Beranda / Peristiwa / Persawahan Labibia: 5 Fakta Geger Potensi 97,4 Ha

Persawahan Labibia: 5 Fakta Geger Potensi 97,4 Ha

Persawahan Labibia Kendari 97,4 hektare menjelang tanam perdana
0 0
Read Time:5 Minute, 35 Second

Beritakotakendari.comPersawahan Labibia bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari tengah hamparan hijau di Kelurahan Labibia, Kecamatan Mandonga, awak lapangan lagi berdiri langsung di pematang sawah, liput potensi lahan seluas kurang lebih 97,4 hektare yang siap jadi lumbung padi baru di tengah kota. Aih, ngeri, sawah di tengah hiruk pikuk Kota Lulo, seolah mau bilang: “Tenang mi, beras lokal Kendari siap bangkit kembali, Ji!”

Warga Kota Lulo, dari ujung Puuwatu sampai ke Baruga, mulai pasang telinga. Kabarnya, tanam perdana di Persawahan Labibia ini bakal digeber pertengahan Mei. Situasi di lokasi betul-betul suasana senam jantung: alat berat hilir-mudik, petani cek lahan, petugas dinas pertanian atur saluran air, semua bergerak serentak seolah alarm swasembada pangan kota sudah berbunyi nyaring, Toh!

Potensi Persawahan Labibia 97,4 Ha di Tengah Kota Kendari

Dari pantauan langsung di lapangan, hamparan Persawahan Labibia ini terbentang bak karpet hijau raksasa di tengah pemukiman dan bangunan perkotaan. Luasnya sekitar 97,4 hektare, angka yang tidak main-main untuk ukuran lahan pertanian di jantung Kota Kendari. Astaga, di tengah laju pembangunan ruko dan perumahan, masih ada lahan seluas ini yang dipertahankan untuk pangan, mantap djiwa!

Petani setempat yang ditemui di pematang mengaku antusias. “Dulu mi ini lahan, cuman kurang air Ji. Sekarang kalau pemerintah serius bantu irigasi, kami siap kembali garap full,” begitu kurang lebih pengakuan salah satu petani yang enggan disebutkan namanya. Aih, kita dengar begitu rasanya lega, Kassian, lahan tidur pelan-pelan dibangunkan lagi.

Dari sisi tata ruang, kawasan ini ibarat paru-paru hijau plus lumbung beras mini Kota Kendari. Selain meredam suhu panas kota, keberadaan sawah juga jadi benteng terakhir agar warga tidak terlalu tergantung pada beras kiriman dari luar daerah. Kalau Persawahan Labibia bisa dimaksimalkan, bukan tidak mungkin jadi percontohan pertanian kota (urban farming skala besar) yang membanggakan Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: Rencana Pembangunan Irigasi di Mandonga bikin kaitan makin jelas, bahwa Labibia bisa jadi titik kunci jalur air pertanian dalam kota. Di sela-sela pematang, awak juga melihat beberapa titik yang sudah dipatok untuk perbaikan saluran. Kalau jalur air ini tuntas, ngeri, produktivitas padi bisa melonjak tajam, Toh.

Jadwal Tanam Perdana Pertengahan Mei: Situasi di Lapangan

Sobat Kendari, jadwal tanam perdana di Persawahan Labibia ditargetkan pada pertengahan Mei. Jadi sekarang ini, di awal-awal bulan, suasana di lokasi ibarat countdown tahun baru: semua serba persiapan. Traktor mulai turunkan badan, lahan dibajak ulang, petani atur jarak tanam, dan dinas pertanian sibuk mendata kelompok tani.

Dari informasi yang dihimpun di lokasi, pemerintah kota bersama pihak terkait mendorong agar jadwal tanam ini tidak molor. Kenapa? Karena siklus musim hujan-kemarau juga lagi krusial. Kalau terlambat sedikit, bisa pengaruh ke debit air dan produktivitas. “Makanya kami kebut sekarang, supaya pertengahan Mei sudah tanam mi, air masih cukup,” ujar salah satu penyuluh pertanian yang ditemui di tengah lahan.

Di sekeliling persawahan, warga Labibia tampak mulai terbiasa dengan pemandangan alat berat dan petani wara-wiri. Anak-anak kecil bahkan asyik berlarian di pematang, sambil sesekali diomeli orang tua mereka: “Jangan jatuh mi di lumpur, Nak!” Suasana ini menghidupkan kembali nuansa kampung di tengah kota, sebuah pemandangan langka yang bikin hati adem Ji.

Baca Juga: Kabar Terbaru Program Pangan Pemkot Kendari yang disebut-sebut bakal menjadikan Labibia sebagai salah satu pilot project. Kalau ini berjalan, maka sawah Labibia bisa tersambung dengan skema pasar beras lokal di beberapa titik strategis, termasuk kawasan perdagangan di tengah kota.

Manfaat Persawahan Labibia bagi Warga Kota Lulo

Weh, menyala abangku! Manfaat kehadiran Persawahan Labibia ini bukan cuma buat petani saja, tapi juga untuk seluruh warga Kota Lulo. Pertama, dari sisi ekonomi: petani punya lahan garapan jelas, lapangan kerja musiman terbuka, dan perputaran uang di level kampung naik. Kedua, dari sisi sosial-budaya: generasi muda Kendari yang selama ini lebih akrab dengan gawai, bisa lihat langsung proses tanam-panen padi di tengah kota. Itu pengalaman yang tidak ada obatnya, Deh.

Ketiga, dari sisi lingkungan: sawah berfungsi sebagai resapan air. Di tengah curah hujan yang kadang naik-turun ekstrem, lahan hijau seperti ini membantu mengurangi risiko genangan di kawasan sekitarnya. “Kalau ini sawah diaspal semua, mungkin banjir mi kita di sini,” kelakar seorang ibu rumah tangga sambil mengawasi anaknya bermain di tepi sawah.

Pemerintah diminta benar-benar serius memagari kebijakan agar zoning lahan pertanian ini tidak mudah berubah jadi kawasan komersial. Warga khawatir, kalau tidak dijaga, pelan-pelan bisa tergeser. Itu yang bikin banyak tokoh masyarakat di sini wanti-wanti: manfaatkan, tapi lindungi. Jangan sampai kita baru sadar pentingnya sawah Labibia setelah lahan sudah terpotong ruko dan perumahan, Toh.

Sistem Irigasi dan Tantangan Teknis di Persawahan Labibia

Meski potensinya menggiurkan, Persawahan Labibia tetap punya PR besar, yaitu sistem irigasi. Beberapa petani mengeluhkan di musim kemarau, air kadang susah. Pemerintah dan instansi teknis disebut-sebut tengah menyiapkan skema penguatan jaringan air, dari saluran tersier sampai ke petakan-petakan kecil di ujung sawah.

Kalau irigasi ini mantap, maka target dua kali tanam atau bahkan tiga kali tanam setahun bisa dibidik. Alarm produktivitas padi bakal benar-benar menyala. Tapi kalau dibiarkan setengah hati, bisa-bisa lahan kembali ditinggal, dan kita cuma punya rumput tinggi tanpa gabah. Kassian, sayang sekali kalau potensi 97,4 hektare ini cuma jadi pemandangan, bukan penghasil pangan.

Warga sekitar berharap koordinasi lintas instansi berjalan tanpa drama. “Jangan tunggu pi viral dulu di medsos baru turun tangan,” celetuk salah satu pemuda setempat sambil tertawa. Dia bilang, dukungan infrastruktur harus jalan bareng dengan pembinaan petani dan kepastian pemasaran gabah. Di sinilah peran Pemkot Kendari dan pihak provinsi sangat ditunggu.

Baca Juga: Rencana Penataan Kawasan Pasar Baru Kendari yang digadang-gadang bisa jadi sentra distribusi beras lokal termasuk hasil panen Labibia nanti. Bayangkan, beras dari sawah yang hanya beberapa kilometer dari pusat kota langsung masuk ke pasar rakyat. Rantai pasok pendek, harga bisa lebih bersaing, dan warga bisa bangga bilang: “Ini beras Kendari, mi!”

Harapan Warga: Labibia Jadi Ikon Sawah Kota Kendari

Saudara-saudaraku, kalau dikelola serius, Persawahan Labibia bisa jadi ikon baru Kota Kendari, sejajar dengan ruang publik dan destinasi wisata lain. Bukan mustahil suatu hari nanti, orang datang bukan cuma cari kuliner seafood, tapi juga mau lihat hamparan sawah hijau di tengah kota dan foto-foto di pematang saat golden hour.

Harapan warga sederhana Ji: lahan ini jangan hilang, petani jangan dibiarkan jalan sendiri, dan hasil panen jangan sampai tidak terserap pasar. Sebab, di balik setiap butir padi Labibia, ada keringat petani dan kebijakan pemerintah yang diuji. Aih, semoga tanam perdana pertengahan Mei nanti jadi titik balik, bukan sekadar seremoni pegang cangkul dan foto bareng di lumpur, Toh.

Dari pematang sawah Labibia yang mulai mengering siap olah, reporter Beritakotakendari.com melaporkan langsung, ditemani suara burung, angin sore, dan deru alat berat di kejauhan. Kota Lulo bersiap menyambut musim tanam baru; semoga saja, ini bukan cuma geger sesaat, tapi awal babak baru kedaulatan pangan di jantung Kendari, mantap djiwa!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan