Mengenal Batu Yi Gandangi, Menyerupai Peta Pulau Buton

35
Batu yi gandangi. (FOTO: M Syukran)

Batu yi gandangi merupakan tugu batu setinggi 1,40 meter yang memiliki celah pada sisi luarnya. Di masa lalu terdapat mata air pada celah batu ini yang diyakini dapat mengeluarkan air bila akan penobatan raja atau sultan.

Laporan : FAYSAL AHMAD, KENDARI.

Menurut Sumarni, salah seorang petugas pembersih makam di Kesultanan Buton, batu yi gandangi untuk penobatan raja atau sultan yang dulunya batu tersebut persis jenis kelamin laki-laki. Dan lokasi batu tersebut tepat di bawah makam Sultan Buton I Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis atau berlokasi di Kelurahan Melai Kecamatan Murhum Kota Baubau.

“Jangan sampai generasi yang akan datang selanjutnya, sekarang dan masa depan itu akan berpikiran negatif tentang batu ini. Dan batu ini persis kelamin laki-laki. Alasan kedua batu ini dipotong karena Islam harus disunat, jadi ini dipotong. Di mana saat itu telah diadakan berbagai pertimbangan oleh Sultan Murhum, maka beliau mengizinkan untuk memotong batu ini dan potongan batu ini ada di Benteng Wawarombo,” katanya, saat ditemui di lokasi batu tersebut belum lama ini.

Dikatakan, awalnnya di Kesultanan Buton dianut agama Hindu karena adanya Ratu Wa Kaa Kaa pertama.

“Makanya, adanya kesultanan Jawa dan Kesultanan Buton karena awalnya di sini istri dari Gajah Mada. Cuman kan orang-orang dulu masih pemikiran primitif, belum ada hukum dan belum ada raja atau pemimpin,” jelasnya.

“Jadi dulu yang dituakan memimpin. Dan setelah muncul batu ini, maka di sini (batu yi gandangi) dijadikan tempat pengambilan air suci untuk calon raja atau sultan yang mau akan dilantik. Jadi sehari sebelum pelantikan di sini diadakan ritual pemukulan gendang semalam suntuk,” tambahnya.

Lanjut dia, orang tua dulu juga berikrar, barang siapa yang belum memegang batu tersebut maka dia belum dinyatakan sampai di tanah Buton.

“Dan ini sampai sekarang. Cuman masalahnya adat istiadat itu sudah hampir punah dilaksanakan, di mana hanya sebagian-sebagian saja yang dilaksanakan,” ungkapnya.

Sumarni menyebutkan, dulunya 40 malam umur bayi akan di injakan di batu yi gandangi agar dia sah sampai di tanah Buton dan jadi orang Buton.

“Dan tinggi batu ini dulu satu setengah meter dan pas di potong bentuk seperti ini. Dan seperti bentuk peta Pulau Buton,” ucap dia yang sehari-hari bekerja membersihkan makam di Kesultanan Buton.

Sumarni bilang, menjadi pembersih makam di Kesultanan Buton sejak kelas empat sekolah dasar (SD), yang juga dia asli Buton. Sumarni menuturkan, ia seorang anak yatim yang saat itu tinggal sama neneknya.

“Jadi saya masih kecil menjadi pembersih makam daripada saya ikut bermain mendingan saya jadi petugas pembersih di sini dan alhamdulillah saya sampai tamat sekolah, menikah dan punya anak 4, dan anak saya sudah pada tamat lagi bahkan sudah kerja. Dan batu yi gandangi setiap hari di kunjungi warga,” paparnya. (*)

Facebook Comments