Jaringan Tambang Temukan Illegal Mining di Antara IUP CV Unaaha Bakti dan PT Bososi

405
Ilustrasi

KENDARI, BKK- Jaringan Kerja Advokasi Tambang untuk Keadilan menemukan perambahan hutan lindung diduga dilakukan salah satu perusahaan tambang nikel yang beraktivitas di Morombo Kecamatan Lasoslo Kepulauan Kabupaten Konawe Utara (Konut).

Kabid Hukum dan Lingkungan Hidup Jaringan Kerja Advokasi Tambang untuk Keadilan Konut Oschar Sumardin menyebut, hutan lindung yang diserobot terbut teletak di luar wilayah izin usaha pertambangan (IUP) antara CV Unaaha Bakti Persada dan PT Bososi Pratama.

“Ini adalah lahan koridor antara IUP CV Unaaha Bakti Persada dan PT Bososi Pratama. Itu kawasan hutan lindung, namun pada saat kami turun lapangan, masih ada alat berat atau aktivitas perusahaan pertambangan di area tersebut,” bebernya melalui pengeras suara saat demonstrasi di Depan Markas Keplisian Daerah Polda (Mapolda) Sultra, Rabu (25/8).

Menyusul temuan mereka itu, Oschar meminta, aparat penegak hukum untuk tidak tutup mata.

“Kami minta agar Tim Tipiter Bareskrim Polri turun lagi untuk menindak perusahaan nakal ini,” imbuhnya.

Sebagai putra daerah Konut, Oscar mengaku, sangat mendukung kerja-kerja penindakan yang dilakukan Tim Tipiter Bareskrim Polri.

“Kami juga meminta Tim Tipiter Bareskrim Polri, agar tidak ada yang diistimewakan. Semua perusahaan yang terindikasi melanggar harus ditindak tegas,” katanya.

Untuk diketahui, pada Maret 2020, Tipiter Bareskrim Polri menyegel PT Bososi Pratama karena kedapatan beraktivitas di luar IUP. Kala itu, PT Bososi menambang di hutan lindung yang sama seperti yang dipermasalahkan saat ini.

Lebih dari setahun berlalu, ada lagi perusahaan nakal beroperasi di hutan lindung yang sama seperti yang menjerat PT Bososi.

“Kami duga pt bososi tidak mungkin. Karena sudah ditindaki, berarti kami duga di sini ada perusahaan yang mensuport, baik dalam penjualan dokumen ataupun kelengkapan legalitas dalam pengiriman ore nikel. Dan, kami duga di sini CV Unaaha Bakti Persada yang menambang di hutan lindung,” tuding Oschar.

Menurutnya, penindakan terhadap PT Bososi bersama dengan perusahaan enam tambang lainnya pada 2020 lalu, seharusnya menjadi efek jerah terhadap perusahaan nakal.

Tak lama melakukan orasi, Oschar cs langsung masuk menuju Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sultra. Di sana mereka mengadukan perambahan hutan. (cr2/man)

Facebook Comments Box