Total Aset BSI di Sultra Capai Rp1,302 Triliun

67

KENDARI, BKK – Branch Manager Bank Syariah Kendari (BSI) kantor cabang (KC) Silondae 1, Moh Agung Danan Jaya mengungkapkan, total aset BSI cabang Sulawesi Tenggara (Sultra) per agustus tahun 2021 mencapai Rp1,302 triliun.

“Angka tersebut tumbuh sebesar Rp199 miliar dari total aset per Des 2020 Rp1,103 triliun,” ungkapnya, Kamis (18/11).

Dijelaskan, ada beberapa sektor sebagai penopang tumbuhnya aset BSI di Sultra yaitu pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), pertumbuhan pembiayaan konsumer dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebagai dukungan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan.

“Secara nasional untuk modal dasar BSI sekarang itu sebesar Rp40 triliun terbagi dalam 80 juta lembar saham, karena sejak merger BSI jadi perusahan publik,” ujarnya.

Agung menuturkan, PT  Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi melayani seluruh nasabah dan masyarakat Indonesia dengan single system per 1 November 2021. Hal ini menandai tahap akhir dari proses migrasi nasabah serta awal baru bagi dunia perbankan syariah di Indonesia.

Pasca single system ini maka seluruh produk dan layanan yang ada di 3 bank legacy sudah dapat dilayani seluruhnya dalam satu sistem BSI. Selain itu, dengan single system ini artinya sekarang BSI memiliki satu core banking system, satu enterprise data, satu sandi kode bank di 451, dan satu pelaporan keuangan, semua dengan nama Bank Syariah Indonesia.

Sementara terkait proses migrasi nasabah, BSI telah menyelesaikan seluruh proses tersebut pada bulan Juli 2021, yang artinya 4 bulan lebih cepat dari target yang dicanangkan.

“Artinya BSI single system betul-betul bank hasil merger dengan single system, dan sudah running mulai tanggal 1 November. Pencapaian yang dilakukan dalam beberapa waktu ini sangat bagus sehingga kita juga bisa me-manage BSI dengan sangat baik. Dengan adanya single system ini, kami yakin BSI akan semakin besar baik dari sisi aset, laba, pembiayaan, dan pengguna mobile banking,” kata Agung.

Lanjut Agung, ada tiga hal penting yang selama ini menjadi nilai yang dipegang oleh BSI. Pertama adalah transformasi. BSI terus bertransformasi untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan juga perubahan serta mencoba hal-hal baru yang memang bisa memberikan trajektori perubahan bisnis yang bagus dan solid.

Kedua adalah menemukan perubahan bisnis model yang optimal. Sejak melakukan merger, bisnis model yang dimiliki oleh 3 bank legacy belum tentu sesuai dengan tuntutan nasabah saat ini. Untuk itu, BSI melakukan tuning untuk memperbaiki, mengimprove bisnis model yang ada di BSI saat ini, baik itu di segmen bisnis, teknologi dan delivery channel.

“Ketiga adalah value creation, baik dari aspek bisnis maupun operation dan juga perubahan bisnis model. Tujuan akhirnya adalah menuju kepada satu value creation yang optimal,” ucapnya.

Agung menambahkan, untuk memudahkan layanan dalam mendorong aset perbankan syariah, BSI melayani pembiayaan mitraguna bagi pegawai, pensiun, gadai dan cicil emas.

“Kami berikan layanan tersebut agar bisa diakses seluruh nasabah BSI untuk tetap mendorong peningkatan aset BSI,” tutupnya. (cr4)

Facebook Comments Box