Tarik Ulur PBM Luring di Kendari

63
Ilustrasi

KENDARI, BKK- Sejak Proses Belajar Mengajar (PBM) luar jaringan (luring) diganti  menjadi dalam jaringan (daring) pada Maret 2020 lalu.Tidak sedikit Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dikmudora) Kendari terus menggagas PBM Luring di setiap sekolah.

LAPORAN: SUMARDIN, KENDARI.

Mulai mempersyaratkan sekolah memiliki Sarana Prasarana (Sarpras) Protokol kesehatan (Prokes) Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memadai, persetujuan warga sekolah, sampai meminta persetujuan orang tua agar anaknya diizinkan ikuti PBM luring.

Alhasil wacana PBM Luring tersebut tidak pernah terealisasi. Adapun sempat jalan di 3 sekolah, tidak bertahan lama karena tren Covid-19 tak kunjung melandai.

Terbaru, Pemkot menggagas PBM Luring bagi siswa kelas 6 dan 9 yang bakal tamat. Sekali lagi, akibat Covid-19 tak melandai, pembelajaran home visit (kunjungan rumah) jadi pilihan.

Wali Kota Kendari, H Sulkarnain menjelaskan, bahwa metode pembelajaran home visit sudah menjadi kesimpulan dari hasil diskusi dengan pihak Dikmudora.

“Kita akan optimalkan home visit. Jadi seluruh guru di sekolah akan kita orientasikan untuk bagaimana menangani anak-anak yang akan beralih jenjang. Makanya harus persiapkan mereka setidaknya siap mental untuk tamat sekolah,” ujarnya.

Sulkarnain menambahkan, metode home visit adalah solusi sementara untuk menggantikan pembelajaran luar jaringan yang berisiko tinggi menularkan Covid-19.

Sehingga sambung Sulkarnain,  pihaknya masih mencari komposisi terbaik bagaimana anak-anak ini tidak kehilangan persiapan untuk beralih jenjang yang dari SD ke SMP, SMP ke SMA.

Sementara itu, pengamat Pendidikan Sulawesi Tenggara (Sultra), Prof Abdullah Alhadza, menyetujui rencana Pemkot terkait PBM daring diganti dengan metode home visit.

Menurutnya, program home visit ini bisa jadi solusi jika ada materi yang sulit dipahami siswa dan orangtuanya, yang mana guru menjadi wadah bertanya dan sebagainya, dengan tetap mematuhi prokes Covid-19.

“Jadi caranya ada dua, bisa guru ke rumah siswa secara door to door. Dan disiapkan satu lokasi yang mana ada beberapa siswa berkumpul dengan jumlah terbatas,” tuturnya.

Tidak dipungkiri penerapan PBM daring memang muncul beragam kesulitan baik bagi anak sendiri maupun orangtua yang terkesan dipaksa menjadi guru dadakan.

Padahal kompetensi mengajar dan mendidik tak dimiliki sebagian besar orangtua, sehingga  menimbulkan masalah lain,  hingga berdampak pada psikologis anak terutama untuk usia-usia awal, seperti, SD.

Apalagi, dia melihat pemerintah belum mampu mendesain pembelajaran yang berbasis teknologi untuk menjadi pembelajaran terintegrasi baik sikap, karakter maupun pengetahuan.

“Saat desain tugasnya terlalu berat maka tidak sesuai dengan kemampuan anak  dan tidak semua orangtua memiliki kemampuan yang standar melakukan bimbingan yang dikehendaki dalam proses pembelajaran. Akumulasi dari semua ini pasti membuat orang stres,” paparnya.

Untuk itulah, lanjut dia, mendesain pembelajaran harus lebih menyenangkan bagi anak agar mendorong mereka lebih dalam untuk mengikuti pembelajaran.

“Jangan sampai anak menjadi korban terutama di tingkat SD. Karena usia emas anak ini harus dipastikan dapat terasah baik, dan jangan sampai sebaliknya tidak berkembang akibat cara belajar yang salah dampak pandemi,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments