Beritakotakendari.com – Reses DPRD Sultra bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara ini berdiri langsung di tengah-tengah warga Kambu yang berdesakan, lautan manusia betul, menyampaikan unek-unek ke Anggota Komisi IV DPRD Sultra, Harmawati. Suasana reses ini bukan main-mi, seperti sidang akbar rakyat kecil yang akhirnya dapat panggung toh!
Warga Kota Lulo!, dari lorong-lorong Kambu sampai perbatasan kampus, semua tumplek blek hadir. Mereka sampaikan keluhan mulai dari jalan rusak, lampu jalan yang mati, air bersih seret, sampai soal bantuan pendidikan anak sekolah. Aih, ngeri ji kalau dengar cerita satu-satu, tapi di sinimi fungsi reses: wakil rakyat turun langsung serap aspirasi, bukan cuma di baliho.
Dalam reses ini, Harmawati yang duduk di Komisi IV – membidangi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat – berdiri di depan warga dengan nada tegas tapi hangat. “Sampaikan mi semua, jangan tahan-tahan. Kalau nda disampaikan di sini, kami nda bisa perjuangkan di DPRD,” kurang lebih begitu garis besar pesannya. Mantap djiwa, dialog berjalan dua arah, bukan sekadar seremonial.
Di sela-sela keramaian, beberapa tokoh masyarakat Kambu juga angkat suara. Mereka menegaskan, Kambu ini sudah jadi kawasan padat penduduk, dekat kampus, dekat pusat kota, tapi fasilitas dasar masih timpang. Baca Juga: Suasana Politik Panas Dingin di Mandonga. Situasi benar-benar senam jantung, Saudara-saudaraku, karena tiap warga yang pegang mikrofon, ada saja cerita pilu yang bikin kita elus dada.
Reses DPRD Sultra di Kambu: Aspirasi Mengalir Deras
Dari pantauan langsung di lapangan, aspirasi warga Kambu saat Reses DPRD Sultra bersama Harmawati bisa dibagi jadi beberapa klaster besar. Pertama, infrastruktur jalan lingkungan. Banyak warga mengeluh soal jalan yang becek kalau hujan, berdebu kalau panas. “Macet mi kalau jam pulang kerja, lubang jalan bikin motor gampang tergelincir,” keluh seorang ibu rumah tangga yang rutin antar jemput anak sekolah.
Kedua, soal penerangan jalan umum. Beberapa gang dan lorong di Kambu malam-malam gelap gulita. Astaga, ini bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga keamanan ji. Warga takut anak-anak pulang mengaji lewat lorong gelap. “Lampu jalan pi dipasang, toh pemerintah? Supaya maling juga berpikir dua kali,” celetuk seorang pemuda yang disambut tawa, tapi tawanya pahit, Bosku.
Ketiga, air bersih dan drainase. Di beberapa titik, kalau hujan deras, air naik sampai ke teras rumah. “Air bersih kadang kecil, kadang keruh, sementara kalau hujan malah banjir naik,” ujar warga lainnya. Aih, ironi sekali: waktu butuh air bersih, susah; waktu tidak butuh air, datang banjir.
Keempat, sektor pendidikan dan bantuan sosial. Warga minta agar program bantuan pendidikan untuk siswa kurang mampu di-Kambu betul-betul tepat sasaran. Ada yang mengeluh anaknya putus sekolah karena biaya. Di sini Harmawati menegaskan, segala data bantuan harus diperbarui, dan dia siap kawal lewat Komisi IV. “Tenang saja, aman ji kalau data jelas, kami bisa fight di rapat pembahasan anggaran,” tegasnya.
Kelima, warga juga dorong peningkatan fasilitas kesehatan tingkat kelurahan dan posyandu. Di kawasan yang penduduknya terus bertambah, kebutuhan layanan dasar kesehatan tidak bisa ditunda pi. Baca Juga: Program Kesehatan Warga di Sekitar Pasar Baru Kendari. Suara-suara ini seperti alarm bahaya yang berbunyi nyaring: jangan tunggu masalah jadi gawat baru diperbaiki.
Peran Komisi IV DPRD Sultra: Dari Aspirasi ke Anggaran
Sobat Kendari!, penting kita pahami, Komisi IV DPRD Sultra tempat Harmawati bertugas itu pegang peran vital. Di sinimi dibahas isu pendidikan, kesehatan, sosial, tenaga kerja, sampai perlindungan perempuan dan anak. Artinya, apa yang warga Kambu sampaikan malam ini bukan sekadar curhat, tapi bahan baku utama untuk perjuangan anggaran dan kebijakan di tingkat provinsi.
Harmawati berulang kali menegaskan di depan warga, setiap aspirasi akan dicatat rinci, dikelompokkan, lalu dibawa dalam rapat-rapat resmi. “Reses itu bukan jalan-jalan, bukan cuma kumpul-kumpul. Ini kewajiban kami. Kalau kami nda turun, kami nda tahu kondisi sebenarnya,” ujarnya. Weh, menyala abangku, eh, ibu dewan maksudnya! Sikap seperti ini yang warga tunggu-tunggu toh.
Namun, beliau juga mengingatkan warga: tidak semua permintaan bisa langsung dikabulkan sekaligus. Ada skala prioritas dan kemampuan anggaran. “Tapi kalau kita kerja sama, data kuat, suara kompak dari bawah, Insyaallah satu per satu bisa terwujud,” katanya. Di sisi lain, warga juga diminta aktif kawal dan mengawasi. Baca Juga: Agenda Terbaru Pemkot Kendari Soal Infrastruktur.
Warga Kambu Berharap, Pemerintah Harus Gerak Cepat
Suasana reses menjelang malam makin ramai. Anak-anak berlarian di pinggir tenda, para ibu duduk sambil menggendong balita, bapak-bapak berdiri di belakang memperhatikan serius. Deh, nda ada obatnya semangat warga Kambu malam ini. Semua tampak sadar bahwa momen seperti ini bukan tiap hari datang, jadi mereka manfaatkan betul-betul.
“Kami cuma mau hidup layak ji, jalan bagus, air lancar, sekolah anak aman, lampu jalan terang. Itu saja sudah syukur sekali,” ujar seorang bapak paruh baya dengan nada pelan, bikin suasana sejenak hening. Kassian memang, kebutuhan dasar yang mestinya standar, masih jadi perjuangan utama di banyak titik Kota Kendari.
Dari Kambu, pesan besarnya jelas: Reses DPRD Sultra jangan jadi formalitas. Warga maunya, begitu wakil rakyat balik dari reses, langsung gas pol perjuangkan di rapat-rapat resmi. “Tunggu pi hasilnya, kami akan update kembali ke warga,” janji Harmawati menutup pertemuan.
Warga Kota Lulo!, kita semua punya peran. Wakil rakyat turun serap aspirasi, pemerintah eksekutif jalankan program, dan kita warga kawal sama-sama. Aih, kalau tiga unsur ini jalan lurus, bukan mustahil Kambu jadi salah satu kawasan paling nyaman dihuni di Kendari. Untuk saat ini, kita pegang dulu komitmen yang terucap malam ini – semoga bukan sekadar janji di atas kertas toh.






Average Rating