Beritakotakendari.com – pengosongan lahan Anaiwoi bikin udara di Kecamatan Poasia bergetar, Warga Kota Lulo! Reporter lapangan paling heboh se-Sultra lagi berdiri langsung di pinggir lokasi, debu masih naik, alat berat masih siaga, dan protes keras mantan Gubernur Sultra, Nur Alam, menggema sampai ke telinga pejabat Pemkot Kendari. Astaga, situasi senam jantung mi di sini!
Di kawasan Anaiwoi ini, lahan yang disebut-sebut jadi titik proyek diduga mulai dikosongkan. Tapi, muncul gelombang protes: etika pemerintahan, nasib warga, sampai potensi gejolak sosial ikut disinggung keras oleh Nur Alam. Aih, kalau nda hati-hati, bisa lautan manusia turun ke jalan ji, Bosku.
Pengosongan Lahan Anaiwoi dan Protes Keras Nur Alam
Suasana di sekitar lokasi pengosongan lahan Anaiwoi pagi hingga siang ini benar-benar tegang tapi penasaran, Sobat Kendari. Di satu sisi ada aparat dan petugas lapangan, di sisi lain ada warga yang masih saling bertanya: “Ini betul mi prosedurnya, toh?”. Di tengah panasnya isu itu, nama Nur Alam tiba-tiba muncul dengan pernyataan yang menggelegar.
Lewat keterangan yang beredar, Nur Alam memprotes keras langkah pengosongan lahan di Anaiwoi. Ia menyinggung soal etika pemerintahan, dasar hukum, hingga risiko gejolak sosial kalau prosesnya dianggap melompat tahapan. Ia mengingatkan, dalam penataan kota, apalagi menyangkut tanah dan ruang hidup warga, komunikasi harus transparan, tidak boleh bikin masyarakat resah. “Jangan bikin orang kaget mi, baru sudah rata tanahnya,” kira-kira begitu intinya.
Ia juga menyoroti bahwa setiap kebijakan strategis mesti memperhitungkan psikologi warga. Kalau warga merasa terpojok, kepercayaan ke pemerintah bisa merosot. Nah, ini yang dibilang Nur Alam sebagai potensi gejolak. Bukan hanya soal fisik lahannya, tapi juga hati dan perasaan masyarakat yang tinggal atau merasa berkepentingan dengan kawasan ini. Weh, menyala abangku, ini kritik kelas berat ji.
Baca Juga: Polemik Penataan Kawasan Pemkot Kendari
Etika Pemerintahan dan Risiko Gejolak: Poin Tajam Nur Alam
Warga bertanya-tanya di lokasi: kenapa sampai mantan gubernur angkat suara sekeras itu? Dari penelusuran di lapangan, Nur Alam menggarisbawahi dua hal penting: etika pemerintahan dan risiko gejolak sosial. Menurutnya, pengosongan lahan bukan sekadar urusan teknis buldozer dan garis batas, tapi juga urusan legitimasi di mata rakyat.
Ia menilai, kalau ada kesan tergesa-gesa tanpa dialog memadai, pemerintah bisa dicap arogan. Aih, ini yang bikin ngeri mi, karena di era medsos, satu video warga menangis di depan ekskavator bisa viral dan memantik kemarahan publik. Nur Alam mengingatkan, gejolak itu kadang tidak datang dari kelompok besar dulu, tapi dari ketidakpuasan kecil yang terus dipendam.
Di lokasi, beberapa warga yang kami temui juga mengaku masih bingung soal status lahan. Ada yang klaim punya dasar kepemilikan, ada juga yang mengaku hanya menumpang puluhan tahun. “Bukan kita nda mau pembangunan, Pak, tapi jelaskan baik-baik mi, toh. Di mana hak kita, bagaimana ganti rugi, kapan musyawarahnya?” ujar seorang warga yang minta namanya disamarkan. Kassian, mereka cuma mau kepastian ji.
Posisi Pemkot Kendari dan Proyek di Anaiwoi
Sementara itu, Pemkot Kendari diduga memandang pengosongan lahan Anaiwoi sebagai bagian dari penataan dan pembangunan kota. Dari sudut pandang perencanaan tata ruang, Anaiwoi memang jadi salah satu kantong pertumbuhan baru yang strategis di sisi timur Kota Kendari. Di sekitar sini, akses ke Jalan Poros dan beberapa fasilitas publik terus dibangun. Mantap djiwa kalau tertata rapi, tapi prosesnya itu yang lagi disorot mi.
Sejumlah sumber internal menyinggung bahwa proyek di Anaiwoi terkait penataan kawasan dan bisa berhubungan dengan pengembangan permukiman, fasilitas umum, atau infrastruktur pendukung. Namun detail resmi, tahapan sosialisasi, dan skema ganti rugi masih minim disampaikan ke publik secara terbuka. Di sinilah letak masalah yang dibilang Nur Alam: komunikasi belum maksimal, padahal alat berat sudah siap bergerak.
Baca Juga: Rencana Besar Penataan Pasar Baru di Kendari
Suasana Terkini di Lapangan: Tegang Tapi Terkontrol
Reporter beritakotakendari lagi berdiri di antara garis polisi dan warga yang berkerumun. Tidak ada keributan besar, tapi aura waspada terasa. Beberapa petugas mengatakan, mereka hanya menjalankan tugas sesuai perintah dan prosedur. “Tenang saja, aman ji ini, semua sesuai aturan,” kata seorang petugas sambil mengatur warga yang mulai mendekat, takut pi kalau ada yang nekat menerobos zona kerja alat berat.
Di sisi lain, tokoh masyarakat Anaiwoi tampak berkumpul, berdiskusi serius. Mereka bilang, akan mencoba menjembatani dialog antara warga dan pemerintah, agar jangan sampai isu pengosongan lahan Anaiwoi ini menjalar jadi konflik horizontal. “Kita ini Warga Kota Lulo, biasa hidup rukun. Jangan karena tanah, kita pecah mi. Tapi pemerintah juga harus dengar suara masyarakat, toh,” ujar seorang tokoh setempat.
Sejumlah LSM dan aktivis kota juga mulai melirik kasus ini. Mereka mendesak ada transparansi dokumen: mulai dari status lahan, analisis mengenai dampak lingkungan, sampai rencana pemanfaatan ke depan. Bagi mereka, pembangunan boleh jalan, tapi hak warga jangan jadi korban ji.
Seruan Dialog dan Jalan Tengah untuk Kota Kendari
Dari semua kegaduhan ini, satu pesan mengemuka: perlu dialog serius antara Pemkot Kendari, pemilik lahan, warga terdampak, dan tokoh masyarakat. Tanpa komunikasi terbuka, isu pengosongan lahan Anaiwoi bisa jadi bara dalam sekam. Aih, kalau meledak, sulit padamkan mi, apalagi di tengah suhu politik dan ekonomi yang lagi sensitif.
Nur Alam sudah melemparkan peringatan soal etika dan risiko gejolak. Sekarang bola ada di tangan Pemkot Kendari untuk menunjukkan bahwa mereka bukan hanya kuat di alat, tapi juga kuat di hati rakyat. Transparansi, mediasi, dan kepastian ganti rugi (jika ada hak warga di dalamnya) adalah kunci. Kalau ini beres, pembangunan di Anaiwoi bisa jadi contoh penataan kota yang elegan, bukan malah jadi catatan hitam di ingatan publik.
Warga berharap, sebelum langkah besar diambil lagi, “Tunggu pi” dialog terbuka digelar. Biar semua jelas, nda ada lagi saling curiga. Kota Kendari ini sedang tumbuh kencang, tapi jangan sampai ada yang tertinggal dan merasa dikorbankan ji. Warga Kota Lulo mau maju, tapi tetap ingin dihargai sebagai pemilik sah ruang hidupnya.
Baca Juga: Update Persiapan MTQ dan Penataan Kawasan Mandonga
Untuk saat ini, situasi di Anaiwoi masih terkendali, tapi tegang tipis-tipis. Alarm kewaspadaan sudah berbunyi nyaring, Bosku. Tinggal kita tunggu, apakah pemerintah akan memilih jalan dialog yang menyejukkan, atau membiarkan bara ini menyala pelan-pelan. Weh, menyala abangku, perkembangan selanjutnya kami pantau terus dari lapangan!






Average Rating