Beritakotakendari.com – TRG Kendari bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Di tengah panas terik siang hari, kami pantau langsung di depan kantor travel ini, para jemaah umrah yang sudah bayar total sekitar Rp11 miliar dikabarkan harus menelan pil pahit: dana mereka disebut sudah tidak ada mi. Astaga, situasi di lokasi betul-betul seperti “senam jantung” versi dunia nyata, Warga Kota Lulo!
Warga mondar-mandir, sebagian duduk lemas, sebagian lagi berembuk sambil menggenggam map berisi berkas pembayaran. Suasana tegang, tapi tetap tertib. Kami di lapangan dengar sendiri keluhan jemaah yang merasa harapan berangkat umrah di depan mata, tiba-tiba seperti menguap di udara. Aih, ngeri ji!
Baca Juga: Heboh Polemik Travel dan Umrah di Kota Kendari
TRG Kendari dan Pengakuan Soal Dana Rp11 Miliar yang Bikin Geger
Dari keterangan yang beredar, owner TRG Kendari menyebut dana sekitar Rp11 miliar yang sudah dibayarkan ratusan jemaah umrah itu “sudah tidak ada”. Kalimat pendek tapi efeknya seperti sirene darurat, Bosku. Warga langsung tanya-tanya: ke mana pi uang itu mengalir? Dipakai apa ji? Dan bagaimana nasib keberangkatan mereka?
Beberapa jemaah yang kami temui di lokasi mengaku sudah melunasi biaya umrah sejak berbulan-bulan lalu. Ada yang jual motor, gadai kebun, bahkan pinjam di koperasi demi bisa berangkat ke Tanah Suci. “Kami ini bukan cari mewah, cuma mau tunaikan niat ibadah, Toh,” ujar salah satu jemaah dengan suara bergetar. Kassian, memang bikin hati teriris dengarnya.
Di sekitar kantor, lalu lintas ikut tersendat. Mobil parkir sembarang, motor berderet seperti lautan besi. Petugas keamanan nonformal dari warga sekitar ikut mengatur kendaraan agar tidak menutup jalan. Situasi memanas, tapi semuanya masih berusaha menahan diri.
Baca Juga: Respons Pemkot Kendari Terkait Persoalan Travel Ibadah
5 Fakta Penting Kasus TRG Kendari yang Wajib Tahu
Sobat Kendari, supaya tidak simpang siur, berikut lima poin yang saat ini jadi sorotan di lapangan terkait TRG Kendari dan dana Rp11 miliar ini:
1. Dana Rp11 Miliar Diakui Sudah Tidak Ada
Pengakuan bahwa dana Rp11 miliar “sudah tidak ada” mi menjadi pemicu utama ledakan keresahan. Bagi jemaah, kalimat ini bukan sekadar angka, tapi representasi keringat dan air mata. “Kalau tidak ada, bagaimana Toh hak kami?” tanya seorang jemaah dari Kendari Barat.
Di lapangan, tampak beberapa tokoh masyarakat mencoba menenangkan warga. Mereka menyarankan agar proses hukum dan mediasi ditempuh, bukan aksi anarki. “Tenang mi dulu, kita urus baik-baik lewat jalur resmi,” kata mereka. Tapi wajar ji kalau emosi jemaah naik turun.
2. Status Keberangkatan Jemaah Menggantung
Weh, inilah yang paling bikin deg-degan: status keberangkatan ratusan jemaah ini sekarang menggantung di udara, Bosku. Mereka sudah serahkan paspor, sudah lakukan manasik, bahkan sebagian sudah beli perlengkapan umrah. Tapi dengan pengakuan dana yang sudah tidak ada, jadwal keberangkatan jadi tanda tanya besar.
“Kami sudah cuti kerja, sudah siap mental, tinggal tunggu berangkat mi. Sekarang dibilang uang tidak ada, kami harus bagaimana Toh?” keluh seorang jemaah yang datang bersama keluarganya. Suasananya mencekam tapi penuh harap, semua menanti ada keajaiban solusi.
3. Desakan Jemaah untuk Transparansi Total
Di depan kantor TRG Kendari, suara paling lantang yang terdengar adalah tuntutan transparansi. Jemaah ingin penjelasan rinci: aliran dana, kontrak dengan pihak maskapai, dan posisi aktual hak mereka. Mereka tidak mau lagi hanya dijanjikan “tunggu pi” tanpa kepastian tertulis.
“Jangan cuma bilang rugi, jelaskan mi rinci, dokumen tunjukkan, supaya kami tahu masalah sebenarnya apa,” kata salah satu perwakilan jemaah. Aih, permintaan ini sangat wajar. Di zaman sekarang, transparansi keuangan travel ibadah itu harga mati.
4. Potensi Proses Hukum Menguat
Sejumlah jemaah mulai membahas opsi pelaporan ke aparat penegak hukum. Beberapa terlihat membawa map berisi kwitansi pembayaran, kontrak, hingga bukti transfer. “Kalau tidak ada solusi jelas dalam waktu dekat, kami akan lapor resmi, Toh,” ujar salah satu jemaah yang mengaku datang dari luar Kota Kendari.
Warga sekitar pun ikut mengingatkan agar jalur hukum ditempuh secara tertib dan terkoordinasi, jangan sampai ada tindakan spontan yang merugikan jemaah sendiri. Situasinya seperti bom waktu, tapi semua masih berharap bisa damai ji.
Baca Juga: Sorotan DPRD Kendari Soal Perlindungan Jemaah
5. Warga Kota Lulo Minta Pengawasan Travel Diperketat
Dampak geger TRG Kendari ini melebar ke diskusi lebih luas: soal pengawasan travel umrah dan haji di Kota Lulo. Di warung kopi sekitar Pasar Baru, di Mandonga, sampai di area MTQ, topik ini jadi bahan obrolan panas. “Harus diperketat mi perizinannya, jangan sembarang orang bisa buka travel dan pegang uang miliaran begitu ji,” kata salah satu warga.
Banyak yang mendorong agar instansi terkait di Pemkot Kendari dan kementerian teknis turun tangan serius. Bukan cuma penertiban izin, tapi juga edukasi ke masyarakat agar lebih teliti memilih travel. Mantap djiwa kalau ke depan ada sistem yang bikin dana jemaah lebih aman, tidak gampang hilang begitu Toh.
Suasana Terbaru di Lokasi TRG Kendari
Sampai laporan ini kami turunkan, suasana di depan kantor TRG Kendari masih ramai, tapi perlahan lebih terkendali. Beberapa jemaah tampak berkumpul kecil-kecil, menyusun langkah bersama. Ada yang usulkan membentuk perwakilan resmi, ada yang menunggu kedatangan pihak berwenang untuk mediasi.
Petugas keamanan setempat berjaga agar situasi tetap kondusif. Lalu lintas yang sempat tersendat sekarang mulai lebih lancar. Meski begitu, raut wajah jemaah masih kelihatan berat. Harapan besar mereka untuk menyentuh Tanah Suci seakan tertunda di tengah ketidakjelasan dana Rp11 miliar ini.
Warga Kota Lulo, pelajaran keras dari kasus ini jelas terasa: hati-hati mi, cek izin, rekam jejak, dan sistem perlindungan dana sebelum titip rupiah hasil jerih payah. Tapi untuk jemaah yang sudah terlanjur jadi korban, harapan kita semua satu: ada jalan keluar yang adil, jelas, dan tidak merugikan mereka lagi. Semoga ini segera terang benderang, supaya Kota Kendari bisa bernafas lega ji, tidak terus-terusan hidup dalam geger travel umrah begini Toh.






Average Rating