Beranda / Peristiwa / PDI Perjuangan Kendari: 5 Fakta Geger Tanam 200 Tabebuya

PDI Perjuangan Kendari: 5 Fakta Geger Tanam 200 Tabebuya

Kader PDI Perjuangan Kendari menanam 200 pohon tabebuya di Kendari
0 0
Read Time:4 Minute, 26 Second

Beritakotakendari.comPDI Perjuangan Kendari bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari pagi buta sampai matahari naik tinggi, kader banteng se-Kota Lulo tumplek jadi satu untuk menanam 200 pohon tabebuya demi jalankan perintah Ketum untuk “Rawat Pertiwi”. Suasana di lokasi benar-benar seperti lautan manusia hijau-merah, aih, ngeri! Wartawan kami meliput langsung di lapangan, keringat bercucuran, tapi semangat tidak ada obatnya ji!

PDI Perjuangan Kendari Tanam 200 Tabebuya: Misi Rawat Pertiwi

Di tengah terik matahari Kendari yang menyengat, para kader PDI Perjuangan Kendari berjejer rapi sambil menggotong bibit tabebuya. Instruksi jelas: jalankan perintah Ketum untuk merawat bumi, rawat kota, rawat Pertiwi. “Ini bukan seremoni, ini gerakan ideologis,” begitu kurang lebih pesan yang berulang kali disampaikan para pengurus di lokasi. Astaga, mantap djiwa, bukan main!

Penanaman 200 tabebuya ini bukan angka sembarang, toh. Dengan tabebuya yang dikenal sebagai “sakura tropis”, jalanan Kota Kendari ke depan diharapkan berubah menjadi koridor bunga yang indah, bikin warga betah dan wisatawan tambah kagum. Kalau semua tumbuh subur, beberapa tahun lagi bisa jadi spot foto paling hits se-Sulawesi Tenggara, Bosku. Baca Juga: Program Ruang Hijau di Mandonga untuk melihat bagaimana kawasan lain juga mulai serius menata lingkungan.

Lokasi Penanaman Tabebuya di Kendari yang Bikin Heboh

Sobat Kendari, dari pantauan langsung di lapangan, penanaman tabebuya difokuskan di beberapa titik strategis kota. Meski detail resminya dari internal partai, suasana di sekitar ruas jalan utama dan area publik tampak dipadati kader dan simpatisan. Ada yang pegang cangkul, ada yang angkut tanah, ada yang sibuk mengatur jarak tanam biar rapi. Semua bergerak, tidak ada yang berdiri saja, deh, kompak sekali mi!

Suasana benar-benar seperti kerja bakti akbar satu kota. Warga sekitar pun ikut menonton, sebagian bahkan turun tangan bantu siram-siram. “Bagus ini, pohon begini bikin kota makin sejuk ji,” komentar salah satu warga yang kami temui di tepi jalan. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada bahagia, melihat partai politik turun langsung urus lingkungan, bukan cuma urus suara. Untuk info rencana tata ruang dan jalur hijau lain di kota, silakan cek juga Baca Juga: Kebijakan Hijau Pemkot Kendari biar lebih nyambung gambar besarnya.

PDI Perjuangan Kendari Jalankan Perintah Ketum: Ideologi Turun ke Akar Rumput

Warga Kota Lulo! Ini bukan sekadar tanam pohon, ini simbol ideologi yang dibawa sampai ke tanah, betul-betul. Petinggi PDI Perjuangan Kendari menegaskan bahwa instruksi Ketum untuk “Rawat Pertiwi” harus diwujudkan dalam aksi konkret: jaga lingkungan, lawan krisis iklim, dan wariskan kota yang lebih layak untuk anak cucu. “Bukan nanti pi, tapi sekarang mi kita harus bergerak,” begitu kira-kira semangat yang terdengar di sela-sela orasi singkat di lokasi.

Dengan 200 tabebuya ditanam serentak, alarm kesadaran lingkungan seakan dibunyikan nyaring, Weh, menyala abangku! Kader diminta bukan hanya tanam lalu pulang, tapi juga mengawal perawatan: siram rutin, cek kesehatan pohon, dan ajak warga sekitar untuk ikut jaga. Kalau tidak dirawat, percuma toh, bisa kering semua. Jadi gerakan ini adalah kombinasi antara politik kehijauan dan gotong royong akar rumput.

Dampak Hijau: Dari Estetika Kota hingga Edukasi Lingkungan

Dari sisi teknis, penanaman tabebuya membawa dua dampak utama: estetika dan ekologi. Pertama, dari sisi keindahan kota, tabebuya dengan bunga kuning, pink, dan putihnya nanti akan mengubah wajah Kendari jadi lebih fotogenik. Bayangkan saja, jalanan yang selama ini panas dan gersang, beberapa tahun lagi bisa jadi koridor bunga yang bikin orang rela berhenti untuk ambil foto. Deh, nda ada obatnya kalau sudah mekar serentak.

Kedua, dari sisi lingkungan hidup, 200 pohon tabebuya ini berkontribusi pada penyerapan karbon, peredam panas kota, dan tempat singgah burung-burung kecil. Anak sekolah yang lewat setiap hari juga bisa belajar langsung tentang pentingnya pohon. Ini semacam laboratorium alam terbuka di tengah kota. Baca Juga: Kegiatan Edukasi Lingkungan di Sekitar MTQ Kendari untuk melihat bagaimana ruang-ruang kota lain juga dimanfaatkan sebagai sarana belajar.

Respon Warga Kota Lulo: Antara Harapan dan Tanggung Jawab

Saudara-saudaraku, respon warga di lapangan cenderung positif. Banyak yang mengapresiasi langkah PDI Perjuangan Kendari yang tidak hanya bicara politik kekuasaan, tapi juga politik lingkungan. “Bagus kalau begini terus, jangan musiman ji,” kata seorang pedagang kaki lima yang lapaknya tak jauh dari area penanaman. Komentar-komentar seperti itu jadi pengingat bahwa gerakan ini harus berkelanjutan, bukan hanya untuk foto sesaat.

Harapan warga jelas: jangan cuma ramai di awal, sepi di belakang. Pohon kalau cuma ditanam tanpa perawatan, kasian toh, mati sia-sia. Itu kenapa pengurus partai menegaskan ada mekanisme kontrol dan koordinasi dengan warga sekitar. Lingkungan itu bukan urusan partai saja, tapi urusan kita semua. Kalau kolaborasi ini jalan terus, Kota Kendari pelan-pelan bisa berubah jadi kota hijau yang membanggakan se-Sulawesi Tenggara, mantap djiwa!

Penutup: PDI Perjuangan Kendari dan Masa Depan Kota Hijau

Dari liputan langsung di lokasi, satu hal jelas: aksi 200 tabebuya ini menunjukkan bagaimana instruksi pusat bisa diterjemahkan jadi tindakan nyata di daerah. PDI Perjuangan Kendari menjadikan Rawat Pertiwi bukan slogan kosong, tapi kerja fisik, keringat, dan tanah yang benar-benar dibalik. Tinggal kita tunggu pi beberapa tahun ke depan, apakah tabebuya ini tumbuh rimbun dan jadi saksi perubahan kota, atau justru terlantar.

Yang pasti, alarm kesadaran lingkungan sudah dipencet kencang hari ini. Tinggal warga, pemerintah kota, dan semua elemen politik bergandengan tangan jaga sama-sama. Kalau semua kompak, Kendari bisa jadi contoh kota yang serius merawat Pertiwi, bukan cuma di baliho, tapi di setiap jengkal tanah yang ditumbuhi pohon. Aih, kalau itu terjadi, Kota Lulo menyala betul-betul, Bosku!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan