Pangan Lokal Sultra “SIKKATO” untuk Ketahanan Pangan dan Pemenuhan Gizi Masyarakat

Oleh: Lisnawaty (Mahasiswa S3 Ilmu Pertanian UHO)

134

INDONESIA merupakan negara yang kaya akan jenis pangan lokal. Di semua daerah memiliki pangan lokal yang merupakan pangan ciri khas dari daerah tersebut, termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara. Setiap daerah di Sulawesi Tenggara mempunyai pangan lokal yang produknya diolah dari dari bahan baku lokal, teknologi lokal, dan pengetahuan lokal pula.

Pangan lokal yang ada di Sulawesi Tenggara sangat beragam. Pangan lokal yang cukup dikenal adalah “SIKKATO” yang merupakan singkatan dari Sinonggi, Kasuami, Kambose, Kabuto. Pangan lokal “SIKKATO” ini merupakan salah satu pangan lokal kebanggan Sulawesi Tenggara yang telah memperkaya keragaman kuliner Indonesia.

SIKKATO adalah pangan berbahan baku non beras yang merupakan pangan lokal Sultra yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Tenggara dari etnis yang berbeda. Sinonggi adalah makanan lokal masyarakat etnis Tolaki dan Mekongga. Sinonggi terbuat dari bahan dasar sagu dan disajikan dengan lauk pauk seperti ikan, ayam, daging dan juga sayur. Berdasarkan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM), dalam 100 gram tepung sagu mengandung 84,7 gram karbohidrat dan setara dengan 353 KKal energi. Selain mengandung karbohidrat juga mengandung polimer alami yaitu semacam zat yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia seperti memperlambat peningkatan kadar glukosa dalam darah sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes mellitus.

Di wilayah Buton memiliki pangan lokal yang juga cukup dikenali diwilayah Sulawesi Tenggara yakni kasuami yang terbuat dari kaopi (singkong yang diparut dan dikeringkan) kemudian dibuat menyerupai kerucut atau tumpeng. Singkong mengandung kalori yang cukup tinggi. Berdasarkan tabel komposisi pangan Indonesia, dalam 100 gram singkong mengandung 153 Kkal energi dan 36,4 gram karbohidrat. Selain kalori, singkong juga kaya akan karbohidrat kompleks dan serat. Kedua nutrisi ini berfungsi untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan, mengurangi peradangan, dan mengendalikan kadar gula darah.

Masyarakat Muna juga mempunyai pangan lokal yakni kambuse yang terbuat dari jagung dan kabuto yang terbuat dari singkong yang dikeringkan serta masih banyak lagi pangan lokal yang lainnya. Kambose dan kabuto juga memiliki kandungan gizi yang baik, dimana di dalam 100 gram kambose mengandung 32,6 gram karbohidrat dan 164 Kkal energi. Sedangkan kabuto mengandung 35,4 gram karbohidrat dan 250 Kkal energy serta mengandung anti oksidan yang tinggi.

Untuk mencapai ketahanan pangan nasional, pangan lokal harus dapat diposisikan sebagai bagian dari sistem pangan nasional mengingat potensi pangan dan makanan lokal sangat besar bagi pencapaian ketahanan pangan dan gizi masyarakat dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Pangan lokal “SIKKATO” ikut memperkaya keragaman kuliner yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra). Dengan melestarikan pangan lokal “SIKKATO”, selain tetap melestarikan kekhasan pangan lokal Sultra, juga dapat mendukung pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. SIKATO selain kaya akan zat gizi, juga aman untuk dikonsumsi karena diolah tanpa menggunakan bahan pengawet. Melestarikan pangan lokal “SIKKATO” bukan hanya berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan, namun juga dapat menyediakan pangan yang bergizi dan aman untuk dikonsumsi.

Diversifikasi pangan merupakan suatu upaya yang terstruktur baik dari produksi, penyediaan hingga konsumsi dengan titik tekan pada pemanfaatan sumber pangan lokal selain beras yang selama ini menjadi pangan utama. Sasaran percepatan keragaman konsumsi pangan adalah tercapainya pola konsumsi pangan yang aman, bermutu dan bergizi seimbang yang dicerminkan oleh tercapainya Pola Pangan Harapan (PPH). Konsumsi karbohidrat diharapkan berasal pada pangan lokal selain beras, olehnya itu pangan lokal harus menjadi pangan berkelanjutan dengan membudidayakan bahan pangan sagu, singkong dan jagung. Diversifikasi pangan dimaksudkan bukan untuk menggantikan beras sepenuhnya, namun mengubah dan memperbaiki pola konsumsi masyarakat supaya lebih beragam jenis pangan dengan mutu gizi yang lebih baik

Dalam rangka percepatan pengembangan pangan lokal, kementerian pertanian telah merumusakan strategi dan program untuk peningkatan ketersediaan pangan melalui Diversifikasi Pangan Lokal (DPL). Program ini terdiri dari tiga kegiatan, yakni (1) diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan local yang terfokus pada satu komoditas utama, (2) pemanfaatan pangan lokal secara massif dan (3) pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan marginal melalui kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Pemerintah Sulawesi Tenggara juga telah mengembangkan strategi serupa dalam upaya pengembangan pangan lokal. Seperti yang disampaikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara dalam acara Gerakan Diversifikasi dan Ekspose UMKM Pangan Lokal Tahun 2020 di Kendari. Pemerintah Sultra mendorong gerakan konsumsi pangan lokal sebagai strategi kebijakan diversifikasi pangan guna mengurangi ketergantungan konsumsi beras sebagai sumber karbohidrat melalui tiga pendekatan yaitu, teknologi, bisnis, dan kearifan lokal.
Sebagai masyarakat Sulawesi Tenggara sudah seharusnya terus menggiatkan pangan lokal “SIKKATO” agar dapat menjadi pangan kebanggan Provinsi Sultra. Untuk mendukung program menggiatkan makanan lokal ini, maka diperlukan beberapa upaya. Salah satunya adalah menghimbau pada pelaku kuliner untuk mengembangkan SIKKATO ataupun olahan bahan pangan lokal lainnya, agar konsumen akan lebih mudah mengenal, mengetahui, dan mengonsumsi SIKKATO dan olahan bahan pangan lokal lainnya. Untuk melestarikan aneka masakan tradisional para orangtua juga bisa memperkenalkan sejak dini makanan tradisional terhadap anak-anak . Salah satu caranya adalah dengan menyuguhkan minimal masakan rumah agar anak-anak terbiasa dengan makanan pangan SIKKATO. Adapun upaya lainnya yaitu dengan mungubah mindset (cara berpikir) di mana pangan lokal memberikan keuntungan baik dari sisi ekonomi dan kesehatan. Makan asal kenyang diubah menjadi makan untuk sehat sehingga pangan yang dikonsumsi harus memperhatikan kaidah-kaidah gizi dan kesehatan. Pangan yang dikonsumsi setiap hari harus beragam, bergizi, seimbang dan aman. Dalam hal pemasaran perlu adanya pemanfaatan teknologi, oleh karena itu perlu adanya perluasan jangkauan pemasaran yang dapat dilakukan dengan internet marketing (facebook, WhatsApp, Instagram, Tiktok, internet/blog) mengingat jumlah penduduk yang mengakses media sosial juga sangat besar.

Sebagai salah satu makanan warisan budaya dan wujud keragaman pangan Sulawesi Tenggara, pangan lokal “SIKKATO” harus dipertahankan keberadaannya dan terus dikembangkan dengan memberikan modifikasi baik dari tampilan, rasa dan cara menghidangkannya.

Sebagai masyarakat Sulawesi Tenggara sudah seharusnya kita untuk melestarikan pangan lokal kita agar dapat dikenal dan dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Melalui makanan tradisional, masyarakat Sulawesi tenggara dapat dikenal secara nasional maupun internasional. (*)

Facebook Comments Box