Beritakotakendari.com – Uang THR Anak bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari lorong-lorong Mandonga sampai pinggir Teluk Kendari, obrolan ibu-ibu sekarang bukan cuma harga sirup naik, tapi bagaimana cara kelola uang THR Lebaran anak supaya tidak ludes dalam sekejap. Di lapangan, reporter lagi berdiri di salah satu kompleks padat penduduk di Kota Kendari, suasana masih terasa lebarannya, amplop warna-warni berserakan, dan anak-anak senyum sampai kuping, aih, ngeri!
Warga Kota Lulo, momen THR ini memang sensitif ji. Uang THR anak sering jadi lautan rupiah kilat: datang sebentar, hilang mi begitu saja. Makanya, seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kendari, yang kami temui langsung di lapangan, kasih tips praktis dan logis tentang cara mengelola uang THR anak. Tenang mi, bukan dilarang belanja, tapi diatur toh, supaya masa depan anak juga kena berkah.
Uang THR Anak dan Fenomena Lebaran di Kendari
Astaga, setiap Lebaran di Kendari itu suasananya bisa dibilang “alarm bahaya” untuk dompet orang tua. Lautan manusia di mal, di Pasar Baru, di toko baju, semua rebutan diskon. Anak-anak minta sepatu baru, mainan baru, es krim, dan macam-macam. Uang THR anak yang harusnya bisa disisihkan, sering habis untuk belanja spontan.
IRT yang kami wawancarai, sebut saja Ibu R, warga kecamatan Mandonga, bilang begini: “Bukan pelit mi sama anak, tapi kalau semua dibelanjakan sekarang, anak tidak belajar menunda keinginan toh.” Menurutnya, uang THR anak sebaiknya diperlakukan sebagai alat pendidikan keuangan sejak dini, bukan cuma uang jajan musiman.
Baca Juga: Suasana Lebaran di Pasar Baru Kendari, Pedagang Sampai Kewalahan
5 Tips Uang THR Anak ala IRT Kendari yang Wajib Ditiru
Weh, menyala abangku! Ini dia 5 tips pengelolaan Uang THR Anak yang kami rangkum langsung dari lapangan. Ibu-ibu di Kendari bisa langsung praktik, bapak-bapak juga jangan cuma angguk-angguk di?
1. Aturan Emas: 50% Ditabung, 50% Dinikmati
Tips pertama, yang paling mantap djiwa: bagi dua mi uang THR anak. Ibu R menyarankan minimal 50 persen langsung ditabung, 50 persen boleh dibelikan keperluan atau keinginan anak. Jadi anak tetap senang, tapi ada juga yang disimpan. “Kalau semua diambil orang tua juga, anak bisa kecewa ji, tapi kalau semua dibelanjakan, sayang toh,” jelasnya.
Astaga, ini bukan teori kosong. Di lapangan, kami lihat sendiri beberapa orang tua di Kendari sudah biasakan anaknya pegang buku tabungan sendiri. Mereka ajar anak cek saldo tiap beberapa bulan. Situasi ini bukan cuma soal rupiah, tapi latihan sabar dan bertanggung jawab.
2. Pakai Celengan dan Rekening Anak Sekaligus
Tips kedua, kombinasikan cara tradisional dan modern. “Celengan kaleng itu tetap sakti ji, apalagi untuk anak yang masih TK atau SD kelas kecil,” kata Ibu R. Untuk anak yang lebih besar, bisa mulai dikenalkan ke rekening tabungan anak di bank. Di Kendari, beberapa bank sudah sediakan produk khusus tabungan pelajar yang setorannya kecil-kecil saja.
Teknisnya begini: uang receh dan pecahan kecil bisa dimasukkan ke celengan di rumah, sementara pecahan besar langsung disetor ke bank. Anak diajak ikut ke bank supaya rasa memiliki itu muncul. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, karena sederhana tapi efeknya panjang.
3. Ajak Anak Diskusi, Bukan Cuma Diperintah
Deh, nda ada obatnya kalau orang tua cuma bilang, “Ini mama simpan mi, jangan tanya lagi.” Anak bisa merasa diambil haknya toh. Ibu R menyarankan, orang tua duduk sebentar dengan anak, jelaskan pelan-pelan: “Ini uang THR-mu, nak. Separuh kita pakai beli apa yang kamu mau, separuh lagi kita simpan supaya bisa dipakai nanti kalau kamu perlu lebih besar.”
Dengan pola begitu, anak belajar bahwa menabung itu keputusannya juga, bukan paksaan. Situasi senam jantung di kasir mal waktu anak minta ini-itu pun bisa berkurang, karena sebelumnya sudah ada kesepakatan di rumah.
4. Prioritaskan Kebutuhan: Buku, Seragam, dan Les
Tips keempat ini agak serius sedikit. Ibu R mengaku sering mengarahkan uang THR anak untuk hal yang menunjang pendidikan. Misalnya, beli buku cerita, buku pelajaran tambahan, persiapan seragam sekolah tahun ajaran baru, atau membantu bayar les. “Biar anak juga tahu, uangnya berguna untuk masa depannya, bukan cuma mainan yang rusak dua minggu pi,” ujarnya.
Warga Kota Lulo, pola ini pelan-pelan menggeser mindset. Anak tidak lagi melihat uang hanya sebagai alat belanja, tapi juga sebagai modal untuk belajar dan berkembang. Mantap djiwa kalau banyak keluarga di Kendari bisa ikut pola begini.
5. Sisihkan Sedikit untuk Berbagi
Ini bagian yang paling menyentuh, kassian. Ibu R selalu minta anaknya sisihkan sedikit dari Uang THR Anak untuk disedekahkan. Tidak perlu banyak, yang penting konsisten. Bisa untuk kotak amal di masjid dekat rumah, atau bantu saudara yang kurang mampu.
“Anak belajar bahwa rezeki itu untuk dibagi, bukan dipegang sendiri saja ji,” katanya. Di lapangan, kami lihat beberapa anak dengan senyum malu-malu memasukkan uangnya ke kotak amal, suasana betul-betul bikin hati campur aduk.
Edukasi Keuangan Anak di Kendari: Investasi Jangka Panjang
Warga Kota Lulo, kalau bicara pendidikan keuangan anak, ini bukan soal hitungan hari, tapi tahun. Apa yang dilakukan orang tua di Kendari hari ini dengan uang THR anak bisa jadi pondasi kebiasaan finansial mereka ketika dewasa pi. Kalau sekarang mereka diajarkan disiplin, sabar, dan peduli, besar kemungkinan nanti mereka tidak gampang terjebak gaya hidup konsumtif.
Pemkot Kendari belakangan juga sering menggaungkan pentingnya literasi keuangan keluarga. Harapannya, praktik kecil di rumah seperti pengelolaan Uang THR Anak ini bisa nyambung dengan program-program besar pemerintah. Baca Juga: Program Edukasi Keuangan Keluarga Pemkot Kendari
Penutup: Kendari Bisa Jadi Contoh, Bosku!
Astaga, dari satu hal sederhana seperti uang THR anak, ternyata banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik. Dari lorong-lorong Wua-Wua sampai Anduonohu, kalau pola pengelolaan uang di keluarga mulai rapi, efeknya bisa terasa ke ekonomi kota juga. Belanja tetap jalan, tabungan tumbuh, dan rasa saling membantu tetap hidup.
Weh, menyala abangku dan saudara-saudaraku di Kendari! Lebaran boleh selesai, tapi kebiasaan baik harus jalan terus toh. Jangan tunggu pi tahun depan baru sadar, “Aduh, tahun lalu uang THR anak habis begitu saja.” Mulai mi dari sekarang, ajak anak bicara, buka celengan, bukakan rekening, dan jadikan setiap rupiah punya cerita. Baca Juga: Suasana MTQ dan Perputaran Ekonomi Mikro di Kendari






Average Rating