Beritakotakendari.com – Pembangunan SDM bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) yang lagi ramai kayak lautan manusia ini, Andi Sumangerukka tampil bak orator senam jantung, membeberkan bagaimana pembangunan SDM di UMK bisa jadi kunci memutus rantai kemiskinan di Sulawesi Tenggara. Astaga, warga Kota Lulo langsung pasang telinga baik-baik mi, karena yang dibahas bukan main-main: masa depan ekonomi Sultra, toh!
Pembangunan SDM di UMK Jadi Senjata Utama Lawan Kemiskinan
Sobat Kendari, suasana di kampus UMK siang ini benar-benar menyala, weh! Terik matahari tidak menyurutkan semangat mahasiswa, dosen, dan tamu undangan yang tumplek-blek di area acara. Di tengah hiruk pikuk itu, sosok Andi Sumangerukka berdiri di podium, menegaskan bahwa pembangunan SDM di kampus-kampus seperti UMK adalah garda terdepan pengentasan kemiskinan di Sultra.
Menurut penjelasan yang ia sampaikan dengan nada tegas tapi bersahabat, kemiskinan di Sultra tidak bisa dilawan hanya dengan proyek fisik dan bangun gedung megah ji. “Kalau kualitas manusianya tidak kita naikkan, percuma pi kita bangun infrastruktur besar-besar,” begitu kira-kira pesan yang ia tekankan di hadapan civitas akademika. Aih, ngeri kalau dipikir, karena ini menyentil banyak pihak yang selama ini terlalu fokus fisik, lupa isi kepalanya manusia, toh.
Andi memetakan bahwa sektor pendidikan tinggi, termasuk UMK, wajib didorong jadi pusat produksi SDM yang siap saing: dari kemampuan teknis, soft skill, sampai etika kerja. Ia mengaitkan langsung antara tingkat pendidikan, akses pelatihan, dan angka kemiskinan yang masih menggelayut di beberapa kabupaten di Sultra. “Kalau kita kuatkan kampus, kita kuatkan SDM, maka kemiskinan akan turun perlahan tapi pasti,” kurang lebih begitu garis besarnya.
Di sela-sela orasi, tampak beberapa mahasiswa mengangguk-angguk, mungkin sambil berpikir, “Iya mi, masa sarjana tapi nda siap bersaing di dunia kerja.” Situasi betul-betul seperti kelas besar terbuka, cuma bedanya ini di ruang terbuka dengan suasana geger ala kampanye pembangunan, bukan kelas biasa ji.
Baca Juga: Program Beasiswa Pemkot Kendari yang Bikin Semangat Kuliah
Pembangunan SDM di Kampus UMK: 5 Pilar yang Dibeberkan
Weh, menyala abangku! Dalam pemaparannya, Andi Sumangerukka tidak datang dengan tangan kosong. Ada beberapa poin yang ia tekankan sebagai pilar pembangunan SDM di UMK agar benar-benar bisa jadi kunci pengentasan kemiskinan, bukan slogan kosong ji.
1. Penguatan Kurikulum Berbasis Kebutuhan Pasar Kerja
Ia menegaskan, kurikulum kampus harus nyambung dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Jangan sampai mahasiswa belajar mati-matian, tapi begitu lulus bingung cari kerja, kassian. “Harus ada link and match, bukan sekadar teori di kelas ji,” ujarnya. Di sinilah peran UMK untuk rutin update kurikulum, menggandeng dunia usaha lokal sampai nasional.
2. Peningkatan Kualitas Dosen dan Fasilitas
Andi menyebut bahwa dosen adalah ujung tombak. Kalau dosennya tidak terus upgrade kemampuan, susah pi mahasiswa mau naik level. Ia mendorong pelatihan, studi lanjut, dan riset kolaboratif. Fasilitas kampus, mulai dari laboratorium sampai perpustakaan digital, juga harus digenjot supaya mahasiswa tidak ketinggalan zaman.
3. Akses Beasiswa dan Keadilan Pendidikan
Astaga, bagian ini bikin senyum banyak mahasiswa. Ia menyoroti pentingnya beasiswa untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu di pelosok Sultra, supaya tidak terhenti kuliah hanya karena biaya. “Kalau anak pintar tapi putus kuliah gara-gara biaya, itu kegagalan kita bersama,” tegasnya. Di sini, sinergi dengan pemerintah daerah dan pihak swasta jadi kunci.
4. Kewirausahaan Mahasiswa sebagai Motor Ekonomi Baru
Ia mendorong UMK mengembangkan pusat kewirausahaan dan inkubator bisnis. “Mahasiswa jangan hanya siap jadi pencari kerja, tapi juga pencipta lapangan kerja, toh,” katanya. Dengan begitu, lulusan UMK bisa membuka usaha, menyerap tenaga kerja lokal, dan pelan-pelan mengurangi pengangguran yang nyambung langsung dengan angka kemiskinan.
5. Kolaborasi Kampus, Pemerintah, dan Dunia Usaha
Ini yang ia sebut sebagai jembatan emas. Tanpa kolaborasi, kampus akan jalan sendiri, pemerintah sendiri, dan swasta sendiri – hasilnya tidak maksimal ji. Ia menekankan pentingnya MoU, magang terstruktur, dan program riset terapan yang langsung menjawab masalah riil di lapangan, misalnya kemiskinan nelayan, petani, dan pelaku UMKM.
Baca Juga: Gebrakan Ekonomi UMKM di Kawasan Pasar Baru Kendari
Dampak Pembangunan SDM UMK bagi Kemiskinan di Sultra
Sobat Kendari, kalau semua konsep pembangunan SDM yang disuarakan Andi Sumangerukka ini berjalan konsisten, efeknya bisa jadi geger positif satu Sultra. Bayangkan mi: setiap tahun UMK meluluskan ratusan hingga ribuan sarjana yang bukan hanya pegang ijazah, tapi juga punya skill, jaringan, dan mental kerja yang kuat. Ini artinya ada pasukan baru yang siap turun ke lapangan, mengelola sumber daya alam, mengembangkan UMKM, sampai mengisi posisi strategis di birokrasi dan perusahaan.
Dalam pandangannya, ketika satu rumah tangga punya anggota keluarga dengan pendidikan tinggi dan penghasilan stabil, roda ekonomi berubah di tingkat mikro. Dari situ, pelan-pelan naik jadi perubahan makro: daya beli meningkat, perputaran uang di daerah naik, dan desa-desa di pelosok tidak lagi identik dengan kemiskinan ekstrem. “Ini bukan sulap, tapi kerja panjang. Tapi harus mulai mi dari sekarang,” ujarnya di hadapan audiens yang tampak serius menyimak.
Situasi di lokasi benar-benar seperti ruang diskusi besar terbuka. Ada yang sibuk merekam dengan ponsel, ada yang catat poin-poin penting, ada juga yang langsung bisik-bisik, “Kalau begini torang harus lebih giat kuliah toh, nda bisa malas-malasan ji.” Deh, nda ada obatnya kalau semangat sudah menular begini.
Baca Juga: Perkembangan MTQ Tingkat Kota Kendari dan Peran Generasi Muda
Tantangan Nyata Pembangunan SDM di Kampus dan Harapan ke Depan
Tentu bukan jalan mulus-mulus ji, Bosku. Dalam penguatan pembangunan SDM di UMK dan kampus lain di Sultra, masih ada tantangan: keterbatasan anggaran, akses internet di daerah, sampai mindset sebagian orang tua yang masih menganggap kuliah itu “nanti-nanti pi kalau ada uang”. Di sinilah pentingnya sinergi yang terus menerus antara kampus, Pemprov, dan kabupaten/kota.
Andi Sumangerukka menegaskan bahwa komitmen politik anggaran harus berpihak ke pendidikan. Kalau perlu, program pengentasan kemiskinan harus punya komponen wajib penguatan SDM. “Tidak bisa kita bicara pengentasan kemiskinan tanpa bicara pendidikan. Itu ibarat bangun rumah tanpa fondasi, roboh pi itu nanti,” tegasnya disambut tepuk tangan panjang.
Harapan besar menggantung di langit Kampus UMK sore ini. Warga Kota Lulo yang hadir, baik langsung maupun yang mengikuti lewat siaran daring, seperti mendapatkan alarm pengingat: kalau mau Sultra keluar dari statistik kemiskinan, semua harus bergerak. Mahasiswa giat belajar, dosen tingkatkan kualitas, pemerintah dukung kebijakan, dan dunia usaha buka ruang kolaborasi. Aih, kalau semua bergerak bareng, bisa-bisa Sultra jadi contoh nasional bagaimana kampus dan pembangunan SDM benar-benar jadi senjata pamungkas lawan kemiskinan, toh.






Average Rating