Prostitusi Online, Polisi Masih Cari Siapa yang Bisa Dipidana

37
Gusti Komang Sulastra. (FOTO:SUHARDIMAN/BKK)

KENDARI, BKK- Kepolisian Sektor (Polsek) Baruga masih terus mengumpulkan bukti tindak pidana terkait prostitusi online 11 remaja yang terjaring operasi pekat di Kamar Hotel Grand DDNS, Selasa (6/4) malam lalu.

“Masih lanjut prosesnya. Kita kumpulkan bukti-bukti pendukung, siapa yang bisa dipidana,” ujar Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Baruga Ajun Komisaris Polisi (AKP) Gusti Komang Sulastra, melalui pesan WhatsApp, Minggu (11/4).

Sebelumnya, petugas Polsek Baruga mengamankan 11 remaja putri di kamar Hotel Grand DDNS yang terletak di Jalan Budi Utomo Kelurahan Mataiwoi Kecamatan Wuawua Kota Kendari, pada Selasa (6/4) malam.

Mereka masing-masing berinisial TTE (17), ELA (17), AAP (18), DOR (17), Au (17), NWD (20), Ha (20), EF (20), WAS (21), WD (18) dan TJ (19).

Diduga para remaja putri ini, terlibat prostitusi online. Melalui aplikasi MiChat, mereka berkomunikasi dan menunggu pelanggan di kamar hotel.

Dalam kasus ini, polisi kemudian mendalami keterlibatan pemilik hotel. Pasalnya, pengakuan dua remaja berinisial TTE (17) dan AAP (17) kepada penyidik mengungkapkan bahwa pemilik hotel bernama Andi Resa pernah menawarkan untuk melayani warga negara asing (WNA) asal Cina kepada mereka.

Dengan tarif Rp500 yang diberikan pemilik hotel, remaja berinisial TTE melayani pelanggan yang menginap di hotel itu.

“Benar ada yang mengaku seperti itu. Kita jadikan rujukan. Hanya (saja), untuk menetapkan tersangka kami butuh tambahan alat bukti,” ujar Kapolsek Baruga.

Ia mengatakan, pihaknya baru memperoleh satu alat bukti yakni keterangan dari anak-anak itu.

Sambung dia, anak-anak tersebut sudah lupa kapan peristiwa tersebut dan bukti uang transaksinya.

“Jika itu diingat, kita buru bagaimana proses penyerahannya. Intinya, kita masih lidik, kita tunggu petunjuk selanjutnya,” ungkap Gusti antusias.

Lebih jauh, Gusti mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk mengembalikan 11 remaja putri tersebut kepada orangtuanya untuk dibina.

“Tiga orang dikenakan wajib lapor. Kita masih butuh keterangan mereka yang mengarah ke situ, dugaan keterlibatan pemilik hotel,” pungkasnya. (cr2/iis)

Facebook Comments