Masyarakat Belum Sepenuhnya Paham Bahaya Covid-19

40
Ilustrasi

Angka masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terpapar coronavirus disease 2019 (Covid-19) belum juga menunjukkan tanda penurunan. Di era tatanan kenormalan baru, sebagian masyarakat mulai menganggap virus yang berasal dari Wuhan, Cina tersebut sudah mulai hilang. Padahal, di tengah kondisi terus meningkatnya kasus positif, jelas menunjukkan bahwa pandemi belum berakhir.

LAPORAN: AL QARATU AINI, KENDARI.

Seorang petugas loket di salah satu Rumah Sakit (RS) Kendari, Sari, menceritakan pengalamannya menghadapi pasien yang bahkan menyatakan tidak percaya dengan adanya Covid-19.

Pasien yang ditemui mengaku kesal saat itu tidak ada dokter yang bisa melayaninya dengan segera karena pengurangan jadwal dokter menyusul situasi pandemi Covid-19.

“Bapaknya mau ketemu dokter, tapi kita minta tunggu, sabar. Karena kita bilang lagi pandemi jadwal dokter banyak yang dikurangi. Tapi keburu marah, bilang tidak percaya Covid-19, tidak mau pakai masker. Akhirnya langsung pergi begitu aja,” kata Sari.

Sari menuturkan, RS tempatnya bekerja selalu memberlakukan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Berlaku untuk setiap orang yang berada di lingkup RS seperti petugas, perawat, dokter, maupun pasien yang berobat. Karena selain aturan, sebut dia, juga sebagai bentuk perlindungan terhadap diri sendiri.

“Kita juga di sini, lebih berhati-hati. Terkadang dapat pasien yang tidak menunjukkan gejala, tapi hasil rapid test dan swab-nya positif. Belum lagi, biasanya pasien UGD yang sering datang tidak memakai masker, nah kita minta langsung gunakan. Kita berikan masker jika tidak punya. Malah biasa ada juga yang maskernya tidak dipakai untuk menutupi hidung dan mulut, tetapi hanya digantung di leher, itu kita berikan edukasi,” ujarnya.

Sikap tidak taat protokol kesehatan bukan hanya dilakukan masyarakat menengah bawah yang tak paham bahaya Covid-19. Seorang aparatur sipil negara (ASN) di salah satu instansi pemerintah, paruh baya, Jamet (bukan nama sebenarnya) saat ditemui tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak. Ia mengaku, tidak percaya dengan adanya Covid-19.

Jamet mengatakan, ia memiliki masker tetapi hanya disimpannya di saku celana untuk berjaga-jaga jika ada razia pemeriksaan dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

“Tidak takut corona kita. Kalau kena yah sudah terkena dari dulu. Ini dari dulu begini (tidak memakai masker) ya tidak kenapa-kenapa juga,” katanya.

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sultra dr La Ode Rabiul Awal mengaku, memang dibutuhkan kolaborasi dalam menanggulangi dan mengatasi Covid-19. Setiap pihak, bahkan masyarakat sendiri, kata dokter yang akrab disapa Dokter Wayong ini, harus saling memberikan edukasi kepada masyarakat lain yang tidak paham bahaya Covid-19.

Dokter Wayong mengingatkan, bahwa status pandemi belum berakhir. Tatanan kenormalan baru diberlakukan hanya agar masyarakat tetap bisa produktif, pelayanan publik bisa berjalan, dunia usaha bisa bergerak, dan aktivitas sosial tetap berlangsung. Namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 yakni dengan senantiasa melakukan 3M.

“Tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang tinggi harus dimiliki oleh seluruh masyarakat Sultra. Kita juga akan semakin gencar dan agresif dalam melakukan sosialisasi edukasi pencegahan maupun deteksi dini kasus Covid-19 di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya. (*)

Facebook Comments