Beritakotakendari.com – PERADI Kendari bikin geger satu Kota Lulo malam ini, Bosku! Di sebuah ruangan penuh toga dan jas rapi para advokat, Ibrahim Tane resmi terpilih secara aklamasi sebagai nahkoda baru Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PERADI Kendari. Aih, suasananya macam final Piala Dunia, tapi versi pengacara mi! Teriakan dukungan, tepuk tangan, dan bisik-bisik strategi memenuhi udara, bikin jantung senam ji di lokasi.
Reporter lapangan paling heboh se-Sulawesi Tenggara hadir langsung memantau jalannya musyawarah, Sobat Kendari. Dari awal sampai palu diketuk, aura konsolidasi dan semangat mengembalikan muruah organisasi jelas terasa. Ndak main-main toh, Ibrahim Tane langsung pasang target percepat konsolidasi internal dan rebut kembali kehormatan PERADI Kendari di mata publik dan penegak hukum.
Baca Juga: Gebyar Kegiatan Hukum dan HAM di Kota Kendari
PERADI Kendari Aklamasi: Kronologi Detik-Detik Penentuan
Warga Kota Lulo, begini kronologinya mi. Musyawarah cabang yang menghadirkan para advokat dari berbagai firma hukum di Kendari ini awalnya diprediksi bakal panas ji, karena biasanya dinamika pemilihan organisasi profesi kan keras toh. Tapi astaga, yang terjadi justru manuver elegan: para peserta sepakat mendorong satu nama, Ibrahim Tane, lewat aklamasi.
Begitu pimpinan sidang menanyakan kesediaan peserta forum, hampir tak ada jeda, suara dukungan menggema. “Setuju!”, “Lanjut!”, sampai “Gas mi Ibrahim!” terdengar bersahut-sahutan. Situasinya bak lautan manusia yang sudah satu komando. Deh, nda ada obatnya! Satu per satu perwakilan peserta menegaskan bahwa momentum ini harus jadi titik balik kebangkitan PERADI Kendari.
Keputusan aklamasi ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa para advokat ingin mengakhiri friksi-friksi lama. “Kita butuh solid dulu, baru pi bicara program besar,” ungkap salah satu peserta kepada Beritakotakendari.com usai sidang. Kassian, selama ini bayang-bayang konflik internal sering kali mengganggu citra profesi di depan masyarakat.
Visi Ibrahim Tane: Percepat Konsolidasi PERADI Kendari
Setelah palu diketuk dan nama Ibrahim Tane resmi disahkan, suasana berubah jadi semi konferensi pers spontan. Wartawan, anggota, dan simpatisan berkerumun, bosku. Dalam pernyataan perdananya sebagai ketua baru, Ibrahim menegaskan prioritas utama: percepatan konsolidasi organisasi, dari pengurus inti sampai anggota di lapangan.
“Pertama-tama, kita benahi rumah sendiri dulu mi,” tegas Ibrahim dengan nada mantap. Ia menyinggung pentingnya penataan struktur, penyusunan program kerja realistis, serta memastikan seluruh anggota merasa dilibatkan. “Ndak boleh ada lagi yang merasa ditinggal. PERADI Kendari ini rumah bersama toh,” tambahnya.
Konsolidasi ini mencakup peningkatan komunikasi internal, penataan database anggota, dan penguatan koordinasi dengan lembaga penegak hukum di Kendari. Weh, menyala abangku! Kalau ini jalan mulus, citra organisasi profesi advokat di mata publik bisa naik kelas lagi. Baca Juga: Dinamika Hukum di Sekitar Kawasan Pasar Baru Kendari
Muruah Organisasi: PR Berat Tapi Bukan Mustahil
Sobat Kendari, topik paling sensitif yang disentuh Ibrahim adalah soal “muruah” atau kehormatan organisasi. Ia mengakui secara jujur, belakangan ini profesi advokat kerap diterpa stereotip miring. “Tugas kita bersama adalah membuktikan bahwa advokat di bawah PERADI Kendari menjunjung tinggi etika,” ujarnya.
Aih, ini PR berat ji, tapi bukan mustahil. Ibrahim merencanakan penguatan Dewan Kehormatan, peningkatan pelatihan kode etik, serta mendorong transparansi dalam penanganan laporan pelanggaran profesi. Intinya, jangan sampai ada anggota yang main-main dengan integritas, karena sekali tercoreng, nama organisasi ikut terbawa, toh.
Selain itu, mereka juga menyiapkan program edukasi hukum gratis bagi masyarakat. Langkah ini dinilai bisa jadi jembatan memperbaiki kepercayaan publik. Warga yang selama ini canggung berurusan dengan pengacara diharapkan merasa lebih dekat dan paham hak-hak hukumnya. Aih, kalau jalan terus, mantap djiwa ini program.
Hubungan PERADI Kendari dengan Pemerintah dan Penegak Hukum
Saudara-saudaraku, roda penegakan hukum di Kendari nda bisa berputar mulus kalau aparat penegak hukum dan advokat saling tarik-menarik terus. Di sinilah peran strategis PERADI Kendari sebagai jembatan. Ibrahim menegaskan siap membangun komunikasi konstruktif dengan Pengadilan, Kejaksaan, Kepolisian, dan Pemkot Kendari.
“Kita mau duduk bersama pi, bicara solusi, bukan hanya saling kritik,” katanya. Menurutnya, advokat adalah salah satu pilar penting dalam sistem peradilan. Jika koordinasi dengan lembaga negara baik, pelayanan hukum kepada masyarakat juga akan lebih tertata.
Rencananya, akan digelar forum rutin diskusi hukum lintas institusi di Kendari. Di forum itu akan dibahas isu-isu aktual, mulai dari penanganan perkara pidana, perdata, hingga persoalan administrasi negara yang menyentuh kepentingan publik. Baca Juga: Kolaborasi Pemkot Kendari dan Lembaga Hukum untuk Pelayanan Publik
Suasana Musyawarah: Tegang, Haru, Sekaligus Lega
Dari pantauan langsung di lokasi, awalnya wajah-wajah peserta tampak tegang mi. Maklum, pengalaman masa lalu sering diwarnai tarik-menarik kepentingan. Tapi ketika opsi aklamasi mulai menguat, raut lega pelan-pelan muncul. Aklamasi ini dipandang sebagai bentuk kedewasaan politik organisasi, bukan sekadar formalitas tanpa makna.
Beberapa advokat senior tampak menyalami Ibrahim satu per satu, memberi wejangan agar tidak larut dalam euforia. “Kerja berat menunggu di depan, jangan santai-santai toh,” ujar seorang senior sambil tertawa kecil. Momen itu mengundang haru, sekaligus menandai peralihan generasi kepemimpinan di tubuh PERADI Kendari.
Di luar ruangan, obrolan hangat berlanjut: soal rencana pelatihan, penataan organisasi, sampai kemungkinan menggandeng kampus-kampus hukum di Kendari untuk program magang. Aih, kalau semua ini terealisasi, ekosistem hukum di Kota Lulo bisa naik level betul-betul.
Harapan Warga Kota Lulo pada PERADI Kendari
Warga Kota Lulo banyak yang mungkin belum terlalu paham peran PERADI di balik layar. Tapi imbas kinerjanya terasa sampai ke akar rumput: dari pendampingan kasus keluarga, sengketa tanah, sampai perkara pidana. Dengan terpilihnya Ibrahim Tane secara aklamasi, harapan baru pun muncul.
Harapan itu sederhana tapi dalam: advokat yang humanis, profesional, dan siap membela masyarakat kecil. “Kita ini kadang takut mi sama pengacara, pikir mahal toh. Kalau PERADI Kendari bisa dekat sama masyarakat, pasti banyak terbantu,” ujar seorang warga yang ditemui di halaman parkir usai acara.
Aih, memang situasi ini bikin kita elus dada sekaligus optimistis. Tinggal kita tunggu pi implementasinya. Apakah konsolidasi betul-betul tuntas dan muruah organisasi benar-benar terangkat, atau cuma ramai di awal saja. Tugas media dan publik sekarang mengawal, supaya janji-janji malam aklamasi ini tidak menguap begitu ji.
Satu yang jelas, Sobat Kendari: malam ini babak baru PERADI Kendari resmi dimulai. Weh, menyala mi bangku-bangku hukum di Kota Lulo!





Average Rating