Beranda / Peristiwa / BPJS Ketenagakerjaan: 3 Fakta Geger Santunan Desa

BPJS Ketenagakerjaan: 3 Fakta Geger Santunan Desa

Penyerahan santunan kematian BPJS Ketenagakerjaan kepada keluarga aparat desa di Laywo Jaya
0 0
Read Time:4 Minute, 7 Second

Beritakotakendari.comBPJS Ketenagakerjaan bikin geger haru satu kampung Laywo Jaya, Bosku! Dari tepi jalan desa yang masih basah habis hujan, reporter lapangan paling heboh se-Sultra ini berdiri langsung di lokasi penyerahan santunan kematian untuk aparat desa, bersama Kepala Desa Laywo Jaya dan Kepala Cabang BPJS Kota Kendari. Aih, suasananya campur aduk: sedih iya, tapi lega juga karena hak almarhum sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan akhirnya cair mi, aman ji itu hak keluarga toh.

Di balai desa sederhana yang penuh kursi plastik warna-warni, keluarga almarhum aparat desa duduk berjejer, menunggu momen penyerahan simbolis santunan. Spanduk BPJS Ketenagakerjaan dan nama Desa Laywo Jaya terpasang di belakang, jadi saksi betapa pentingnya program jaminan sosial ketenagakerjaan ini, apalagi untuk aparat desa yang tiap hari berjibaku urus warga.

BPJS Ketenagakerjaan di Laywo Jaya: Momen Haru yang Menyala

Saudara-saudaraku, suasananya tadi betul-betul senam jantung level haru. Kepala Desa Laywo Jaya berdiri di depan, memegang mikrofon, suaranya sempat bergetar waktu menyebut nama almarhum aparat desa yang jadi peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan. “Ini bukti, aparat desa juga punya perlindungan ji, bukan cuma pegawai kota,” begitu kira-kira pesan beliau.

Di sisi lain, Kacab BPJS Kota Kendari tampil resmi tapi tetap ramah khas Kendari, menjelaskan bahwa santunan kematian ini adalah hak penuh peserta yang rajin dibayarkan iurannya. Nilai santunan tidak hanya meringankan duka keluarga, tapi juga jadi pengingat keras, aih, betapa pentingnya kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja formal maupun non-formal, termasuk perangkat desa.

“Jangan tunggu pi kejadian dulu baru sibuk urus BPJS,” katanya tegas, sambil menatap seluruh aparat desa yang hadir. Weh, menyala abangku! Pesan itu langsung disambut anggukan warga. Kades juga menegaskan akan mendorong semua aparat dan tenaga pendukung desa ikut program BPJS Ketenagakerjaan biar kalau ada risiko kerja, keluarga nda ditinggal begitu saja.

Baca Juga: Program Perlindungan Pekerja Sektor Informal di Kendari

3 Fakta Penting BPJS Ketenagakerjaan untuk Aparat Desa

Sobat Kendari, biar makin jelas dan nda setengah-setengah mi info di kepala ta, berikut tiga poin yang paling menggelegar dari kegiatan di Laywo Jaya ini:

1. Santunan Kematian Cair sebagai Hak Penuh Peserta

Pertama, santunan yang diserahkan Kades Laywo Jaya bersama Kacab BPJS Kota Kendari ini bukan bantuan belas kasihan, tapi murni hak peserta BPJS Ketenagakerjaan. Astaga, penting sekali ini ditekankan. Iuran yang selama ini dibayarkan lewat skema kepesertaan aparat desa kembali dalam bentuk perlindungan saat risiko terburuk terjadi.

Keluarga almarhum tampak terharu berat, kassian, tapi sedikit lega karena ada pegangan untuk urus kebutuhan mendesak pasca-kepergian kepala keluarga. “Terima kasih banyak, kita nda sangka prosesnya bikin cepat ji begitu,” ujar salah satu anggota keluarga pelan, sambil sesekali menyeka air mata.

2. Kades dan BPJS Kompak Edukasi Warga Desa

Kedua, ini bukan cuma seremoni foto-foto lalu pulang pi. Setelah penyerahan santunan, Kacab BPJS Kota Kendari mengambil waktu khusus menjelaskan jenis-jenis program BPJS Ketenagakerjaan: Jaminan Kematian, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, sampai Jaminan Pensiun. Kades Laywo Jaya menimpali dengan bahasa campur Makassar-Kendari yang bikin warga gampang paham.

“Kita di desa ini kerja lapangan terus, motor di jalan, pergi kebun, urus administrasi di kecamatan. Kalau nda terlindungi toh, siapa mau jamin keluarga kita?” begitu kira-kira penjelasan beliau. Mantap djiwa! Edukasi semacam ini kalau rutin dilakukan, risiko pekerja desa tanpa perlindungan bisa turun drastis mi.

Baca Juga: Program Pemkot Kendari Dukung Jaminan Sosial Pekerja

3. Komitmen Perluasan Kepesertaan sampai Tingkat RT

Ketiga, yang bikin suasana makin geger membangun adalah komitmen nyata dari Kades. Di hadapan Kacab BPJS, aparat desa, dan keluarga almarhum, ia menyatakan akan mendorong agar bukan hanya aparat desa inti, tetapi juga tenaga honorer, operator, bahkan kader-kader di tingkat RT dan dusun diarahkan ikut BPJS Ketenagakerjaan secara bertahap.

“Pelan-pelan ji, tapi jalan terus. Kita mulai dari yang paling rentan dulu,” kata beliau. Aih, ini langkah maju yang kalau konsisten, bisa jadi contoh emas buat desa-desa lain di sekitaran Kota Kendari dan Konawe sekitarnya. Alarm kesadaran soal jaminan sosial ibaratnya sudah berbunyi keras di Laywo Jaya, tinggal dijaga jangan mati lampu pi.

Dampak Sosial dan Pesan Moral dari Laywo Jaya

Warga Kota Lulo, dari kacamata jurnalis lapangan paling heboh se-Sultra, kejadian di Desa Laywo Jaya ini bukan sekadar seremonial bagi-bagi santunan. Ini seperti cermin besar yang menampar halus semua pekerja dan pemerintah desa di Sulawesi Tenggara: jangan anggap enteng perlindungan kerja. Hidup di lapangan itu penuh risiko; hari ini sehat, besok nda ada yang tahu toh.

Momentum ini juga sejalan dengan tren di Kota Kendari yang makin gencar bicara soal perlindungan jaminan sosial, dari pelaku UMKM, pekerja pasar, sampai panitia acara keagamaan seperti MTQ. Baca Juga: Info MTQ Kendari dan Dukungan BPJS bagi Panitia. Kalau desa-desa di pinggiran mulai menyala kesadarannya, Kota Kendari sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan bakal makin kuat pondasi sosialnya.

Intinya, Bosku, jangan tunggu pi kabar duka baru ribut urus jaminan. Manfaatkan program BPJS Ketenagakerjaan selagi masih sehat dan kuat bekerja. Seperti kata Kacab di ujung acara, “Lebih baik siap duluan, daripada menyesal belakangan.” Deh, nda ada obatnya itu kalimat penutup!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan