Cerita Warga Maros Bertahan Hidup 7 Hari di Laut Banda Setelah Kapal Tenggelam

149
Ketua Kerukunan Keluarga Maros (KKM) H Ruslan Johan (tengah/duduk) bersama pengurus KKSS Sultra, H Sapril MS (kiri/duduk), menyerahkan santunan kepada Jamaluddin.

KENDARI, BKK – Kapal yang ditumpangi 4 warga Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) tenggelam di Laut Banda pada Selasa (7/9).

Peristiwa diketahui setelah para korban ditemukan terombang ambing di lautan oleh KM Fajar Mulya 09 pada Senin (13/9) sekitar pukul 18.05 Wita.

Kemudian,Tim SAR yang mendapat laporan penemuan para korban melakukan evakuasi. Korban dibawa ke Kota Kendari pada Selasa (14/9).

Dari 4 korban, yang ditemukan selamat adalah Jamaluddin (54), setelah 7 hari bertahan hidup di tengah laut.

Dua korban Hasanuddin (34) dan Ihsanuddin (43) meninggal dunia, sedangkan satu korban bernama Wahyu (30) belum ditemukan.

Korban selamat yang diwawancarai wartawan Berita Kota Kendari, Jamaluddin membeberkan kisahnya bertahan hidup di tengah laut selama 7 hari.

Awalnya pada Minggu (5/9) mereka berangkat dari Batu Atas Kabupaten Buton Selatan (Busel) hendak ke Sorong, Papua untuk membeli kopra.

Perahu yang mereka gunakan itu dibeli oleh salah satu rekannya di Batu Atas, dan Jamaluddin dipercaya untuk mengemudikan kapal.

Di perjalanan, lanjut Jamaluddin, pada Selasa (7/9) sekitar pukul 12.00 Wita kapal yang mereka tumpangi dihantam ombak dan kemasukan air di Laut Banda.

“Saat itu saya berada di kamar kapal bagian bawah. Untung ada lubang sedikit. Air sudah penuh, saya keluar dari lubang itu,” tutur Jamalauddin.

Saat berhasil keluar dari kamar kapal bagian bawah, Jamaluddin mengatakan, posisi perahu telah terbalik, nyaris tenggelam, menyisakan atap kapal.

Di atas kapal itu dirinya bersama rekan-rekannya bertahan hidup. Naas pada Rabu (8/9) Ihsanuddin meninggal dunia, menyusul rekannya pada Kamis (9/9) Hasanuddin meninggal dunia.

“Teman yang meninggal pertama malam setelah kejadian. Kalau satunya meninggal karena sudah tidak kuat, saya tuntun dia hingga putus (meninggal),” ujar Jamaluddin.

“Saya ikat dua-duanya (korban meninggal, red) di kapal, pikiranku nanti kalau didapat (ditolong, red) mayat mereka tidak hilang,” tambahnya.

Sejak kejadian kapal mereka sudah terbalik, Jamaluddin mengatakan, dengan seutas tali dia mengikat dirinya dengan badan kapal yang masih terapung.

“Tidak ada yang saya makan, cuma minum air laut. Saya hanya berdoa bisa kuat dan bertemu anak istri. Alhamdulillah saya selamat,” ujarnya.

Sehari sebelum ditemukan, Jamaluddin mengatakan, rekannya yang hilang itu memilih pergi berenang meninggalkan kapal karena sudah putus asa.

“Teman yang satu saya bilang, kamu bertahan besok pasti ada bantuan. Saya ini jika tidak ada bantuan besoknya, pasti akan meninggal dunia. Pas sebelum hari ditemukan, teman saya yang hilang melompat,” ujarnya.

Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Jamaluddin sudah membaik.

Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) turut prihatin dengan kejadian yang menimpa 4 warga Kabupaten Maros itu.

Ketua BPW KKSS Sultra Drs H Nurdin Tompo menuturkan, pihaknya akan memberikan santunan kepada korban, melalui sumbangan dari anggota KKSS yang ada di Sultra.

“Prinsip kita jika ada keluarga dari warga Sulsel terkena musibah atau kesusahan di mana saja, kita sepakat supaya untuk siap memberikan bantuan terutama kejadian yang dialami korban warga Maros ini,” kata Nurdin saat ditemui di salah satu Hotel di Kota Kendari, Rabu (15/9).

Selain dalam bentuk finansial, Nurdin mengatakan, pihaknya juga memberikan fasilitas berupa kemudahan untuk korban hingga diberangkatkan ke Makassar untuk kembali ke Maros.

Disebutkan, 2 korban meninggal dunia telah diberangkatkan pada Selasa (15/9) lalu ke Makassar.

“Ketua Kerukunan Keluarga Maros juga menggalang dana akan memberikan santunan. Kami juga imbau masyarakat Sulsel di sini untuk memberikan bantuan sesuai kemampuan,” gugahnya. (cr2/iis)

Facebook Comments Box