Beritakotakendari.com – Dakwah Solutif bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara hadir langsung di arena Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Tenggara, suasananya luar biasa padat bagai lautan manusia, tapi tetap tertib, mantap djiwa! Wakil Wali Kota Kendari datang memberi dorongan keras soal pentingnya dakwah yang bukan cuma ceramah biasa, tapi dakwah yang benar-benar kasih solusi nyata untuk masalah umat di lapangan. Aih, menyala mi ini agenda!
Dakwah Solutif di Rakerwil Hidayatullah Sultra
Warga Kota Lulo, di salah satu aula pertemuan di Kota Kendari ini, para dai, pengurus ormas, tokoh masyarakat, dan tamu undangan berkumpul rapi, fokus mendengar pemaparan Wakil Wali Kota Kendari. Beliau menegaskan, dakwah jangan berhenti di mimbar ji, tapi harus turun ke lapangan, menyentuh problem nyata masyarakat: kemiskinan, pendidikan, akhlak generasi muda, sampai soal ekonomi umat. Astaga, kalau ini jalan konsisten, bisa mengguncang perubahan sosial di Sultra Toh!
Wakil Wali Kota mendorong agar pola Dakwah Solutif yang diusung Hidayatullah ini mengarah pada program konkret: pendampingan keluarga, penguatan literasi keislaman, pelatihan usaha mikro, dan pembinaan remaja. Tidak boleh ceramah selesai, jamaah pulang, besok masalah datang lagi tanpa ada follow up. “Dakwah itu harus menjawab kebutuhan zaman,” begitu kira-kira pesan garis besarnya, Bosku.
Di sela-sela sesi pleno, panitia menjelaskan bahwa Rakerwil ini akan merumuskan langkah strategis dakwah Hidayatullah se-Sultra selama satu tahun ke depan. Bukan main-main, targetnya menyentuh sampai akar rumput di tingkat kampung dan kelurahan. Baca Juga: Program Keagamaan Unggulan Pemkot Kendari yang rencananya akan disinergikan dengan jaringan dakwah ormas Islam di daerah.
Peran Wakil Wali Kota Kendari dalam Penguatan Dakwah Solutif
Weh, menyala abangku! Kehadiran Wakil Wali Kota Kendari bukan cuma seremoni foto-foto ji. Dalam sambutannya, beliau mendorong Hidayatullah untuk menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Katanya, pemerintah butuh ormas yang kuat di basis jamaah, sedangkan ormas butuh kolaborasi kebijakan dan fasilitas. Kalau dua kekuatan ini saling gandeng tangan, persoalan sosial di Kendari bisa dihadapi dengan lebih sistematis mi.
Beliau menyinggung juga bagaimana Kota Kendari selama ini terus mengupayakan penguatan nilai religius di tengah pembangunan kota yang makin maju. Pembangunan infrastruktur, pasar, bahkan ruang publik, didorong agar tetap ramah ibadah dan kegiatan keagamaan. Konsep Dakwah Solutif dipandang pas sebagai jembatan antara program pemerintah dengan kebutuhan umat di lapangan. Baca Juga: Update Pembangunan Kawasan Pasar Baru Kendari yang juga disebut akan disiapkan ruang-ruang dakwah dan edukasi masyarakat.
Suasana di dalam ruangan sempat senam jantung waktu Wakil Wali Kota menegaskan pentingnya keteladanan. “Kalau dai bicara amanah, maka pengurus dan pejabat juga harus amanah. Jangan umat diminta jujur, sementara kita yang di atas tidak memberi contoh,” kurang lebih begitu tekanannya. Aih, ngeri! Para peserta mengangguk, ada yang langsung sibuk mencatat, seolah takut kehilangan poin penting Toh.
Rakerwil Hidayatullah Sultra: Agenda, Target, dan Isu Strategis
Saudara-saudaraku, Rakerwil ini bukan rapat santai sambil ngopi ji. Agenda resmi mencakup pemaparan laporan kerja tahun sebelumnya, evaluasi program dakwah, pembahasan kurikulum pembinaan jamaah, hingga rencana pembukaan dan penguatan cabang-cabang baru. Semua dibahas teknis, berlapis, lengkap dengan timeline dan indikator keberhasilan. Mantap djiwa, rapih sekali manajemen dakwahnya.
Poin yang paling disoroti adalah pergeseran dakwah dari model satu arah ke pola interaktif dan berbasis persoalan riil. Jadi, penceramah bukan sekadar bicara, tetapi juga mendengar curhatan jamaah: soal rumah tangga, pendidikan anak, utang piutang, sampai tantangan digital di era media sosial. Di sinilah Dakwah Solutif diuji — apakah mampu menjawab, atau hanya jadi pengulangan nasihat normatif. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada kalau dakwah tidak di-upgrade sesuai zaman mi.
Selain itu, ada pembahasan tentang sinergi dengan agenda keagamaan skala kota dan provinsi, misalnya pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), safari dakwah Ramadan, dan pembinaan dai muda. Baca Juga: Info Terbaru Pelaksanaan MTQ di Kota Kendari yang dikabarkan juga akan melibatkan banyak lembaga dakwah lokal.
Dakwah Solutif dan Tantangan Umat di Kota Kendari
Tenang dulu Bosku, kita bedah pelan-pelan. Kota Kendari ini berkembang kencang, mall baru, kawasan kuliner, perumahan tumbuh cepat. Tapi, di balik itu semua ada masalah sosial yang pelan-pelan mengintai: pergaulan bebas, penyalahgunaan gawai, ekonomi keluarga yang naik turun, dan kesenjangan pendidikan. Di sinilah konsep Dakwah Solutif jadi sangat relevan. Bukan ceramah yang menghakimi, tapi ceramah yang membimbing, memberi jalan keluar yang bisa dipraktikkan langsung di rumah.
Para peserta Rakerwil yang saya temui di luar ruangan bilang, mereka siap turun sampai ke lorong-lorong kampung, ke perumahan baru, sampai ke kawasan pasar. “Kami tidak mau dakwah hanya di masjid besar, tapi juga di tempat kerja dan area publik,” kata salah satu peserta, dengan nafas sedikit terengah karena padatnya jadwal. Kassian, capek, tapi semangatnya menyala.
Pemerintah kota pun diharapkan memberi dukungan berupa kemudahan perizinan penggunaan fasilitas umum untuk kegiatan pembinaan, pelatihan usaha kecil syariah, hingga pelatihan parenting islami. Jika ini semua terkoneksi, dakwah akan terasa manfaatnya di dapur, di kantong, dan di hati masyarakat. Astaga, kalau terwujud, ini bisa jadi role model dakwah perkotaan di Indonesia Timur Toh.
Harapan ke Depan: Kolaborasi, Konsistensi, dan Aksi Nyata
Sobat Kendari, dari pantauan langsung di lokasi, semangat peserta Rakerwil tidak main-main. Mereka berharap hasil rumusan tidak berhenti di kertas kerja. Harapan mereka jelas: pemerintah, ormas, dan masyarakat harus jalan bersama. Tidak bisa saling lempar tanggung jawab mi. Pemerintah siapkan regulasi dan fasilitas, ormas siapkan kader dan kurikulum, masyarakat buka pintu rumah dan hati untuk dibina.
Di akhir sesi, Wakil Wali Kota Kendari menegaskan lagi pentingnya menjaga persatuan dan moderasi beragama. Dakwah yang keras tanpa solusi bisa memecah belah, sementara Dakwah Solutif mengajak untuk merangkul dengan bijak. Pesan ini disambut tepuk tangan panjang, suasana haru-haru tipis muncul, beberapa peserta terlihat mengusap mata. Weh, suasananya campur antara semangat dan haru, paket komplit ji.
Reporter lapangan pamit dulu dari arena Rakerwil Hidayatullah Sultra, tapi perjuangan dakwah di Kota Kendari jelas belum selesai pi. Kita akan terus pantau, apakah rekomendasi rapat ini benar-benar turun jadi aksi di kelurahan dan masjid-masjid. Tunggu pi laporan lanjutan di kanal Beritakotakendari.com, Warga Kota Lulo, jangan jauh-jauh Toh!






Average Rating