Beritakotakendari.com – Oknum Dokter RSJPDO bikin geger satu Kota Lulo mi, Bosku! Reporter lapangan paling heboh se-Sultra lagi berdiri langsung di depan gerbang RSJPDO Oputa Yi Koo Kendari, malam yang tegang, lampu IGD masih menyala terang, tapi suasana hati keluarga korban lagi kelam betul. Seorang pasien kecelakaan, warga Kendari, disebut alami sampai 27 jahitan di kepala dan tubuh, tapi diduga ditinggal tanpa pendampingan memadai oleh oknum dokter jaga. Aih, situasi senam jantung ji ini, Saudara-saudaraku!
Kronologi Geger Oknum Dokter RSJPDO Oputa Yi Koo
Sobat Kendari, dari keterangan keluarga yang dihimpun di lokasi, korban disebut mengalami kecelakaan lalu lintas pada malam hari. Ia kemudian dilarikan ke RSJPDO Oputa Yi Koo sebagai pasien gawat darurat. Di ruang IGD inimi, menurut pengakuan keluarga, tindakan penjahitan luka dilakukan sampai total 27 jahitan. “Darah masih banyak, kami panik, tapi dokter seperti terburu-buru dan lalu pergi,” begitu kira-kira keluhan keluarga yang terekam di telinga kami.
Warga Kota Lulo yang datang menjenguk bilang, mereka merasa pelayanan saat itu kurang komunikatif. Keluarga menuduh oknum dokter di RSJPDO seolah mengabaikan tanggung jawab setelah tindakan awal, tidak memberikan penjelasan detail soal kondisi pasien maupun langkah lanjutan. Astaga, kalau benar begitu, ini bisa jadi alarm bahaya berbunyi nyaring toh!
Di pelataran parkir rumah sakit, beberapa kerabat korban terdengar berbisik-bisik soal rencana melaporkan kejadian ini ke pihak berwenang. “Kita tidak mau ini terulang, banyak orang lain yang berobat di sini,” ujar salah satu keluarga yang wajahnya masih pucat menahan emosi. Aih, ngeri ji kalau pelayanan kesehatan sampai bikin pasien dan keluarga trauma begini.
Baca Juga: Sorotan Pelayanan Kesehatan di Kota Kendari
Oknum Dokter RSJPDO Diduga Abai, Ini 5 Poin yang Bikin Warga Geram
Reporter lapangan menyimak satu per satu keluhan yang keluar malam ini. Berikut lima poin yang disebut keluarga dan saksi di lokasi, yang membuat nama Oknum Dokter RSJPDO jadi bahan bisik-bisik panas:
- Kurangnya komunikasi pascatindakan. Setelah proses jahit luka yang disebut mencapai 27 jahitan, keluarga mengaku tidak mendapat penjelasan menyeluruh soal kondisi korban, risiko, maupun observasi lanjutan. “Kami ditanya suruh tanda tangan, habis itu dokter hilang, nda ada penjelasan lengkap,” klaim keluarga.
- Dugaan meninggalkan pasien terlalu cepat. Keluarga merasa, oknum dokter seharusnya masih mendampingi atau memastikan korban dalam kondisi stabil lebih dulu. “Belum tenangmi kami, belum jelasmi, dokter sudah pergi pi,” kata salah satu saksi.
- Situasi IGD yang disebut sibuk berat. Malam itu, beberapa pasien lain juga menumpuk. Tenaga medis berlarian, perawat sibuk, tapi keluarga korban menganggap, sibuk bukan alasan untuk mengabaikan informasi dan empati ke pasien. Aih, RS rujukan besar harusnya punya standar pelayanan yang jelas toh.
- Luka korban yang dinilai cukup parah. Dengan 27 jahitan, keluarga berharap pemantauan ketat. “Kalau cuma luka kecil bole ji, tapi ini kepala sama tubuhnya dijahit banyak sekali,” keluh salah satu keluarga yang masih terlihat syok.
- Rencana aduan resmi. Karena merasa tidak puas, keluarga korban membuka opsi untuk menyampaikan laporan ke manajemen RS, organisasi profesi kedokteran, bahkan ke aparat penegak hukum jika diperlukan. Situasi mulai memanas, tapi beberapa tokoh keluarga mencoba menenangkan supaya semua tetap prosedural.
Baca Juga: Respons Pemkot Kendari soal Pengawasan Rumah Sakit
Suara Warga Kota Lulo: Pelayanan Kesehatan Jangan Main-main Mi
Warga yang kebetulan berada di area RSJPDO malam ini ikut nimbrung komentar. Ini Kendari mi, kota yang makin besar, kebutuhan layanan kesehatan makin tinggi. “Kita semua bisa jadi pasien kapan saja, makanya dokter dan perawat harus paham, pasien itu datang dalam kondisi takut dan panik,” tutur seorang warga yang mengaku sering mengantar keluarga berobat di sini.
Di media sosial lokal Kendari, kabar soal dugaan abai Oknum Dokter RSJPDO ini sudah mulai disebar dari grup WhatsApp ke Facebook. Caption-nya macam-macam, ada yang kalem, ada yang sudah pedas sekali. Weh, menyala abangku, dunia maya Kendari kalau sudah panas, bisa jadi lautan komentar dalam hitungan jam ji!
Namun, sejumlah netizen juga mengingatkan agar warga tetap menunggu klarifikasi resmi. “Jangan main vonis pi, dengar dulu penjelasan rumah sakit dan dokter bersangkutan,” tulis salah satu akun yang mengaku tenaga medis. Mantap djiwa kalau diskusi bisa tetap waras begitu, tidak asal baku hujat.
Respons Manajemen RS dan Etika Profesi Dokter
Sampai reportase ini diturunkan, tim Beritakotakendari.com masih mencoba menghubungi manajemen RSJPDO Oputa Yi Koo untuk mengonfirmasi duduk perkara. Proses konfirmasi penting, supaya jelas apakah ini murni miskomunikasi, beban kerja tinggi, atau memang ada pelanggaran etika yang fatal. “Tunggu pi dulu klarifikasi resmi, baru kita simpulkan,” kata salah satu staf rumah sakit yang ditemui sebentar di halaman.
Dalam standar etika profesi, dokter wajib bertanggung jawab terhadap pasien sejak awal penanganan sampai pasien dalam kondisi aman atau sudah dialihkan secara jelas ke tenaga medis lain. Komunikasi ke keluarga bukan bonus ji, tapi bagian dari pelayanan. Kalau komunikasi putus, keluarga merasa ditinggal, di situmi awal gejolak yang bikin heboh satu rumah sakit.
Organisasi profesi kedokteran biasanya dapat turun tangan jika ada laporan resmi. Mereka akan memeriksa apakah tindakan klinis sudah sesuai standar, bagaimana catatan medis, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu IGD saat kejadian. Jadi, warga Kota Lulo, penting toh untuk menyusun kronologi rapi dan bukti kalau memang mau mengadu, supaya kasus bisa dinilai secara adil.
Harapan Warga Kendari: Jangan Ada Korban Berikutnya
Di sela-sela kepanikan, keluarga korban masih menaruh harapan besar agar kondisi pasien membaik. “Yang paling utama selamatmi dulu dia, urusan lain belakangan,” ujar salah satu kerabat sambil mengelus bahu anggota keluarga lain. Kassian, di tengah rasa marah dan kecewa, mereka tetap fokus berdoa agar korban bisa pulih dari luka-lukanya.
Kasus heboh yang menyeret nama Oknum Dokter RSJPDO ini diharapkan jadi cermin bagi semua rumah sakit di Kendari. Pelayanan yang cepat, tepat, dan manusiawi itu bukan pilihan, tapi keharusan. Apalagi Kendari sedang terus berbenah sebagai pusat rujukan kesehatan di Sulawesi Tenggara. Jangan sampai citra baik yang dibangun bertahun-tahun rusak cuma karena sikap segelintir oknum.
Buat Sobat Kendari, kalau mengalami kejadian serupa, catat waktu, nama petugas, dan semua detail penting. Itu akan sangat membantu saat melapor, baik ke manajemen RS maupun ke lembaga pengawas kesehatan. Dan tentu, tetap jaga emosi, karena tenaga medis lain yang bekerja sesuai prosedur juga butuh dukungan kita. Tenang saja, aman ji kalau semua pihak patuh aturan dan terbuka pada kritik.
Baca Juga: Update Proyek RS Baru dan Fasilitas Kesehatan di Pasar Baru
Reporter lapangan pamit dulu dari halaman RSJPDO Oputa Yi Koo. Udara malam Kendari terasa berat, tapi semoga kasus ini segera terang benderang mi, ada kejelasan hak pasien, dan ada perbaikan nyata di pelayanan. Warga Kota Lulo, tetap kritis tapi santun toh, supaya Kendari makin maju tanpa meninggalkan kemanusiaan.





Average Rating