu dibersihkan, dibuang bagian yang tidak dibutuhkan, kemudian diawetkan dengan metode khusus. Semua dilakukan supaya produk tahan perjalanan jauh menuju Tiongkok namun tetap memenuhi standar keamanan pangan internasional.
Di area pengolahan, pekerja menggunakan sarung tangan dan peralatan khusus. Ada pula petugas pengawas mutu yang rutin cek kadar garam, kebersihan air, hingga memastikan tidak ada benda asing yang ikut masuk ke dalam kemasan. “Kalau standar tidak lolos, bisa ditolak di pelabuhan tujuan pi, dan itu risiko besar buat perusahaan dan nama Buton sendiri,” jelas salah satu petugas pengawas.
Di titik inilah kita bisa lihat, ekspor bukan sekadar soal banyaknya hasil laut, tapi juga soal pengetahuan teknis dan kedisiplinan. Buton pelan-pelan naik kelas, Sobat Kendari. Dari yang dulu hanya mengandalkan jual ke pasar lokal, kini sudah bicara tentang rantai pasok global.
Pasar Tiongkok dan Peluang Lanjutan untuk Buton dan Sultra
Pasar Tiongkok dikenal rakus mi untuk produk-produk kelautan. Dari ikan, rumput laut, sampai ubur-ubur, semua bisa jadi bahan olahan kuliner dan industri. Dengan tembusnya Ekspor Ubur-Ubur Buton ke negara itu, sinyal kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas produk laut Sultra makin kuat toh.
Peluang jangka panjangnya, jika ekspor berjalan lancar dan konsisten, bukan tidak mungkin kontrak baru bermunculan. Nelayan bisa didorong membentuk kelompok usaha bersama, koperasi, atau kemitraan dengan pengusaha lokal. Pemerintah daerah juga bisa memperkuat infrastruktur pelabuhan, jalan ke sentra produksi, hingga fasilitas pendingin di kawasan pesisir.
Sobat Kendari yang suka amati perkembangan ekonomi kawasan, jelas harus pantau terus perkembangan Buton ini. Jangan lupa, geliat pesisir seperti ini bisa berkaitan erat dengan aktivitas di ibu kota provinsi. Distribusi ke pelabuhan besar, akses perbankan, sampai layanan logistik banyak terkoneksi lewat Kendari. Baca Juga: Rencana Revitalisasi Pasar Baru di Kendari yang juga disebut-sebut akan jadi simpul perdagangan hasil laut dari kabupaten sekitar.
Kalau semua jalur ini tersambung rapi, Buton, Kendari, dan kabupaten lain di Sultra bisa bangkit bareng. Deh, nda ada obatnya kalau potensi laut dan manajemen dagangnya dikelola serius.
Tantangan Ekspor Ubur-Ubur Buton: Dari Cuaca sampai Regulasi
Tapi tenang ji, kita juga harus realistis toh. Di balik euforia Ekspor Ubur-Ubur Buton perdana ini, ada tantangan yang tidak kecil. Pertama, faktor cuaca dan musim yang memengaruhi ketersediaan ubur-ubur. Nelayan harus pintar mengatur pola tangkap supaya tidak merusak ekosistem dan tetap memenuhi kebutuhan ekspor.
Kedua, soal regulasi dan standar mutu. Ekspor ke negara seperti Tiongkok berarti berhadapan dengan aturan ketat soal higienitas, kandungan bahan kimia, hingga ketelusuran produk. Artinya, sistem pencatatan dan pelaporan di tingkat nelayan, pengepul, dan pengolah harus rapi. Tidak bisa lagi ada istilah “kira-kira ji” kalau sudah main di level ekspor seperti ini.
Ketiga, kebutuhan pendampingan dan pelatihan. Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu turun tangan terus, bukan hanya saat seremoni pelepasan kontainer di pelabuhan saja. Nelayan butuh akses modal, pengetahuan teknik pengolahan dasar, sampai pemahaman tentang kontrak dagang. Di sini peran kampus, LSM, dan komunitas ekonomi kreatif di Kendari juga bisa ikut menyala.
Warga Kota Lulo, kalau semua tantangan ini pelan-pelan diurai, ekspor perdana hari ini bisa jadi tonggak sejarah yang nanti kita ceritakan ke anak-cucu. “Dulu mulai dari ubur-ubur Buton, baru menyebar ke komoditas laut lainnya,” begitu mungkin kisahnya pi.
Penutup: Ekspor Ubur-Ubur Buton, Langkah Kecil Bergaung Global
Di bawah terik matahari pesisir, deru mesin kapal dan gemericik air laut bercampur dengan suara forklift di pelabuhan yang mengangkat kontainer berisi ubur-ubur menuju kapal tujuan Tiongkok. Mantap djiwa! Dari Buton untuk dunia, begitulah kira-kira semangat yang terasa di lapangan.
Ekspor Ubur-Ubur Buton bukan sekadar berita ekonomi singkat, tapi sinyal kuat bahwa daerah pesisir di Sulawesi Tenggara bisa ikut main di liga global jika diberi akses, pendampingan, dan kepercayaan. Kassian kalau potensi sebesar ini tidak diurus dengan baik, bisa lepas begitu saja ke pemain luar toh.
Untuk saat ini, mari kita syukuri dulu capaian perdana ini sambil tetap kritis memantau kelanjutannya. Apakah ekspor akan berlanjut rutin? Apakah kesejahteraan nelayan benar-benar naik terasa, bukan cuma di acara seremoni? Itulah pekerjaan rumah berikutnya yang harus dijawab bersama, dari Buton, Kendari, sampai tingkat provinsi.
Weh, menyala Buton! Tunggu pi, langkah-langkah ekspor berikutnya dari pesisir Sultra, dan kami akan terus siaga reportase langsung untuk Warga Kota Lulo di mana pun berada.






Average Rating