Beranda / Peristiwa / Bocah Jual Tisu Kendari: 5 Fakta Tragis Geger

Bocah Jual Tisu Kendari: 5 Fakta Tragis Geger

Suasana duka di lorong rumah bocah jual tisu Kendari
0 0
Read Time:5 Minute, 28 Second

Beritakotakendari.comBocah jual tisu Kendari bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Seorang bocah 8 tahun dilaporkan tewas setelah diduga kelelahan jual tisu demi beli beras, aih, situasi senam jantung betul di lorong-lorong kota. Di tengah kota yang makin ramai gedung dan kafe, ada rumah yang bahkan untuk sekadar ada nasi di piring pun susah mi. Warga Kota Lulo langsung heboh, tanya: di mana negara, di mana pemerintah, di mana semua yang selalu janji akan lindungi anak-anak kita?

Bocah Jual Tisu Kendari: Kronologi Tragis yang Bikin Elus Dada

Sobat Kendari, dari pantauan langsung di lapangan, suasana di sekitar rumah duka sangat mencekam dan haru. Tetangga berkumpul, lorong sempit berubah jadi lautan manusia, semua masih sulit percaya kalau bocah sekecil itu harus kerja jual tisu di jalanan hanya demi bisa bawa pulang beras. Menurut kesaksian warga sekitar, bocah ini hampir tiap hari keliling di perempatan dan kawasan ramai, tawarkan tisu ke pengendara dan pejalan kaki.

“Sering ji kita lihat dia di lampu merah, kecil sekali itu anak, kasian. Kadang kita beli bukan karena perlu tisu, tapi karena nda tega toh,” ujar seorang warga yang ditemui di lokasi. Aih, ngeri dengar ceritanya, Bosku. Di satu sisi, kita liat keceriaan khas anak-anak; di sisi lain, ada beban orang dewasa yang terlalu berat di pundak sekecil itu.

Kabar yang beredar, hari naas itu sang bocah pulang dalam kondisi sangat lelah. Di rumah, persediaan nasi memang sudah lama tipis mi. Tisu yang ia jual hari itu jadi harapan satu-satunya. Namun, takdir berkata lain. Bocah tersebut dikabarkan ambruk dan tak tertolong. Sampai berita ini diturunkan, warga masih ramai memperbincangkan, apalagi setelah kisahnya menyebar di media sosial dan mengundang kemarahan netizen se-Indonesia.

Baca Juga: Polemik Bansos di Lorong-Lorong Mandonga

Negara Absen? Amukan Warga soal Bocah Jual Tisu Kendari

Warga Kota Lulo langsung panas dingin, Saudara-saudaraku. Komentar pedas bermunculan: bagaimana mungkin di ibu kota provinsi, di tengah program pengentasan kemiskinan, masih ada rumah yang sampai tidak ada nasi sama sekali? Astaga, ini bukan sekadar cerita pilu, tapi tamparan keras untuk semua pihak.

Banyak warga mempertanyakan keberadaan bantuan sosial, program perlindungan anak, dan pengawasan terhadap pekerja anak. “Kalau data miskin itu sudah dipegang, masa bisa tembus mi sampai ada rumah yang kosong beras begini ji?” kata seorang tokoh masyarakat yang kami temui. Nada suaranya campur antara marah dan kecewa.

Dari sisi pemerintah, biasanya akan ada klarifikasi soal data keluarga miskin, mekanisme penyaluran bantuan, hingga kemungkinan apakah keluarga ini sempat terdata atau tidak. Tapi warga di lorong cuma tahu satu hal: ada bocah 8 tahun meninggal, dan itu terjadi ketika ia harus bekerja di jalanan. Soal administrasi dan dokumen, itu urusan meja kantor; yang terasa di lapangan cuma duka dan amarah.

Baca Juga: Respons Pemkot Kendari soal Anak Jalanan

Suara Warga Kendari: “Anak Kecil Bukan Tenaga Kerja, Mi!”

Sobat Kendari, di lokasi rumah duka dan sekitar jalan tempat bocah ini biasa jual tisu, banyak warga tegas bilang: sudah saatnya kota ini serius menertibkan dan melindungi anak jalanan. Bukan sekadar razia sesaat lalu hilang lagi. “Anak kecil itu bukan mesin pencari nafkah, bukan juga tameng untuk dapat belas kasihan di jalan. Ini ji yang kita bilang negara harus hadir, toh,” ujar seorang ibu rumah tangga yang mengaku sering melihat sang bocah di perempatan.

Weh, menyala abangku, komentar-komentar warga di media sosial pun sama pedasnya. Ada yang menyinggung soal proyek-proyek besar yang menghabiskan miliaran, sementara urusan perut anak kecil masih bisa lolos dari radar. Ada yang usul, tiap RT/RW harus aktif mendata keluarga rentan ekstrem, bukan tunggu viral pi baru turun tangan.

Potret Kemiskinan di Balik Hiruk-Pikuk Kota Lulo

Kendari kelihatan makin modern, banyak kafe, hotel, dan pusat belanja baru. Tapi kasus bocah jual tisu Kendari ini bongkar kenyataan pahit: di balik lampu-lampu kota, masih banyak lorong gelap yang diisi cerita kosong dapur dan piring tak terisi. Aih, ndak ada obatnya ini kontras, Bosku.

Di beberapa kecamatan, data kemiskinan dan rumah tidak layak huni masih jadi pekerjaan rumah berat. Anak-anak dari keluarga rentan seringkali terdorong ikut membantu orang tua, entah dengan jual tisu, jajanan kecil, atau mengamen. Padahal, secara aturan, mereka seharusnya fokus di sekolah dan bermain, bukan berhadapan dengan risiko jalan raya dan kelelahan ekstrem.

“Kita ini Kota MTQ, kota yang sering dibanggakan soal budaya dan kerukunan, tapi jangan lupa pi, kualitas hidup anak-anak juga harus jadi kebanggaan,” kata seorang aktivis sosial yang selama ini bergerak mendampingi anak jalanan di Kendari. Ia menekankan perlunya kolaborasi: pemerintah, RT/RW, tokoh agama, dan komunitas lokal harus bahu-membahu.

Baca Juga: Sorotan Warga Soal Revitalisasi Pasar Baru Kendari

5 Langkah Mendesak Usai Tragedi Bocah Jual Tisu Kendari

Astaga, setelah tragedi ini, tidak bisa lagi kita hanya bilang “kasihan” lalu lanjut aktivitas seperti biasa. Minimal, ada lima langkah mendesak yang digemakan warga dan pemerhati sosial di Kendari:

  1. Pendataan ulang keluarga rentan ekstrem di tiap kelurahan dan RT/RW, dengan kunjungan langsung, bukan cuma data di atas kertas.
  2. Pengawasan ketat pekerja anak di jalan raya, termasuk anak jual tisu, pengamen, dan peminta-minta, dengan pendekatan humanis, bukan kekerasan.
  3. Penguatan program bantuan pangan darurat untuk keluarga yang benar-benar tidak punya stok beras di rumah, agar tidak ada lagi cerita “tidak ada nasi” di rumah.
  4. Perlindungan psikologis dan sosial bagi keluarga korban, agar tidak menanggung duka sendirian dan bisa bangkit pelan-pelan.
  5. Edukasi warga kota untuk lebih peka terhadap tetangga; kalau ada yang tampak kesulitan, jangan tunggu viral pi baru peduli.

Saudara-saudaraku, ini bukan sekadar angka kemiskinan di laporan resmi. Ini tentang satu nyawa yang sudah pergi, dan banyak nyawa lain yang masih berjuang diam-diam. Pertanyaannya sekarang: kita mau biarkan lagi atau kita bergerak sama-sama?

Penutup: Janji Kota Kendari untuk Anak-Anaknya, Jangan Tinggal Janji Ji

Warga Kota Lulo!, kisah bocah jual tisu Kendari yang tewas demi beras ini jadi alarm bahaya yang berbunyi nyaring sekali. Deh, kalau bunyi alarm ini masih juga kita abaikan, entah apalagi yang bisa menggoyang nurani kita. Negara, pemerintah kota, tokoh masyarakat, sampai kita sebagai tetangga dan sahabat, semua kena panggilan moral.

Tenang saja, aman ji kalau semua pihak sungguh-sungguh turun tangan. Tapi kalau cuma sibuk klarifikasi dan saling lempar tanggung jawab, tragedi serupa bisa terulang kapan saja. Aih, semoga tidak, toh. Dari lorong kecil di Kendari ini, kita belajar bahwa ukuran kemajuan kota bukan hanya dari tinggi gedung, tapi dari seberapa aman dan layaknya hidup seorang anak di rumahnya sendiri.

Weh, menyala abangku dan saudaraku semua, mari jaga lorong, jaga tetangga, dan jaga anak-anak Kota Lulo. Jangan tunggu pi ada bocah lain yang harus jual tisu di lampu merah hanya untuk memastikan ada nasi di meja makan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan