Sensasi Wisata Kuliner Ikan Katapai di Bibir Pantai Bone

44
Bupati Butur Abu Hasan saat meninjau Pasar Ikan Katapai, Pantai Bone dijadikan Swafoto bagi wisatawan Ikan Katapai. (Istimewa)

Kabupaten Buton Utara (Butur) tak hanya dikenal dengan puluhan destinasi wisata alamnya. Misalnya saja, wisata Pantai Mowuru, Pantai Membuku, Permandian Alam Ee Yi Ngkapala, Permandian air panas Eengkarede, dan masih banyak yang lainnya. Dari beragam tempat wisata alam yang dapat memanjakan mata para wisatawan itu, ada satu wisata yang menarik paling digemari masyarakat setempat maupun dari luar daerah. Ialah wisata kuliner ikan Katapai.

Laporan: Darso Butur, Buranga

Penamaan Katapai sendiri berasal dari bahas lokal atau bahasa Kulisusu. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia ialah Asap. Jadi Ikan Katapai merupakan Ikan hasil dari pengasapan.

Wisata kuliner Ikan Katapai sudah cukup lama menarik perhatian wisatawan. Hanya saja kalah itu, belum begitu dilirik pemerintah setempat untuk dilakukan penataan. Hanya, ada keinginan masyarakat sekitarnya berusaha untuk mempercantik kawasan itu.

Namun, menjelang akhir pemerintahan Bupati Muh Ridwan Zakariah-Wakil Bupati Harmin Hari, tepatnya 2014 silam, melalui Dinas Pariwisata  setempat dibangun beberapa fasilitas Pantai Bone.

Berbagai fasilitas yang ada dibangun di Pantai Bone, seperti  jembatan yang terbuat dari kayu dan menjorok ke arah laut menjadi daya tarik utamanya. Di mana jembatan kayu tersebut juga dapat dijadikan tempat swafoto bagi pengunjung.

Begitu pun dengan lapak Ikan Katapai, yang dibangun menjadi lebih cantik lagi dengan beberapa gazebo permanen. Fasilitas ini menambah daya tarik bagi pengunjung dengan memberikan kenyamanan bagi pencinta kuliner saat mencicipi hidangan Ikan Katapai.

Wisata Kuliner ini sebetulnya tepatnya berada di bibir Pantai Bone, Desa Malalanda Kecamatan Kulisusu. Jadi, mengunjungi Pasar Ikan Katapai bisa menjadi pilihan tepat karena para wisatawan akan disuguhi pemandangan menarik dengan suasana pantai Bone yang cukup cantik sambil menikmati hidangan Ikan Katapai.

Bagi anda yang ingin mengunjungi destinasi wisata alam sekaligus wisata kuliner ini, tak perlu ragu akan akses jalan.

Dari Kota Ereke hanya berjarak kurang lebih 7 kilometer dengan waktu tempuh sekira 15 menit. Ruas jalan pun semuanya telah diaspal. Jarak  Ereke sendiri dari ibu kota Provinsi Sultra, Kendari, dapat diakses melalui jalur darat maupun laut, masing-masing bisa ditempuh hingga 5 sampai 6 jam perjalanan.

Dua Jenis Ikan

Di Pasar Ikan Katapai terdapat puluhan lapak penjual berjajar menjajakan produk khasnya masing-masing. Meskipun begitu, para pengunjung tidak perlu bingung dengan harga ikan asap di sana.

Para penjual menetapkan harga yang hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Untuk pilihan harganya pun bervariasi, tergantung ukuran besar ikannya, ada yang harga Rp10 ribu, Rp15 ribu, dan Rp20 ribu, bahkan sampai Rp50 ribu per ekor.

Tapi itu, baru harga ikan. Makanan pendamping seperti buras serta bahan-bahan untuk membuat sambal, dan air minum mineral, lain lagi harganya. Meski demikian, tak akan merogoh kocek yang terlalu banyak, jika ingin menyaksikan indahnya sunset sambil mencicipi hidangan Ikan Asap Katapai ini.

Pada umumnya, ikan yang diasapi di pasar Ikan Katapai ini hanya dua jenis, yakni Ikan Cakalang dan Ikan Tuna. Kedua ikan ini masih segar saat dibakar, tekstur dagingnya pun tahan lama saat diasapi. Mungkin itu alasan para penjual hanya fokus pada dua jenis ikan itu.

Sedangkan untuk lama proses pengasapan bervariasi juga. Tergantung dari bentuk ukuran besar kecilnya ikan. Waktu proses pengasapan untuk ikan kecil hanya beberapa menit saja, sementara ikan sedang antara 1-2 jam. Namun tak perlu ragu, biasanya penjual akan lebih dulu melakukan pengasapan sebelum pasar ramai dikunjungi pada sore hari.

Setiap hari, pasar Ikan Asap Katapai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Terlebih pada akhir pekan. Para pengunjung yang datang tak sedikit yang berasal dari luar daerah. Pasar ikan asap ini dikelola oleh warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan.

Tujuannya ialah meningkatkan harga jual ikan untuk mendukung peningkatan perekonomian warga setempat. Karena apabila ikan asap itu tidak habis dijual, maka besok paginya akan dibawa ke pasar utama Minaminanga untuk dijual.

Ikan Menjadi Ikon

Di masa pemerintahan Abu Hasan-Ramadio, kawasan wisata kuliner direncanakan untuk diperlebar karena kondisi lahannya sangat sempit. Hanya saja, ia menghindari reklamasi untuk menambah luas kawasan karena dapat merusak lingkungan.

“Tapi kalau untuk melakukan revitalisasi yang ada ini, ini saya kira harus kita lakukan. Sehingga orang-orang yang berkunjung nyaman,” tuturnya Abu Hasan, saat mengunjungi pasar ikan itu, beberapa waktu lalu.

Selain perbaikan kawasan tersebut, teknik pembakaran ikan yang dilakukan oleh para pedagang harus lebih baik. Di mana, tungkunya harus higienis.

“Kalau mau higienis lagi, tungkunya harus dikasih naik. Sehingga mereka membakar sambil berdiri, tidak membakar sambil duduk. Setengah mati ibu-ibu yang membakar,” paparnya.

Abu Hasan menegaskan, kawasan Wisata Kuliner Pantai Bone sudah menjadi ikon Butur. Jadi, tidak boleh tidak harus dibenahi, baik fisiknya maupun manajemen pengelolaannya. Sehingga orang nyaman.

“Ikan asap ini juga terkenal di wilayah Sultra. Karena tiap daerah yang berkunjung di Butur, pasti akan singgah di sini,” tuturnya.

Abu Hasan mengaku, Ikan Katapai masih butuh sentuhan yang lebih baik lagi. Dimana, diupayakan dengan ukuran kecil sehingga Katapai bisa bertahan lama dan organik. Pasalnya, kalau tamu yang datang ke Butur, biasanya berkunjung ke kawasan wisata kuliner, pada umumnya mereka membeli Katapai agar bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Kemudian, salah satu sentuhan yang bisa dilakukan juga ialah dari sisi daya tahan. Sebab, Katapai hanya mampu bertahan selama tiga hari. Ke depan, para penjual akan diajari cara membuat Katapai bisa bertahan hingga tiga bulan. Sehingga Katapai bisa menembus mini market dan menjadi oleh-oleh unggulan.

“Mungkin  akan pikirkan menggunakan teknologi khusus. Tapi tidak merubah cita rasa dan tidak menggunakan bahan pengawet. Intinya tetap berbahan organik,” ucap Abu Hasan. (*)

Facebook Comments