New Normal, Pemprov Tetap Tutup Tempat Wisata

121
Ilustrasi

Sejak ditutupnya tempat wisata di Sulawesi Tenggara (Sultra) oleh Gubernur Ali Mazi pada maret lalu, hingga masuk kebijakan new normal (kenormalan baru) saat ini pemerintah provinsi belum mencabut kebijakannya itu, begitupun juga daerah zona putih atau nol Covid-19.

Laporan: Faysal Ahmad, Kendari.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sultra  I Gede Panca mengatakan,  itu karena masih menunggu peralatan penerapan protokol kesehatan di setaip destinasi wisata.

“Jadi, sejauh ini belum ada pembukaan tempat wisata secara resmi. Begitupun zona putih, karena belum ada surat permohonan ke kita maupun ke gugus tugas Covid-19 Sultra,” jelasnya, Senin (6/7), saat diwawancarai melalui sambungan telepon.

Dikatakan, pihaknya tengah mempersiapkan penerapan protokol kesehatan di destinasi wisata. Lebih lanjut, Panca meminta masyarakat agar jangan ke tempat wisata dulu dikarenakan belum ada pembukaan secara resmi.

“Diharapkan masyarakat di rumah saja dulu. Kalau mau lihat destinasi wisata lewat virtual saja,” katanya.

Sebelumnya, ujar Panca, pihaknya menyosialisasikan sadar wisata kepada kelompok sadar wisata dan sapta pesona di Kota Kendari dan sekitarnya. Kegiatan tersebut dilaksanakan bagaimana mengelola desa wisata di era new normal agar tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Intinya, bagaimana kita nanti para pengelola desa wisata atau sadar wisata ini mengelola desa wisata sudah menerapkan protokol kesehatan,” bebernya.

Panca menambahkan, peserta yang hadir dalam sosialisasi tersebut adalah pelaku destinasi wisata mulai dari Bokori, Toronipa, Bintang Samudra, Taipa, dan beberapa pelaku wisata lainnya.

“Ada 40 pelaku wisata di Kota Kendari dan sekitarnya yang ikut dalam sosialisasi tersebut,” bebernya.

Masih kata dia, para pelaku wisata juga sudah disampaikan agar menerapkan protokol kesehatan, sehingga saat objek wisata beroperasi sudah ada pengumuman resmi dan fasilitas protokol kesehatan.

“Artinya, pintu masuk dan keluar harus satu pintu. Diadakan pengecekan suhu tubuh dan sterilisasi. Kemudian setiap destinasi harus ada fasilitas cuci tangan dengan air yang mengalir, dan wisatawan diwajibkan memakai masker, jaga jarak, dan jangan sampai ada pengumpulan massa,” paparnya.

Ia menambahkan, pelaku wisata wajib bekerja sama dengan TNI-Polri, untuk menjamin social distancing dan physical distancing di destinasi wisata.

“Untuk itu saat ini sambil melaksanakan sosialisasi juga dilakukan penyiapan fasilitas wisata, untuk mencegah penyebaran Covid-19 ketika buka nanti. Wisatawan yang tidak lewat satu pintu akan dihalau TNI-Polri,” sebutnya.

Selain itu, kata Panca, akibat pandemi wabah Covid-19, pendapatan asli daerah (PAD) Sultra lumpuh khususnya di bidang pariwisata, akibatnya pihaknya mengalami banyak kerugian di bidang pariwisata.

“Semua destinasi pariwisata di seluruh Sultra kan ditutup, otomatis tidak ada PAD dari pariwisata. Kondisi ini terjadi sejak pertengahan Maret sampai April ini,” ujarnya.

Dia mengaku, pihaknya belum bisa menaksirkan jumlah kerugian di bidang pariwisata akibat Covid-19 ini, karena pihaknya belum melakukan perhitungan secara pasti.

“Tapi, misalnya saja Pantai Bokori. Sebelumnya, PAD yang dihasilkan itu sebesar Rp40 juta per bulan, dan setiap tahun target PAD-nya itu sebesar Rp500 juta,” jelasnya.

Dia berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir, agar bisa lagi membangun sektor pariwisata.

Diketahui, terdapat 1.114 objek wisata yang tersebar di 17 kabupaten/kota di Sultra. Adapun objek wisata tersebut terdiri dari 110 spot drive, 197 pantai, 58 air terjun, 108 benteng, 47 gua, 11 air panas alam, 41 danau atau permandian alam, 3 kawasan karst, 8 titik labuh yacht, 3 lokasi cruise, 3 lokasi arung jeram,18 wisata puncak atau pegunungan, 22 kawasan mangrove.

“Dengan sebaran wisata yakni kabupaten Wakatobi sebanyak 18,88%, Kendari 26,40%, Pulau Buton 22,38%, Pulau Muna 24,30%, dan Kolaka 8,04%,” tuntasnya. (*)

Facebook Comments