Beritakotakendari.com – Moderasi Ramadan bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari pelataran masjid sampai warung kopi pinggir jalan, obrolan warga Kota Lulo lagi panas-panasnya soal bagaimana caranya jalani puasa yang khusyuk, tapi tetap damai, toleran, dan tidak berlebihan. Astaga, suasananya betul-betul kayak kelas besar keagamaan terbuka di seluruh kota mi!
Moderasi Ramadan di Kendari: Antara Ibadah Khusyuk dan Hidup Sehari-hari
Sobat Kendari, laporan langsung dari salah satu masjid besar di pusat kota, jamaah lagi serius membahas konsep Moderasi Ramadan. Ustaz di mimbar jelaskan, moderasi itu bukan mengurangi ibadah, tapi menempatkan ibadah secara seimbang: kuat di ibadah, kuat juga di akhlak dan toleransi. Aih, ngeri, dalam sekali bahasannya!
Di halaman masjid, jamaah salat tarawih baru bubar, tapi diskusi belum bubar ji. Ada yang tanya soal buka puasa di kafe, soal musik, soal kerja malam, bahkan soal konten media sosial. Ustaz jawab pelan, “Tenang mi, moderasi itu artinya jangan ekstrem kanan, jangan ekstrem kiri. Islam itu jalan tengah.” Mantap djiwa, bikin umat jadi adem toh.
Di kawasan Mandonga, pedagang takjil juga rasakan langsung dampak pembahasan Moderasi Ramadan ini. Mereka diajak untuk jujur soal timbangan, tidak menaikkan harga berlebihan, dan tetap jaga kebersihan. Lautan manusia antre takjil, tapi suasananya tertib, nda saling serobot. Baca Juga: Kondisi Ramadan di Kawasan Mandonga bikin kita lihat sisi lain kota yang makin dewasa ji.
5 Poin Penting Moderasi Ramadan yang Bikin Geger Diskusi
Warga Kota Lulo, ini lima poin yang paling ramai diperbincangkan di lapangan soal Moderasi Ramadan:
- Ibadah kuat, toleransi kuat: Umat diminta rajin tarawih, tilawah, dan sedekah, tapi juga lembut sama tetangga beda keyakinan. Jangan terlalu keras memaksa orang lain ikut aturan yang ia sendiri belum tentu sanggup jalani.
- Jaga tradisi, saring budaya luar: Di beberapa kampung sekitar Kendari, tradisi buka puasa bersama dan tadarus keliling tetap jalan, tapi ustaz ingatkan: ambil yang baik, tinggalkan yang bikin boros dan riya. Aih, senam jantung kalau dengar cerita utang konsumtif jelang lebaran.
- Media sosial: pahala atau petaka: Anak muda Kota Kendari sekarang ramai bikin konten Ramadan. Ustaz bilang, bagus ji kalau dakwah, tapi jangan sampai semua dipamerkan. Moderasi berarti tahu batas; upload secukupnya, ikhlasnya tetap di hati toh.
- Ekonomi Ramadan yang adil: Dari Pasar Baru sampai kios kecil di lorong-lorong, pedagang diimbau menahan diri tidak menaikkan harga sembako secara gila-gilaan. Baca Juga: Suasana Ramadan di Pasar Baru Kendari jadi sorotan, karena di situlah terasa apakah moderasi ini benar hidup di dompet warga atau cuma di mimbar saja.
- Tarawih khusyuk tanpa gaduh: Volume speaker masjid jadi bahan debat panas. Warga minta suara adzan dan takbiran tetap lantang, tapi ceramah tengah malam jangan sampai ganggu orang sakit dan anak kecil. Tenang mi, ini bukan larangan ibadah, tapi penyesuaian biar semua tetap nyaman ji.
Moderasi Ramadan dan Toleransi di Kota Lulo
Saudara-saudaraku, di beberapa titik di Kendari, terutama dekat kawasan perkantoran Pemkot dan kampus, suasana Ramadan terasa sangat moderat dan hangat. Di satu sisi, masjid penuh sesak saat tarawih, di sisi lain, warung makan yang melayani non-muslim tetap buka dengan cara tertutup, saling menghormati. Astaga, harmoninya bikin hati sejuk sekali.
Di dekat area perkantoran Info Terkini Kegiatan Pemkot Kendari, beberapa pegawai cerita ke reporter bahwa aturan jam masuk dan pulang disesuaikan supaya umat muslim bisa sahur dan berbuka dengan lebih tenang. Tapi pekerjaan tetap jalan, pelayanan publik tidak boleh berhenti. Inilah wujud nyata Moderasi Ramadan: ibadah jalan, kerja tetap tanggung jawab ji.
Di kelurahan-kelurahan padat penduduk, tokoh masyarakat mengingatkan agar warga tidak memaksa semua warung tutup total di siang hari. “Kita himbau baik-baik mi, bukan paksa. Moderasi toh namanya, bukan intimidasi,” ujar salah satu tokoh, sambil mengingatkan anak muda jangan balap liar setelah sahur. Situasi begini kadang bikin senam jantung, tapi kalau ditangani dengan dialog, aman ji itu barang.
Peran Keluarga dalam Menanamkan Moderasi Ramadan
Di lapangan, jelas sekali terlihat, keluarga adalah benteng pertama moderasi. Di rumah-rumah warga Kendari, orang tua ajarkan anak-anak bahwa puasa bukan cuma soal lapar dan haus, tapi juga soal sabar, sopan, dan tidak gampang marah. Weh, menyala abangku dan toli-toli kecil yang rajin sahur dan tak mengeluh!
Di beberapa kompleks perumahan, ada orang tua yang mulai batasi gawai anak, supaya waktu malam lebih banyak dipakai tadarus dan belajar. Tapi mereka tidak larang total ji; anak tetap boleh main game sesekali, asal tidak lewat batas. Di sinilah Moderasi Ramadan terasa paling nyata: bukan hidup serba hitam putih, tapi belajar menimbang dan memilih yang paling maslahat.
Aih, kalau lihat langsung interaksi orang tua dan anak di saat buka puasa, hati ini lembut sekali, kassian. Dari dapur, aroma ikan parende dan sinonggi naik, dari ruang tamu terdengar lantunan ayat-ayat pendek yang anak-anak coba hafalkan. Kota Kendari menjadi laboratorium hidup bagaimana sebuah konsep besar bernama moderasi itu, turun menjelma ke meja makan, ke cara bicara, sampai ke cara kita menegur orang lain dengan baik.
Kenapa Moderasi Ramadan Penting Bagi Kota Kendari?
Warga Kota Lulo, konsep ini penting bukan main. Kota kita berkembang cepat, penduduknya beragam suku dan agama. Kalau Ramadan dijalani secara moderat—ibadah mantap, toleransi kuat, ekonomi rakyat dijaga—maka konflik bisa ditekan, dan persaudaraan terpelihara. Kalau terlalu keras tanpa ilmu, bisa-bisa kita saling bentur. Kalau terlalu longgar tanpa arah, ruh Ramadan hilang ji.
Dengan Moderasi Ramadan yang tepat, Kendari punya peluang jadi contoh kota yang religius tapi tetap terbuka dan damai. Alarm bahaya soal perpecahan bisa kita redam dengan dialog, empati, dan kebijakan yang bijak dari pemangku kepentingan. Tinggal bagaimana semua pihak mau turun tangan: ulama, pemerintah, pemuda, sampai pedagang kaki lima di sudut jalan.
Jadi, Sobat Kendari, mari kita jadikan Ramadan kali ini bukan sekadar rutinitas, tapi momentum belajar moderasi. Ibadah jangan kendor pi, toleransi jangan tinggal slogan ji. Seimbang mi semua, biar kota ini terus menyala dalam kebaikan, bukan dalam keributan. Mantap djiwa!






Average Rating