Kendari Alami Penurunan Tekanan Inflasi Bulan Ini

22
Pemaparan materi evaluasi perkembangan inflasi Kota Kendari di Claro Kendari. (FOTO:WATY/BK

KENDARI, BKK – Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra) menyebut, Kota Kendari mengalami penurunan tekanan inflasi sebesar 0,25% pada September 2020, dibanding periode sebelumnya.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan BI Sultra Surya Alamsyah mengungkapkan, penurunan tekanan inflasi disebabkan oleh penurunan inflasi Kota Kendari sebesar 0,21% atau andil terhadap inflasi Sulawesi Tenggara 0,19%.

“Meskipun demikian, kondisi tersebut masih di atas capaian inflasi Sulawesi dan Nasional,” ujarnya saat ditemui di Hotel Claro Kendari, Senin (14/9).

Surya mengungkapkan, sektor penyumbang inflasi di Kendari, emas perhiasan, perguruan tinggi atau akademi, jeruk nipis, daun lapor, jagung muda, bayam, cabai rawit, ikan cakalang, pasta gigi dan tissu.

Sementara itu, kata dia, penyumbang sektor deflasi di Kendari yaitu, bawang merah, ikan teri, ikan kembung, ikan layang, gula pasir, mobil, rokok putih, laptop, shampo dan bawang putih.

Surya menuturkan, faktor pendorong dan tantangan pengendalian inflasi antara lain, komoditas utama penyumbang inflasi memiliki tingkat resistensi inflasi yang tinggi, disparitas harga komoditas pangan di Kendari relatif tinggi.

“Rantai perdagangan yang relatif panjang dan belum sepenuhnya efisien dan masih adanya kendala pada proses distribusi bahan pangan,” ungkapnya.

Pihaknya menawarkan berbagai program untuk terus meningkatkan strategi pengendalian inflasi, seperti ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

“Penguatan aspek tersebut dilakukan melalui kerjasama antar daerah, digital farming, dan pemutakhiran pencatatan data,” ujar Surya.

Ditambahkan, sepanjang 2020, harga komoditas di Kendari memiliki perbedaan yang cukup signifikan baik secara spasial maupun harga produsen dengan konsumen terutama komoditas daging ayam, bawang merah, cabai rawit dan cabai merah.

“Keterbatasan pasokan dan panjang rantai distribusi menjadi salah satu penyebab disparitas harga tersebut. Namun meskipun demikian, upaya pengendalian inflasi ikan segar dapat didukung melalui kerjasama antar Kota Kendari dan Kota Baubau,” tutupnya. (m4/man)

Facebook Comments