Beritakotakendari.com – Bocah Kendari tewas ditabrak mobil bikin geger satu Kota Lulo, Bosku! Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Kendari yang padat, seorang anak penjual tisu jadi korban maut di jalan raya. Astaga, situasi di lokasi kejadian betul-betul seperti senam jantung, warga berlarian, pengendara berhenti mendadak, dan suasana mendadak hening bercampur panik.
Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara sudah berdiri di tepian jalan, tempat bocah malang itu ditabrak mobil saat berjualan tisu. Aspal masih terasa panas, Bosku, tapi percakapan warga di sekitar makin panas lagi. Semua bertanya-tanya, bagaimana bisa anak sekecil itu harus mengakhiri hidupnya di tengah deru mesin kendaraan?
Kronologi Bocah Kendari Tewas Ditabrak Mobil Saat Jual Tisu
Menurut keterangan sejumlah saksi mata yang ditemui di lokasi, kejadian maut ini terjadi pada jam sibuk, ketika arus kendaraan lagi deras-derasnya. Di? Jalanan sudah mirip sirkuit, kendaraan saling salip, dan di tengah situasi itu, bocah penjual tisu ini disebut sedang berusaha menawarkan dagangan ke pengendara yang berhenti di lampu merah.
“Kasian, kecil mi anak itu, kayaknya belum SD baik-baik, dia jalan di sela-sela mobil,” cerita salah satu warga dengan mata berkaca-kaca. Dalam hitungan detik, sebuah mobil diduga bergerak maju, entah karena tidak melihat keberadaan sang bocah atau kurang hati-hati, lalu duak! suara benturan terdengar. Aih, ngeri! Warga langsung berteriak, beberapa pengendara turun dari motor, sebagian lagi mengarahkan kendaraan ke pinggir jalan.
Tenang ji, sampai berita ini diturunkan, aparat kepolisian sudah turun tangan untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa pengemudi mobil yang diduga menabrak. Sementara itu, jenazah bocah malang ini telah dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Situasi di sekitar lokasi masih ramai oleh warga yang penasaran dan syok, apalagi banyak anak jalanan lain yang biasa berjualan di titik yang sama.
Baca Juga: Kondisi Lalu Lintas Padat di MTQ Kendari
Duka Warga Kota Lulo: Reaksi Emosional di Lokasi Kejadian
Warga Kota Lulo yang melintas di lokasi kejadian langsung terdiam. Beberapa ibu-ibu tampak memeluk anak mereka lebih erat, sementara para bapak geleng-geleng kepala. “Astaga, anak kecil jual tisu di tengah jalan begini, bahaya sekali toh,” ujar seorang pengendara yang berhenti cukup lama untuk melihat proses evakuasi.
Suara azan dari kejauhan bercampur dengan suara sirene kendaraan patroli. Deh, suasana mencekam bercampur pilu. Seorang pedagang kaki lima yang biasa mangkal di sekitar situ mengaku, bocah tersebut memang sering terlihat berjualan tisu dari satu mobil ke mobil lain. “Kerja mi dia begitu tiap hari, kadang sampai malam. Kadang kita kasi uang ji tanpa ambil tisunya, kasian sekali,” katanya pelan.
Saudara-saudaraku, di tengah hiruk pikuk Kota Kendari yang semakin padat, kejadian seperti ini seperti alarm bahaya yang berbunyi nyaring. Bukan cuma soal kelalaian pengendara, tapi juga soal anak-anak yang harus turun ke jalan mencari nafkah, bertaruh nyawa di antara deru knalpot dan klakson. Kassian, ini bukan sekadar angka kecelakaan lalu lintas, tapi tragedi kemanusiaan.
Fokus Keselamatan: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Sobat Kendari, pertanyaan paling keras yang bergema di lokasi kejadian adalah: siapa yang paling bertanggung jawab? Pengemudi mobil? Orang tua sang bocah? Atau pemerintah yang belum maksimal melindungi anak-anak di jalanan? Diskusi ini panas mi di pinggir jalan, sama panasnya dengan aspal siang hari.
Pihak kepolisian, sesuai prosedur, tentu akan memeriksa pengemudi, kelengkapan surat-surat kendaraan, dan kemungkinan pelanggaran lalu lintas. Namun di balik itu, ada masalah struktural yang lebih besar: anak-anak yang harus bekerja di jalan. Di? Apakah mereka punya pilihan lain? Atau ini soal tekanan ekonomi keluarga yang memaksa mereka turun ke jalan?
Baca Juga: Program Perlindungan Anak oleh Pemkot Kendari
Bocah Penjual Tisu dan Potret Kemiskinan Kota
Warga sekitar mengaku, bocah penjual tisu bukan satu-satunya anak yang setiap hari berkeliaran di persimpangan jalan demi beberapa lembar uang. Di lampu merah, di sekitar pasar, sampai di kawasan MTQ, kita sering lihat anak-anak membawa tisu, permen, atau sekadar mengamen. “Banyak mi mereka, bergantian, kadang sama orang tuanya, kadang sendiri,” ujar seorang tukang ojek online.
Di sisi lain, sebagian pengendara mengaku sering merasa serba salah. Mau bantu, takut mereka makin terbiasa di jalan. Tidak bantu, hati rasa berdosa. Weh, situasi serba salah begini bikin batin warga Kota Lulo campur aduk. Tapi satu hal jelas: anak sekecil apapun tidak seharusnya berjudi dengan nyawa di tengah kendaraan yang melaju.
Seruan Warga Kendari: Perketat Pengawasan dan Edukasi Lalu Lintas
Beberapa tokoh masyarakat yang sempat ditemui di sekitar lokasi langsung menyerukan langkah konkret. Pertama, penertiban anak jalanan dan perlindungan dari dinas terkait. Kedua, penegakan aturan lalu lintas yang lebih tegas bagi pengemudi yang ugal-ugalan. Ketiga, edukasi massif soal bahaya anak turun ke jalan.
“Bukan mau keras, tapi kalau tidak ada tindakan tegas, akan ada korban berikutnya ji,” ujar seorang tokoh pemuda. Ia juga mendorong agar Pemkot Kendari menggencarkan lagi program perlindungan sosial untuk keluarga rentan, supaya anak-anak tidak lagi harus jualan di tengah jalan yang ramai.
Baca Juga: Kebijakan Penataan PKL di Pasar Baru Kendari
Jalan Raya Bukan Tempat Anak Bermain, Apalagi Mencari Nafkah
Warga Kota Lulo, pesan paling keras dari tragedi bocah Kendari tewas ditabrak mobil ini adalah: jalan raya bukan arena bermain, bukan pula tempat anak-anak mencari nafkah. Jalan raya adalah zona berbahaya, tempat satu detik lengah bisa berujung duka seumur hidup. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, apalagi yang sudah punya anak kecil di rumah.
Tunggu pi hasil investigasi lengkap dari pihak kepolisian dan pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Kendari, tapi satu hal kita tidak perlu tunggu lagi: kesadaran bersama. Pengemudi, jangan kebut-kebutan. Orang tua, jangan biarkan anak turun ke jalan. Pemerintah, jangan tunda kebijakan perlindungan. Warga, jangan tutup mata.
Bosku, dari tepian jalan yang menjadi saksi bisu tragedi ini, reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara menutup laporan dengan satu harapan: semoga kejadian hari ini jadi yang terakhir. Cukup mi sampai di sini, jangan ada lagi bocah Kota Lulo yang meregang nyawa di atas aspal hitam hanya karena selembar tisu.





Average Rating