-IKLAN-

2 Petahana Diprediksi Tumbang

1.504
Ilustrasi

KENDARI, BKK- Sebanyak 7 daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Semua petahana ikut, bergabung dalam 18 pasangan calon yang terdaftar di komisi pemilihan umum (KPU).

Sejauh ini, hasil prediksi sementara beberapa survei menunjukkan 2 petahana yang kalah tipis hasil surveinya dari penantangnya.

Di antaranya Bupati Buton Utara (Butur) Abu Hasan yang berpasangan dengan Suhuzu, mantan Ketua KPU Butur.

Elektabilitasnya disebut-sebut lebih rendah dari rival terberatnya, Bupati Butur periode 2010-2015, Ridwan Zakariah yang berpasangan dengan Ahali.

Petahana kedua yang dianggap rawan adalah Bupati Kolaka Timur (Koltim) Tony Herbiansyah yang berpasangan dengan Baharuddin. Pamornya konon kalah cemerlang dari pasangan Samsul Bahri Madjid-Andi Merya Nur. Nama yang disebut belajangan adalah Wakil Bupati (Wabup) Koltim yang memutuskan “pisah” dengan Tony di pilkada kali ini.

Pengamat Politik Sultra, Dr Najib Husain menilai, prediksi awal tidak bisa sepenuhnya dipercayai, namun bisa menjadi patokan bagi pasangan calon (paslon) untuk lebih memaksimalkan pendekatannya dengan masyarakat untuk menarik simpati pemilih.

“Masih ada 2 tahapan yang menjadi krusial bagi paslon yang berlaga. Yang pertama debat kandidat atau debat publik. Kemudian, 1 bulan terakhir masa kampanye yang harus secara maksimal digunakan paslon untuk mengakar di masyarakat dan bisa menyampaikan program-program kerja mereka,” tutur Najib, saat ditemui Rabu (4/11) lalu.

Menurut dia, dalam kontestasi pilkada, masyarakat banyak dipengaruhi oleh pertimbangan figur, dibandingkan partai politik (parpol) apa yang berada di belakangnya.

“Sehingga, tidak ada hubungan signifikan antara kemenangan paslon dan partai pendukung. Pada umumnya, mesin-mesin politik itu tidak berjalan maksimal, sehingga yang lebih banyak yang bekerja di lapangan adalah mesin-mesin keluarga dan tim sukses paslon dibandingkan dengan mesin parpol,” tuturnya.

Debat paslon dan kampanye di menit-menit terakhir, kata Najib, adalah 2 bagian yang sangat penting dalam mempengaruhi suara-suara pemilih. Karena, sebut dia, pemilih yang saat ini bisa direbut paslon yakni pemilih yang belum menentukan pilihannya.

“Masih ada upaya dari para paslon yang ada untuk meyakinkan masyarakat agar mereka kemudian mau memilih calon yang bersangkutan. Jadi tetap ada peluang dalam 1 bulan terakhir ini,” ujarnya. (p5/iis)

Facebook Comments