BI Larang Uang Rupiah Jadi Hiasan Mahar

72
Ilustrasi

Ada trend uang rupiah yang dijadikan mahar pernikahan. Bahkan untuk mendapatkan rakitan uang rupiah yang sudah dibentuk jadi mahar pernikahan banyak di aplikasi jual beli online. Padahal, Bank Indonesia menegaskan larangan menggunakan uang rupiah asli menjadi karya seni lipat atau hiasan yang indah untuk mahar pernikahan.

Laporan: Waty, Kendari

Modelnya pun bervariasi mulai dari uang rupiah kuno maupun uang rupiah baru, harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung model dan banyaknya uang yang dipakai. Misalnya, seperti melipat uang rupiah menjadi seekor burung.

Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengajak masyarakat agar bijak dalam memperlakukan dan menggunakan uang rupiah, baik itu uang logam maupun kertas.

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang Rupiah KPwBI Sultra Ahmadi Rahman mengungkapkan, dalam memperlakukan rupiah banyak hal yang harus diperhatikan, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Pada pasal 25 poin 1 menjelaskan bahwa setiap orang dilarang merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah Rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan Rupiah sebagai simbol negara.

Lanjutnya, pada poin 2 berbunyi, setiap orang dilarang membeli atau menjual Rupiah yang sudah dirusak, dipotong, dihancurkan, dan/atau diubah. Kemudian poin 3, setiap orang dilarang mengimpor atau mengekspor Rupiah yang sudah dirusak, dipotong, dihancurkan, dan/atau diubah.

“Jadi, bagi masyarakat yang memperlakukan uang Rupiah tidak sesuai dengan fungsinya dan justru merendahkan kehormatan rupiah, maka bakal diberi sanksi maksimal 5 tahun penjara, dan denda Rp1 miliar,” ungkapnya, Senin (8/2).

Diketahui, baru-baru ini sempat viral soal hiasan mahar yang berasal dari uang rupiah. Hal semacam ini sudah berlangsung cukup lama. Masyarakat membuat mahar beda dengan yang lain, dengan nilai mahar disampaikan melalui kerajinan membentuk uang sedemikian rupa berupa gambar dan motif tertentu.

“Saya menekankan bahwa uang rupiah bukan untuk hiasan, karena akan kehilangan fungsinya. Olehnya itu BI mengajak masyarakat agar bijak dalam memperlakukan uang rupiah sesuai dengan fungsinya,” ujar Ahmadi Rahman.

Pihaknya memperbolehkan sepanjang uang rupiah tersebut tidak dilem, tidak dirusak, digunting, dan dilipat. Karena, jika keempat ini dilakukan maka akan merusak mata uang tersebut, bahkan dikenakan sanksi.

“Makna uang rupiah yang sesungguhnya yaitu untuk alat transaksi pembayaran yang sah,” ucapnya.

BI terus meningkatkan edukasi pada masyarakat agar memperlakukan uang rupiah dengan bijak. Dirinya kembali mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan uang rupiah sebagai hiasan. (*)

Facebook Comments