Beritakotakendari.com – PDI Perjuangan Wakatobi bikin geger satu Sultra mi hari ini, Bosku! Dari bibir pantai sampai kampung-kampung, aksi tanam pohon mereka berubah jadi suasana lautan manusia hijau, situasi senam jantung tapi versi lingkungan hidup, weh menyala abangku! Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara hadir langsung dari Wakatobi, melaporkan detik demi detik gerakan hijau yang digadang-gadang bisa jadi tameng masa depan bumi kita ini, di?
PDI Perjuangan Wakatobi Tanam Pohon: Misi Hijau di Tanah Karang
Warga Kota Lulo! Di bawah terik matahari khas pesisir Wakatobi, kader PDI Perjuangan Wakatobi berjejer rapi memegang bibit pohon. Ada bibit mangrove, ada juga tanaman peneduh dan buah, lengkap mi, tidak main-main. Mereka turun langsung di titik-titik yang rawan abrasi dan kekeringan. Astaga, ini kalau dibiarkan tanpa pohon, bisa-bisa pesisir jadi gundul, ngeri!
Suasana lapangan betul-betul geger geden. Panitia teriak bagi-bagi bibit, kader sibuk gali lubang, warga sekitar ikut bergabung, anak-anak kecil lari-lari sambil pegang cangkul kecil, mantap djiwa. “Bukan cuma tanam pohon, tapi tanam harapan,” begitu kira-kira pesan yang mau disampaikan para penggerak aksi ini. Tenang saja, aman ji itu barang, semua ditata dengan konsep rehabilitasi lingkungan yang terukur, bukan sekadar seremonial foto-foto lalu hilang.
Tak hanya fokus di Wakatobi, narasi besar yang diusung juga nyambung dengan gerakan hijau di daerah lain di Sultra, termasuk Kendari. Kalau di Kendari kita kenal ramai soal ruang terbuka hijau dan penataan pesisir, di Wakatobi ini lebih ke penyelamatan ekosistem karang dan pesisir. Baca Juga: Program Hijau di Sekitar MTQ Square Kendari biar nyambung mi wawasan ta soal tata kota dan lingkungan.
5 Fakta Penting Aksi Tanam Pohon PDI Perjuangan Wakatobi
Aih, ini bukan kegiatan ecek-ecek ji, saudara-saudaraku. Ada sedikitnya lima poin yang bikin aksi ini patut jadi sorotan:
- Fokus di Kawasan Rawan Abrasi
Lokasi tanam pohon dipilih di area yang sudah mulai terkikis ombak. “Kalau tidak kita tahan dengan akar pohon, bisa habis pantai ta,” kata salah satu pengurus PDI Perjuangan Wakatobi yang sempat diwawancarai di lapangan. Situasi ini memang bikin kita elus dada, tapi sekaligus dorong untuk bertindak. - Libatkan Kader dan Warga
Bukan hanya pengurus partai, tapi simpatisan dan warga sekitar juga diajak. Deh, nda ada obatnya konsep partisipatif begini. Semakin banyak tangan menggenggam bibit, semakin besar harapan pohon itu hidup lama. - Jenis Pohon yang Dipilih Bukan Sembarangan
Mangrove untuk pesisir, pohon peneduh untuk jalur pemukiman, bahkan ada beberapa jenis tanaman buah untuk jangka panjang ekonomi warga. Ini bukan gaya-gayaan ji, tapi ada hitung-hitungan ekologis dan sosial-ekonomi di baliknya. - Pesan Politik Hijau
Walaupun dilaksanakan partai politik, nuansa yang dikedepankan adalah politik hijau: jaga lingkungan, jaga masa depan. “Kalau lingkungan rusak, apa yang mau kita banggakan toh?” celetuk seorang kader yang keringatan tapi senyum lebar. - Kontinuitas, Bukan Sekali Tanam Lalu Lupa
Panitia menegaskan akan ada pemantauan rutin. “Tanam mi, tapi rawat juga pi,” begitu istilah mereka. Percuma kan kalau cuma tanam, habis itu mati kering, kassian pohonnya.
Suasana Lapangan: Lautan Manusia Hijau di Wakatobi
Dari pantauan langsung di lokasi, betul-betul mirip acara besar. Spanduk merah dengan logo partai berjejer, diapit deretan bibit pohon. Bendera berkibar, tapi fokus utama tetap di batang-batang kecil yang siap jadi penopang masa depan lingkungan. Kamera ponsel warga sibuk merekam, grup WhatsApp kampung penuh foto tanah becek bercampur semangat baru.
“Ini contoh konkret, bukan teori-teori ji di atas meja,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang ikut menanam. Ia bilang, selama ini warga cemas dengan naiknya air laut pelan-pelan. Dengan adanya aksi ini, setidaknya ada harapan yang ditanam bersama. Alarm bahaya abrasi memang sudah lama berbunyi, tapi hari ini, dengan bibit di tangan, warga rasanya ikut menekan tombol respon darurat.
Di sela-sela teriakan aba-aba, sesekali terdengar canda khas orang pesisir. “Kalau pohonnya cepat besar, bisa kita pacaran di bawahnya toh,” ujar seorang pemuda sambil tertawa. Suasana cair, tapi misi tetap serius. Baca Juga: Rencana Penataan Ruang Hijau Pemkot Kendari biar kelihatan koneksi besar antara pesisir Wakatobi dan ibukota provinsi.
Dampak Lingkungan dan Politik: Dua Jalur Satu Akar
Dari kacamata lingkungan, gerakan yang diinisiasi PDI Perjuangan Wakatobi ini jelas punya nilai plus. Akar-akar mangrove akan mengikat sedimen, mengurangi hantaman ombak, dan jadi tempat hidup biota laut. Sementara pohon peneduh di darat membantu menurunkan suhu, menahan angin, dan memperindah pandangan. Dalam jangka panjang, kalau konsisten, bisa jadi benteng alami yang menyelamatkan garis pantai.
Dari sisi politik, ini sinyal bahwa isu lingkungan makin laku keras di tengah masyarakat. Partai yang cerdas pasti tangkap ini sebagai momentum: bukan hanya janji kampanye, tapi aksi kasat mata. Weh, menyala abangku kalau semua partai balapan tanam pohon begini, bumi ta bisa bernapas lega.
Namun tentu, warga juga menagih keberlanjutan. “Jangan cuma musim ramai-ramai saja pi, habis itu hilang toh,” komentar seorang ibu yang sibuk membersihkan lumpur di sandalnya. Di sinilah ujian sebenarnya: mampukah aksi ini berlanjut, atau hanya jadi berita seminggu lalu tenggelam?
Bagi warga Kendari yang sering diskusi soal banjir dan panas terik di kota, pelajaran dari Wakatobi ini sangat relevan. Baca Juga: Kondisi Terkini Pasar Baru Kendari dan Isu Drainase untuk melihat bagaimana tata ruang, pasar, dan penghijauan itu sebenarnya nyambung semua.
Harapan Warga: Jangan Berhenti di Satu Aksi Saja
Saudara-saudaraku, inti suara di lapangan sederhana: jangan berhenti di sini ji. “Kalau bisa tiap tahun mi, bahkan tiap musim tanam,” kata seorang nelayan yang ikut menancapkan bibit mangrove di lumpur. Menurutnya, dulu garis pantai masih jauh, sekarang air sudah makin dekat ke rumah-rumah. Tanam pohon bukan pilihan lagi, tapi keharusan.
Dengan semua gegap gempita hari ini, bola sekarang ada di tangan penyelenggara dan pemerintah setempat. Masyarakat sudah menunjukkan, mereka siap turun tangan, siap kotor-kotoran lumpur demi masa depan. Tinggal dipastikan, bibit yang ditanam hari ini tetap hidup, tumbuh, dan suatu hari nanti jadi peneduh cucu-cucu kita. Kalau itu terjadi, baru bisa kita bilang: kegiatan PDI Perjuangan Wakatobi tanam pohon ini bukan sekadar berita viral, tapi tonggak sejarah hijau di tanah karang, mantap djiwa!






Average Rating