Beritakotakendari.com – Busana Adat Bombana bikin geger mi satu Kota Lulo, Bosku! Di tengah lautan manusia yang memadati Pawai HUT ke-62 Sulawesi Tenggara di Kendari, penampilan rombongan Kabupaten Bombana sukses mencuri perhatian dengan balutan busana adat yang warna-warni menyala abangku, lengkap dengan aksesoris tradisional yang wah, deh, nda ada obatnya!
Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara hadir langsung di rute pawai, dari depan Kantor Gubernur sampai area Tugu Religi MTQ. Terik matahari tidak menyurutkan semangat peserta, tapi yang paling banyak disorot kamera dan HP warga justru kostum megah dari Bombana. Setiap lewat, suara penonton pecah: “Astaga, bagus mi itu busana!”. Warga Kota Lulo saling dorong pelan cari posisi terbaik, situasi senam jantung, tapi tetap tertib ji toh.
Busana Adat Bombana Jadi Pusat Perhatian di Pawai HUT ke-62 Sultra
Dari pantauan langsung di lapangan, rombongan Busana Adat Bombana tampil dengan komposisi warna emas, merah, dan hitam yang dominan. Aih, ngeri! Kain berkilau memantulkan cahaya matahari Kendari, bikin mata penonton auto fokus, nda bisa pindah pandang. Para penari dan pembawa atribut adat berjalan mantap dengan koreografi rapi, diiringi musik tradisional yang menggema di sepanjang jalan protokol.
Di barisan depan, terlihat busana adat perempuan Bombana dengan hiasan kepala tinggi, anting besar, dan kalung berlapis-lapis, seolah-olah sedang menampilkan kebesaran budaya kerajaan di masa lampau. Di sisi lain, laki-laki mengenakan pakaian adat dengan ikat kepala serta sarung tenun yang tampak tebal dan kokoh, melambangkan kegagahan. “Ini baru representasi adat, mantap djiwa!” komentar salah satu penonton dari Mandonga yang sempat Sa wawancara cepat di pinggir jalan. Baca Juga: Suasana Malam di Tugu Religi MTQ Kendari.
Makna Filosofis Busana Adat Bombana yang Bikin Kagum
Tidak cuma soal “wah” di mata kamera, Busana Adat Bombana juga sarat makna, Bosku. Menurut keterangan salah satu tokoh adat yang ikut mengawal rombongan, warna emas melambangkan kejayaan dan kekayaan alam Bombana, terutama sektor pertanian dan pertambangan. Merah melambangkan keberanian dan semangat juang masyarakat, sementara hitam menjadi simbol keteguhan dan perlindungan.
“Bukan sekadar baju bagus ji ini, tapi pengingat bahwa Bombana punya sejarah panjang dan budaya kuat,” ujar sang tokoh adat yang mengenakan rompi tradisional lengkap, saat ditemui di titik kumpul dekat Lapangan Benu-Benua. Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada bangga toh, melihat daerah-daerah di Sultra semakin percaya diri menampilkan identitasnya di panggung provinsi.
Detail Aksesoris: Dari Hiasan Kepala Sampai Kain Tenun
Kalau dilihat dekat-dekat, detail pada Busana Adat Bombana luar biasa teliti. Hiasan kepala perempuan dihiasi motif flora dan sulur-suluran yang rumit, hasil tangan pengrajin lokal. Sementara kain tenun yang digunakan bukan produksi massal, melainkan karya penenun tradisional kampung yang masih menjaga teknik lama. Kassian, kerja mereka berat tapi hasilnya bikin Sultra bangga.
Penonton yang berada di sekitaran simpang Pasar Baru sempat berebut tempat untuk memotret. “Tunggu pi, saya mau ambil video dulu,” teriak seorang warga sambil mengangkat HP-nya tinggi-tinggi. Suasana geger kecil, tapi seru, khas pawai akbar HUT Sultra tiap tahun. Baca Juga: Denyut Ekonomi Pasar Baru Kendari Jelang HUT Sultra.
Respons Warga Kendari: Ramai di Jalan, Ramai Juga di Medsos
Bukan cuma di lokasi pawai, gaung Busana Adat Bombana juga menyebar kencang di media sosial. Tagar seputar HUT ke-62 Sultra dan nama Bombana berseliweran di Instagram, TikTok, sampai status WhatsApp. Potongan video saat rombongan Bombana melintas di depan panggung kehormatan langsung viral kecil-kecilan di kalangan warga Kota Lulo.
“Keren mi, lain dari yang lain,” tulis seorang netizen asal Kendari Barat. Ada juga yang komentar, “Setiap tahun pawai, Bombana semakin naik kelas busananya, toh.” Interaksi dan like mengalir deras, menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap penguatan budaya lokal. Warga yang tidak sempat datang ke lokasi pun merasa ikut menyaksikan gegap gempita pawai lewat layar HP.
Pemerintah Daerah dan Komitmen Angkat Budaya Lokal
Dari sisi kebijakan, tampilan spektakuler Busana Adat Bombana ini disebut-sebut sebagai wujud nyata komitmen pemerintah daerah untuk mengangkat potensi budaya ke level yang lebih tinggi. Pawai HUT Sultra jadi ajang etalase budaya, dan Bombana termasuk yang paling serius memanfaatkan panggung ini.
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, persiapan kostum Bombana sudah dilakukan jauh hari, melibatkan desainer lokal, penenun, dan tokoh adat. “Kalau mau tampilan maksimal, persiapan tidak bisa mepet ji. Kami latih penari, sesuaikan busana, semua harus rapi sebelum berangkat ke Kendari,” ungkap salah satu koordinator rombongan di sela-sela istirahat dekat area parkir MTQ. Baca Juga: Agenda Besar Pemkot Kendari Sambut Event Budaya.
Dampak Budaya dan Pariwisata dari Busana Adat Bombana
Kehadiran Busana Adat Bombana yang mencuri perhatian di Pawai HUT ke-62 Sultra ini bukan cuma jadi tontonan sesaat, tapi berpotensi berdampak pada sektor budaya dan pariwisata. Wisatawan lokal yang menonton langsung bisa jadi penasaran untuk berkunjung ke Bombana, mencari tahu asal-usul busana yang mereka lihat megah di jalan-jalan Kendari tadi.
Bayangkan kalau ke depan ada festival khusus busana adat se-Sultra, dengan Bombana sebagai salah satu ikon utamanya. Weh, menyala abangku! Ini bisa jadi magnet baru untuk menarik pengunjung, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif, dari penjahit, penenun, sampai pelaku UMKM oleh-oleh. Tenang saja, aman ji itu peluang kalau dikelola dengan serius oleh pemerintah daerah bersama pelaku budaya.
Harapan Warga Kota Lulo untuk Gelaran Berikutnya
Di ujung pawai, ketika rombongan mulai bubar di sekitar Tugu Religi MTQ, warga masih saja membahas soal Busana Adat Bombana. Ada yang bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, ada yang sudah merencanakan konsep foto prewedding dengan nuansa busana adat. “Tahun depan harus lebih heboh lagi mi, supaya Sultra dikenal bukan cuma karena alam, tapi juga karena budaya,” kata seorang ibu muda sambil menggandeng anaknya pulang melewati trotoar yang mulai lengang.
Sobat Kendari, dari lapangan Sa bisa simpulkan: penampilan Bombana di Pawai HUT ke-62 Sultra ini bukan main-main. Geger geden! Busana adat bukan lagi benda yang disimpan di lemari untuk acara tertentu ji, tapi sudah naik kelas jadi kebanggaan kolektif yang dipertontonkan ke publik. Semoga saja, semangat ini tidak berhenti di pawai, tapi berlanjut dalam program nyata pelestarian budaya di seluruh Sulawesi Tenggara, terutama di Bombana dan Kota Kendari yang jadi etalase utama. Aih, kalau begitu, makin lengkap mi identitas kita sebagai Warga Kota Lulo yang bangga dengan akar budayanya.





Average Rating