Pengamat : Angka Kemiskinan Meningkat Akibat Daya Beli Menurun

57

KENDARI, BKK – Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Sulawesi Tenggara (Sultra) meningkat. Pasalnya jumlah penduduk miskin dari Maret hingga September 2020 meningkat 15.200 orang.

Secara tahunan dari September 2019 hingga September 2020 meningkat menjadi 17.350 orang. Namun, untuk presentasi penduduk miskin dari 2017 hingga 2020 justru mengalami penurunan dari  11,71% menjadi 11,69%. Kemudian untuk angka penduduk miskin dipedesaan naik 9.210 orang, sementara diperkotaan turun 7,4 persen. Untuk diketahui, angka kemiskinan tergantung dari pengeluaran per kapita per bulan.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Ekonomi Sultra, Dr Syamsir Nur mengungkapkan bahwa garis kemiskinan ada dua yaitu makanan dan bukan makanan, yang sangat mendominasi adalah garis kemiskinan makanan sampai 75% untuk tahun 2019 dan turun sedikit di 2020 menjadi 74%.

“Jadi, hal ini mengindikasikan kenaikan angka kemiskinan yang dipengaruhi oleh kondisi Covid-19,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon selularnya, Minggu (21/2).

Syamsir  menjelaskan, dari karakteristik kemiskinan di Sultra banyak di pedesaan, itu terjadi karena kemampuan pendapatan masyarakat di Desa jauh lebih rendah dibandingkan di Kota.

Kata dia, salah satu indikator untuk mengukur kemiskinan juga yaitu melihat nilai tukar petani (NTP). Di Desa mayoritas petani dan nelayan, dengan NTP yang menurun berdampak pada daya beli masyarakat menurun.

“Dimana uang yang didapat tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dia miskin,” ucapnya.

Dia menuturkan, dengan adanya pembatasan sosial menyebabkan pekerja harian mengalami pengurangan pendapatan.  Ada pengurangan kariawan, pekerja di Kota kembali ke Desa dan angka kemiskinan di Desa meningkat.

“NTP yang mencerminkan kesejahteraan petani dan nelayan cenderung lebih rendah, artinya nilai yang diperoleh sedikit dibandingkan dengan hasil produksi masyarakat sehingga tidak mampu mencukupi pengeluaran kebutuhannya,” ujar Syamsir.

Lanjutnya, di Sultra menjadi urutan ke tiga sebagai masyarakat berpenduduk miskin. Setelah Gorontalo dan Sulsel, secara nasional menjadi urutan ke 15 penduduk dengan persentase jumlah tertinggi tingkat kemiskinan.

“Untuk saat ini pemerintah perlu memaksimalkan bantuan sosial dalam program pemulihan ekonomi nasional sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat,” cetusnya.

Syamsir menambahkan, pemerintah menggerakkan sektor UMKM di Desa, pemerintah juga memastikan bahwa pendukung produktifitas petani harus terjamin.

“Bantuan subsidi juga harus tepat sasaran dan dikelola dengan baik. Diharapkan beberapa kegiatan pemerintah lebih fokus pada pemulihan ekonomi terutama ketahanan pangan dan pemulihan angka kemiskinan,” tutupnya. (cr4)

Facebook Comments