Beritakotakendari.com – HUT Sultra 62 bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari pagi sampai malam, konsep besar bertajuk “Harmoni Sultra 2026” menyulap jantung ibu kota Sulawesi Tenggara jadi arena perayaan raksasa. Lautan manusia tumpah ruah di pusat kota, lampu-lampu panggung menyala macam konser internasional, dan pelaku UMKM berjajar rapat bak pasar malam versi upgrade. Aih, suasana senam jantung betul, tapi bikin bangga ji warga Kota Lulo!
HUT Sultra 62 di Kendari: Harmoni Sultra 2026 Mengguncang Kota Lulo
Saudara-saudaraku, dari pantauan langsung di lapangan, rangkaian HUT Sultra 62 dalam kemasan “Harmoni Sultra 2026” ini bukan acara biasa-biasa toh. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menggandeng berbagai elemen: pemerintah kabupaten/kota, komunitas seni, pelaku ekonomi kreatif, hingga pelaku UMKM yang berjejer dari pagi sampai malam. Astaga, ramai mi sekali, parkiran sampai numpuk ke mana-mana.
Konsep “Harmoni Sultra 2026” dirancang sebagai kolaborasi besar yang tidak hanya fokus pada seremoni, tapi juga dorong perputaran ekonomi di Kendari. Stand kuliner lokal, kerajinan tangan, produk fesyen etnik, sampai kopi racik khas Sultra mengular di sepanjang area kegiatan. Suara musik tradisional bercampur dengan modern, bikin pengunjung betah berlama-lama. Baca Juga: Event Malam Kuliner di Kawasan MTQ Kendari yang juga disebut-sebut bakal terkoneksi dengan rangkaian agenda ini.
5 Fakta Penting HUT Sultra 62 dan Harmoni Sultra 2026
Weh, menyala abangku! Ada sedikitnya lima poin penting yang bikin HUT Sultra ke-62 kali ini terasa spesial di mata warga Kota Kendari dan sekitarnya.
1. Konsep Harmoni: Kolaborasi Besar Pemerintah dan Warga
Pertama, konsep “harmoni” bukan sekadar slogan di spanduk, Bosku. Di lapangan terlihat jelas, lintas instansi dan komunitas turun langsung. Pemerintah provinsi berkoordinasi dengan Pemkot Kendari, aparat keamanan, pelaku usaha, sampai kelompok sanggar seni. Tenaga teknis di lokasi sibuk memantau panggung, jalur listrik, dan pengaturan arus pengunjung. Tenang saja, aman ji itu barang, karena pengamanan terlihat cukup ketat meski suasananya sangat meriah.
Warga Kota Lulo datang dari berbagai sudut kota: dari Mandonga, Puuwatu, Konda, sampai Ranomeeto, semua berbaur. Deh, nda ada obatnya pemandangan malam hari ketika lampu-lampu dekorasi menyala, anak-anak berlari sambil pegang balon, dan ibu-ibu sibuk antre kuliner di salah satu stan yang mengangkat menu khas pesisir. Baca Juga: Program Terbaru Pemkot Kendari untuk UMKM yang digadang-gadang bakal ikut mendukung geliat ekonomi seperti ini.
2. Dorong Ekonomi Lokal: UMKM dan Pedagang Kecil Panen Berkah
Kedua, dampak ekonominya terasa sekali, Kassian kalau ada yang bilang ini cuma acara hura-hura. Di sepanjang lokasi, penjual makanan, minuman, aksesori, sampai pengrajin lokal mengaku penjualan naik signifikan. Ada penjual sinonggi, kagitanku, dan berbagai jajanan kekinian yang antreannya mengular. Aih, kalau begini tiap pekan, bisa senyum lebar terus itu pedagang.
Pelaku UMKM yang biasanya hanya mengandalkan penjualan di pasar tradisional, di acara HUT Sultra 62 ini mendapat panggung lebih luas. Banyak pengunjung yang baru sadar, ternyata produk lokal Sultra kece-kece juga, toh. Mulai dari fesyen berbahan tenun, kerajinan bambu, sampai kopi robusta dari wilayah perbukitan. Kalau konsep seperti “Harmoni Sultra 2026” dibuat berkelanjutan, bukan tidak mungkin Kendari makin kokoh sebagai pusat perputaran ekonomi regional. Baca Juga: Revitalisasi Pasar Baru Kendari dan Dampaknya yang juga jadi salah satu penopang sirkulasi barang dan jasa di kota ini.
3. Panggung Seni Budaya: Dari Tarian Tradisional hingga Musik Modern
Ketiga, aspek hiburan dan budaya juga menyala mi. Di panggung utama, tarian tradisional dari berbagai kabupaten/kota di Sultra dipentaskan secara bergantian. Kostum warna-warni, gerakan energik, dan tabuhan musik tradisional menggema sampai sudut jalan. Aih, bikin merinding sekaligus bangga jadi orang Sultra.
Usai sesi tradisional, giliran musisi lokal dengan aransemen modern yang menguasai panggung. Anak muda Kendari memadati area depan panggung, bernyanyi bersama, dan mengabadikan momen lewat ponsel. Situasi ramai, tapi tertib ji, karena panitia dan aparat terus keliling mengingatkan soal keamanan. Di?, kapan lagi liat suguhan lengkap tradisional-modern dalam satu paket perayaan ulang tahun provinsi begini?
4. Antusias Warga: Lautan Manusia di Tengah Kota
Keempat, antusiasme warga bikin jurnalis lapangan macam saya ini sampai kewalahan cari sudut liputan. Dari sore sampai malam, area sekitar lokasi berubah bak festival akbar. Kendaraan mengular, pejalan kaki memadati trotoar, dan pedagang kaki lima ikut merapat. Macet mi lagi di beberapa titik, tapi suasananya tetap terasa sebagai pesta rakyat, bukan kemacetan yang bikin emosi.
Warga dari luar Kendari juga terlihat hadir, termasuk rombongan dari Konawe, Konawe Selatan, dan Bombana. Mereka memanfaatkan momen HUT Sultra 62 ini untuk jalan-jalan sekalian belanja. Ini menambah arus uang masuk ke kota, Bosku. Kalau ditata makin rapi, bisa jadi magnet wisata tahunan, tinggal tunggu pi paket promosi resmi dari pemerintah daerah.
5. Harapan ke Depan: Harmoni Sultra 2026 Jangan Cuma Seremonial
Kelima, di balik gegap gempita perayaan, ada harapan besar agar “Harmoni Sultra 2026” tidak berhenti di panggung dan kembang api. Warga Kota Lulo berharap, kolaborasi besar yang terbangun di momen seperti ini berlanjut ke program nyata: pemberdayaan UMKM, pelatihan ekonomi kreatif, dan penataan ruang publik yang lebih ramah event.
Pengamat lokal yang sempat saya temui di lokasi menekankan, momentum seperti HUT Sultra 62 ini bisa jadi etalase potensi Sulawesi Tenggara. Mulai dari pariwisata bahari, budaya, sampai peluang investasi. “Kalau pemerintah konsisten, harmoni ini bisa jadi motor pembangunan, bukan cuma pesta satu malam,” begitu kurang lebih pandangannya. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada antara haru dan harap, semoga tidak sekadar euforia toh.
HUT Sultra 62 dan Identitas Kota Kendari sebagai Etalase Provinsi
Warga Kota Lulo, dari sudut pandang jurnalis yang keliling lapangan malam ini, jelas terlihat bahwa Kendari sedang menegaskan diri sebagai etalase utama Provinsi Sulawesi Tenggara. Panggung megah, stand UMKM tertata, dan rekayasa lalu lintas yang walau padat tapi masih terkendali menunjukkan kesiapan kota ini menggelar event skala besar.
Kalau pola seperti “Harmoni Sultra 2026” terus dimatangkan, Kendari bukan cuma dikenal sebagai kota transit atau kota kantor pemerintahan, tapi juga kota event yang hidup 24 jam ketika hari-hari besar datang. Mantap djiwa! Tinggal kita pantau pi, apakah gebrakan di HUT Sultra 62 ini berlanjut ke kebijakan-kebijakan konkret yang menyentuh langsung perut dan dompet rakyat. Untuk sementara, biar dulu kita menikmati kemeriahan malam ini, sambil berharap, esok pagi ekonomi tetap berputar, bukan hanya sisa sampah pesta yang tertinggal.






Average Rating