Beritakotakendari.com – TPST Puuwatu bikin geger satu Kota Kendari, Bosku! Dari lereng-lereng Puuwatu yang sejuk mi ini, tim liputan langsung menyaksikan bagaimana rencana Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) bakal jadi benteng terakhir melawan serbuan 256 ton sampah per hari di Kota Lulo. Aih, ngeri kalau terlambat ditangani, bisa-bisa lautan plastik dan bau menyengat kepung kota toh!
TPST Puuwatu Kendari: Lokasi, Skala, dan Target Pengolahan Sampah
Sobat Kendari, di kawasan Puuwatu ini suasana masih hijau, angin bertiup kencang, tapi di balik keteduhan itu sedang disiapkan proyek yang bisa mengubah pola pengelolaan sampah se-Kota Kendari. Pemerintah Kota Kendari berencana membangun TPST Puuwatu sebagai solusi konkret untuk menekan timbunan sekitar 256 ton sampah per hari yang selama ini mengalir ke TPA Puuwatu dan titik-titik penumpukan lainnya.
Menurut keterangan pejabat di lapangan yang ditemui reporter, fasilitas TPST ini diproyeksikan menjadi pusat pengolahan: mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, daur ulang, hingga pemanfaatan kembali (recovery) material bernilai ekonomis. Astaga, kalau ini berjalan maksimal, volume sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan signifikan mi!
Di sekitar calon lokasi, beberapa alat berat sudah tampak disiagakan. Petugas teknis lalu-lalang mengukur lahan, memeriksa kontur tanah, dan memastikan akses jalan truk sampah dari berbagai kecamatan bisa lancar. Situasi di sini betul-betul suasana “proyek penentu masa depan kota” — deg-degan tapi bikin harapan menyala, weh menyala abangku!
Warga sekitar Puuwatu yang ditemui mengaku harap-harap cemas. Di satu sisi mereka senang karena wilayahnya jadi fokus pembangunan, di sisi lain khawatir soal bau dan kebisingan. “Yang penting jangan sampai mengganggu udara di sini mi, Pak. Tapi kalau tertib pengelolaannya, kami dukung ji,” ujar salah satu warga sambil memantau aktivitas survei lahan.
Baca Juga: Isu Tata Ruang dan Pembangunan di Puuwatu
256 Ton Sampah Per Hari: Alarm Bahaya untuk Kota Kendari
Saudara-saudaraku, angka 256 ton sampah per hari itu bukan main-main toh. Itu berarti setiap hari Kota Kendari seperti “mengirim” truk-truk penuh sampah dalam jumlah yang bisa membentuk gunung mini kalau dibiarkan menumpuk. Jika tidak ada intervensi seperti TPST Puuwatu, maka TPA eksisting akan cepat penuh dan berpotensi menimbulkan krisis lingkungan.
Sampah yang mendominasi selama ini adalah sampah rumah tangga: sisa makanan, plastik kemasan, kardus, hingga limbah pasar. Bayangkan pasar-pasar besar macam Pasar Mandonga dan Pasar Panjang, tiap hari kirim kontribusi sampah yang tidak sedikit. Baca Juga: Kondisi Terkini Pasar Baru dan Penataan Kebersihan. Kalau tidak diolah dengan sistematis, Kota Lulo bisa berubah jadi museum sampah terbuka, aih ngeri!
Pemkot Kendari melihat tren pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat. Artinya, tanpa sistem pengolahan yang lebih modern, angka 256 ton itu bisa naik pi dalam beberapa tahun ke depan. Itulah mengapa TPST ini didesain bukan hanya untuk menangani kondisi sekarang, tapi juga antisipasi lonjakan volume sampah ke depan.
Peran TPST Puuwatu dalam Mengurangi Beban TPA
Dengan adanya TPST Puuwatu, pola kirim sampah diharapkan berubah. Sampah tidak lagi sekadar diangkut dan dibuang, tapi diolah. Sampah organik bisa diarahkan jadi kompos atau bahan baku energi, sampah plastik dan logam dipilah untuk didaur ulang, sementara residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi barulah dikirim ke TPA.
Skema ini, jika berjalan disiplin, dapat mengurangi beban TPA hingga puluhan persen. Situasi yang tadinya senam jantung karena tumpukan menanjak tiap hari, pelan-pelan bisa stabil. Tenang saja, kalau manajemen dipantau ketat dan masyarakat diajak terlibat memilah sampah dari rumah, aman ji itu barang.
Dukungan Pemkot Kendari dan Rencana Teknis di Lapangan
Warga Kota Lulo, dari pantauan langsung di Puuwatu, tampak bahwa Pemkot Kendari tidak main-main. Rencana pembangunan TPST Puuwatu ini masuk arus utama kebijakan pengelolaan lingkungan kota. Sejumlah dokumen perencanaan teknis disusun, termasuk kajian dampak lingkungan dan skema pembiayaan.
Pihak Pemkot menyebutkan bahwa TPST bakal dilengkapi zona penerimaan sampah, area pemilahan manual dan mekanis, fasilitas pengolahan organik, serta gudang penyimpanan sementara material daur ulang. Akses jalan akan diperlebar agar truk kontainer sampah dari berbagai kelurahan tidak bikin macet mi di jalur Puuwatu yang selama ini cukup padat.
Astaga, kalau dilihat di peta perencanaan, alur sampah diubah jadi seperti “pabrik” pengolahan, bukan lagi tempat buang akhir semata. Pengelolaan bau, lindi, dan emisi debu juga masuk dalam paket desain teknis. Masyarakat diminta memberi masukan, terutama soal jam operasional truk dan mekanisme keluhan warga jika ada gangguan.
Baca Juga: Kebijakan Terbaru Pemkot Kendari Soal Kebersihan Kota
Partisipasi Warga: Pilah Sampah dari Rumah, Bukan Nanti Pi
Bosku, sehebat apapun fasilitas TPST Puuwatu, kalau sampah datangnya campur aduk, tetap saja berat. Karena itu, Pemkot menekankan pentingnya peran warga. Edukasi soal pemilahan sampah dari rumah akan digencarkan: organik dipisah, plastik dikumpul, dan bahan berbahaya tidak dicampur sembarang.
“Jangan nanti pi tunggu penuh baru kita panik toh. Dari sekarang biasakan pisahkan sampah di rumah,” begitu pesan seorang pejabat kebersihan kota yang ditemui di lokasi. Ia menegaskan bahwa TPST bukan sulap, butuh disiplin kolektif supaya berhasil.
Beberapa komunitas lingkungan di Kendari bahkan sudah menyatakan siap mendampingi warga, dari pelatihan kompos rumahan sampai bank sampah. Deh, kalau ini jalan serempak, Kota Lulo bisa jadi contoh kota bersih di Sulawesi Tenggara, mantap djiwa!
Harapan dan Tantangan: Jalan Panjang TPST Puuwatu
Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada sekaligus optimis. Di satu sisi, tantangan teknis dan sosial tidak kecil: butuh anggaran, butuh SDM terlatih, dan butuh warga yang disiplin. Di sisi lain, tanpa langkah seperti TPST Puuwatu, 256 ton sampah per hari itu bisa jadi bom waktu lingkungan.
Warga sekitar berharap agar sosialisasi lebih gencar, sehingga tidak ada kesan proyek ini dipaksakan. “Kasih jelas mi ke kami, jangan tiba-tiba jalan saja. Tapi kalau demi kebersihan kota dan kami dilibatkan, kami dukung toh,” ujar seorang tokoh masyarakat Puuwatu yang ditemui di pinggir jalan menuju lokasi rencana TPST.
Dari Puuwatu, reporter Beritakotakendari.com menyaksikan sendiri: tanah disurvei, peta digelar, dan aroma perubahan pengelolaan sampah mulai terasa. Sekarang kuncinya adalah konsistensi. Jangan cuma ramai di awal pi, lalu redup di tengah jalan. Warga Kota Lulo menunggu, apakah TPST Puuwatu benar-benar jadi tameng perkasa yang menahan gelombang 256 ton sampah per hari, atau hanya jadi wacana yang lewat begitu saja.
Satu yang pasti, alarm bahaya sudah berbunyi nyaring. Tinggal kita pilih: bergerak bersama atau tenggelam dalam laut sampah. Pilihan ada di tangan kita semua, Sobat Kendari.





Average Rating