Beritakotakendari.com – Sampah Jalan Pasaeno bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara lagi berdiri langsung di badan Jalan Pasaeno ini, di tengah tumpukan sampah yang menggunung, bau menyengat, dan alat berat proyek drainase yang terpaksa pelan-pelan kerja karena tertahan tumpukan limbah rumah tangga. Aih, ngeri mi! Pengerjaan drainase yang harusnya lancar ji, sekarang senam jantung toh gara-gara sampah yang tidak terangkut maksimal.
Sampah Jalan Pasaeno Ganggu Pengerjaan Drainase
Warga Kota Lulo, di ruas Jalan Pasaeno Kendari ini suasananya betul-betul seperti medan perang sampah. Lautan kantong plastik, sisa makanan, kardus, sampai kasur bekas campur-baur di pinggir badan jalan dan sebagian sudah merayap ke area galian drainase. Alat berat dan pekerja proyek tampak kewalahan. “Susah pak, kami gali sedikit, yang keluar bukan tanah ji, tapi sampah lagi, sampah lagi,” keluh salah satu pekerja proyek yang sempat saya wawancarai singkat di lokasi.
Dari pantauan langsung, material galian drainase yang harusnya rapi di satu sisi, kini bercampur dengan tumpukan sampah liar. Astaga, kalau dibiarkan begini, saat hujan deras turun, air bisa meluap lagi dan kerja proyek jadi sia-sia mi. Seorang ibu rumah tangga yang melintas mengaku resah: “Kami mau bagus ji itu drainase, supaya tidak banjir pi. Tapi kalau sampah begini terus, percuma toh pak.” Aih, betul juga itu ibu, logis sekali.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan kasus tunggal di Kendari. Di beberapa titik lain seperti kawasan pasar dan pemukiman padat, pola menumpuknya sampah di area proyek juga sering terjadi. Baca Juga: Kondisi Kebersihan di Sekitar Pasar Baru Kendari untuk lihat perbandingan situasi di titik lain yang tak kalah bikin geleng kepala.
5 Fakta Penting Sampah Jalan Pasaeno Kendari
Sobat Kendari, biar jelas mi kronologinya, berikut 5 fakta lapangan yang berhasil kami rangkum di Jalan Pasaeno:
- Tumpukan sampah sudah berlangsung berhari-hari
Warga sekitar menyebut, sampah mulai menumpuk parah sejak beberapa hari terakhir. Armada pengangkut sampah datang, tapi volume limbah rumah tangga dan usaha di sekitar lokasi jauh lebih besar. Akhirnya, seperti domino effect, sampah makin melebar sampai ke area galian. - Pengerjaan drainase terhambat
Pekerja proyek mengaku harus menghabiskan waktu tambahan hanya untuk memindahkan sampah sebelum menggali. Ini jelas menghambat progres pekerjaan dan bisa bikin target penyelesaian molor. Kalau molor pi, warga yang paling rugi, karena rawan banjir tetap mengancam. - Potensi penyumbatan drainase baru
Deh, nda ada obatnya kalau drainase yang baru dibangun sudah diisi sampah dari awal. Jika sampah-sampah ini tidak dibersihkan tuntas, saat hujan deras, potensi tersumbat sangat besar. Air meluap, jalan tergenang, dan warga teriak lagi, padahal konstruksi baru saja dikerja. - Perilaku buang sampah sembarang masih tinggi
Dari pengamatan langsung, tampak beberapa warga masih santai lempar kantong sampah ke tumpukan yang sudah ada. “Biasa ji pak, so ada tumpukan,” kata salah satu warga. Ini menunjukkan pola pikir bahwa kalau sudah ada sampah, tambah lagi toh. Aih, pola perilaku seperti ini yang bikin Kota Lulo susah naik kelas soal kebersihan. - Koordinasi pengelolaan sampah perlu diperkuat
Kondisi di Jalan Pasaeno mengirim sinyal bahaya bahwa koordinasi antara warga, petugas kebersihan, dan kontraktor proyek harus diperkuat. Tidak bisa lagi kerja sendiri-sendiri. Harus ada jadwal angkut sampah yang sinkron dengan jadwal kerja proyek, plus pengawasan lebih ketat.
Dampak Sampah Jalan Pasaeno ke Warga dan Lalu Lintas
Saudara-saudaraku, dampak situasi ini bukan main-main. Bau menyengat menusuk hidung, membuat pejalan kaki menutup hidung pakai masker dobel. Pengendara motor terpaksa mengurangi kecepatan karena badan jalan menyempit oleh tumpukan sampah dan material galian. Situasi senam jantung kalau malam hari, karena penerangan kurang dan pengendara bisa tidak sadar ada galian dan tumpukan di depannya.
Selain itu, secara estetika kota, Jalan Pasaeno yang merupakan salah satu akses penting ke beberapa kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi jadi tampak kumuh sekali. Ini berbanding terbalik dengan semangat Pemkot yang ingin menata wajah kota lebih bersih dan tertib. Baca Juga: Program Kebersihan Pemkot Kendari Tahun Ini untuk melihat janji-janji dan target yang sudah dicanangkan, supaya kita bisa bandingkan antara rencana dan realita di lapangan seperti yang saya saksikan langsung ini.
Respons Pemkot Kendari dan Harapan Warga
Weh, menyala abangku! Saat persoalan seperti ini mencuat, yang paling dinanti tentu: apa respon pemerintah? Dari informasi yang kami himpun, dinas terkait disebut sudah menerima laporan soal tumpukan sampah yang mengganggu pengerjaan drainase di Jalan Pasaeno. Langkah penanganan ekstra diharapkan segera turun, mulai dari penambahan armada angkut sementara, penertiban titik pembuangan liar, sampai sanksi tegas bagi oknum yang masih sembarang buang sampah.
Warga sendiri tidak tinggal diam. Beberapa tokoh lingkungan di sekitar Jalan Pasaeno sudah mengusulkan dibuatnya papan peringatan dan sosialisasi rutin. “Kalau hanya petugas yang kerja, tidak cukup ji. Warga juga harus sadar toh,” ujar seorang tokoh pemuda setempat. Mantap djiwa kalau ini bisa diwujudkan, karena perubahan perilaku memang kunci.
Untuk memperkuat kesadaran bersama, tak ada salahnya menengok daerah lain di Kendari yang mulai sukses memperbaiki manajemen sampah dan tata drainase. Baca Juga: Penataan Lingkungan Jelang MTQ di Kendari untuk melihat bagaimana momentum MTQ dimanfaatkan sebagai pemacu kebersihan kota.
Solusi Konkret Atasi Sampah Jalan Pasaeno
Sobat Kendari, masalah Sampah Jalan Pasaeno ini bukan cuma soal jijik dan bau mi, tapi soal keselamatan, kesehatan, dan efektivitas anggaran proyek. Beberapa solusi konkret yang bisa segera digenjot antara lain:
- Penertiban titik pembuangan liar dengan pemasangan rambu larangan dan patroli berkala di jam-jam rawan pembuangan.
- Penyesuaian jadwal angkut sampah agar frekuensi lebih sering selama masa pengerjaan drainase.
- Edukasi warga sekitar melalui RT/RW, sekolah, dan tempat ibadah, supaya ada rasa malu kalau buang sampah sembarang lagi.
- Koordinasi intens antara kontraktor, dinas kebersihan, dan lurah setempat, sehingga kalau ada lonjakan sampah bisa langsung direspon cepat ji, tidak tunggu berhari-hari pi.
Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada, tapi bukan berarti tidak bisa diubah. Warga Kota Lulo terkenal kompak kalau sudah sama-sama gerak. Tinggal tunggu pi langkah tegas dan konsisten dari Pemkot serta kedisiplinan kita semua. Kalau sampah bisa diatasi, drainase tuntas, Jalan Pasaeno bisa kembali lega dan Kota Kendari tampil lebih gagah, toh.





