Anak Kepala Daerah Warnai Panggung Politik

53

Kendari, BKK- Putra Gubernur Ali Mazi, Alvin Akawijaya Putra, baru-baru ini memenangkan perebutan kursi Ketua KNPI Sultra. Pada saat anak-anak kepala daerah lainnya sudah berebut kekuasaan sejati, dia masih main di tepi-tepi.

Panggung politik Sultra saat ini diwarnai putra-putri kepala daerah (kada) dan mantan kada. Tidak semua memang, hanya beberapa, namun yang beberapa ini justru bukan yang disangka bakal mendinasti.

Cuma anak Asrun, mantan Wali Kota Kendari; anak Surunuddin, Bupati Konsel; anak Imran, mantan Bupati Konsel; anak Kery Konggoasa, Bupati Konawe; anak Ridwan Bae, mantan Bupati Muna; anak Amarullah, Bupati Konawe Kepulauan; anak Safei Kahar, mantan Bupati Buton, dan anak Arhawi, mantan Bupati Wakatobi.

Dari mereka berdelapan, Asrun menyumbang 2 orang, Ketua PAN Kota Kendari Asrizal Pratama Putra dan Adriatma Dwi Putra mantan Wali Kota Kendari.

Dari Surunuddin ada anggota DPRD Sultra, Aksan Jaya Putra, di Fraksi Golkar.

Kery Konggoasa sukses mendudukkan Fachry Pahlevi di DPR-RI dan Devi Thesya Feriska di DPRD Konawe. Keduanya tampil melalui PAN.

Dari Imran juga 2 orang, Wakil Wali Kota Kendari Siska Karina dan Wahyu Ade Pratama yang belum lama undur diri dari DPRD Sultra.

Dari Ridwan Bae ada anggota DPD-RI Wa Ode Rabia Al Adawiyah dan Wakil Ketua DPRD Kota Kendari Inarto asal Golkar.

Dari Amarullah ada anggota DPRD Sultra asal Demokrat, Rifky Saifullah Rasak. Beda perahu dengan ayahnya yang PDIP.

Dari Sjafei Kahar ada mantan Bupati Buton Selatan Agus Feisal Hidayat.

Dari Arhawi ada anggota DPRD Sultra, Achmad Aksar di Fraksi Golkar.

Beberapa di antara mereka baru “menetas” di Pileg 2019, seperti, Wa Ode Rabia, Inarto, Fachry Pahlevi, Devi Tesya Feriska, dan Aksan Jaya Putra, Rifky Saifullah, dan Achmad Aksar.

Ada juga yang muncul lebih dulu di Pileg 2014, tersebutlah Asrizal dan Adriatma, serta Wahyu.

Asrizal sudah 2 periode di DPRD, pertama di DPRD Kota Kendari dan setelahnya di DPRD Sultra.

Adriatma sendiri awalnya di DPRD Sultra kemudian mencalonkan diri jadi wali kota pada 2018 sebagai suksesor ayahnya, Asrun, dan berhasil.

Di antara dua bersaudara, Adriatmalah yang mengekor benar-benar langkah ayahnya.

Siska Karina lahir dari fenomena bola muntah pilwawali setelah suaminya, Adriatma, dicopot dari kursi wali kota karena kasus operasi tangkap tangan KPK.

Dengan Adriatma, sudah 2 orang dari mereka berduabelas yang sukses menjadi kepala daerah, ditambah Agus Feisal Hidayat yang memenangkan Pilkada Buton Selatan 2017. Ia juga telah menjadi mantan, lagi-lagi karena operasi tangkap tangan KPK.

Sepanjang cerita sukses anak kada dan mantan kada di pentas politik, tidak ikut disebut anak-anak Nur Alam, padahal ayahnya salah satu maestro politik di jazirah Sultra, yang tak tertandingi di masanya.

Nur Alam punya anak sejauh ini hanya bermain di sayap-sayap partai politik. Radhan Al Gindo jadi Ketua AMPI, ormas yang didirikan Partai Golkar, sedangkan kakaknya, Sitya Giona, memimpin sayap Partai NasDem, DPW Garnita Malahayati Sultra.

Setali tiga uang dengan putra sulung Gubernur Ali Mazi, Alvin Akawijaya Putra, yang memilih bergulat di KNPI Sultra.

Walau memang tidak tertutup kemungkinan mereka merangsek masuk ke jantung politik. Sebab, ada kisah cepat berkuasa, cepat juga kolaps.

Apa pun itu, mereka semua terbilang masih sangat muda. Umur politik mereka masih panjang. Nama mereka masih akan wara-wiri di kertas suara pemilu, di papan-papan reklame, bertahun-tahun lagi.

Di tambah lagi pada saat mereka ini mekar, ayahnya pun juga sementara berkibar. Panjang umur dinasti. Apalagi politik dinasti dilegitimasi dengan baik oleh Presiden Jokowi. (iis)

Facebook Comments Box